Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana input, proses dan output pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya.
Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti : teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
1. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
2. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
10. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu yakni adanya obyek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa, karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.
Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikologi terbagi ke dalam dua bagian yaitu psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, diantaranya :
* Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan mulai dari masa konsepsi sampai dengan akhir hayat.
* Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu khusus dilihat dari aspek – aspek kepribadiannya.
* Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis)
* Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.
* Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.
* Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan
Disamping jenis – jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya, bahkan sangat mungkin ke depannya akan semakin terus berkembang, sejalan dengan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.
Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu karena didalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu, yakni :
* Ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan, seperti peserta didik, pendidik, administrator, orang tua peserta didik dan masyarakat pendidikan.
* Epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil – dalil psikologi pendidikan dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun studi cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun pendekatan kuantitatif.
* Aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.
Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan yang di dalamnya melibatkan banyak orang, diantaranya peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orang tua peserta didik. Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya,–terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya–, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6, Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.
manusia sempurna tidak lain mereka yang memiliki Ilmu dan mengamalkannya
Jumat, 15 Oktober 2010
silabus Psikologi Agama
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah : 50FP02
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Mahasiswa dapat memiliki sudut pandang Sejarah Psikologi Agama
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Sejarah Psikologi Agama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Psikologi agama adalah bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Materi Ajar :
DEFINISI DAN SEJARAH PSIKOLOGI AGAMA: Early period (1899-1930), Middle Period (1930-1950), Contemporary Period (> 1950)
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Mahasiswa dapat memiliki sudut pandang Sejarah Psikologi Agama
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Sejarah Psikologi Agama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Psikologi agama adalah bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Definisi Dan Sejarah Psikologi Agama: Early period (1899-1930), Middle Period (1930-1950), Contemporary Period (> 1950)
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS
Mahasiswa dapat membandingkan setiap Dimensi Komitmen Religius
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Dimensi Komitmen Religius
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama memiliki beberapa dimensi yang menjadi kerkaitan satu dengan yang lainnya.
Materi Ajar :
DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS – (Glock & Stark)
Ideological Dimension, Intellectual Dimension, Experiential Dimension (Conforming type, Responsive type, Ecstatic type, Revelational type), Ritualistic Dimension, Consequencial Dimensional.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS
Mahasiswa dapat membandingkan setiap Dimensi Komitmen Religius
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Dimensi Komitmen Religius
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama memiliki beberapa dimensi yang menjadi kerkaitan satu dengan yang lainnya.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Dimensi-Dimensi Komitmen Religius – (Glock & Stark)
Ideological Dimension, Intellectual Dimension, Experiential Dimension (Conforming type, Responsive type, Ecstatic type, Revelational type), Ritualistic Dimension, Consequencial Dimensional.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KONVERSI AGAMA
Mahasiswa dapat membandingkan Macam dan Tahapannya
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui proses KONVERSI AGAMA
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama dalam konteks konversi agama dengan macam dan tahapannya.
Materi Ajar :
KONVERSI AGAMA: Macamnya (Self-Surrender Type (Spontaneous-Sudden), Volitional (Step by Step-Gradual), Religious Socialization. Tahap-tahapnya: Masa Tenang, Masa Krisis, Masa Konversi, Masa Tenang Baru, Masa Espresi Konversi.
Ciri-Ciri Dalam (inner traits) dari saintliness, Ciri-Ciri Luar (outer manifestations) dari Saintliness:
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KONVERSI AGAMA
Mahasiswa dapat membandingkan Macam dan Tahapannya
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui proses KONVERSI AGAMA
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama dalam konteks konversi agama dengan macam dan tahapannya.
Materi Ajar :
LNJUTAN. Konversi Agama: Macamnya (Self-Surrender Type (Spontaneous-Sudden), Volitional (Step by Step-Gradual), Religious Socialization. Tahap-tahapnya: Masa Tenang, Masa Krisis, Masa Konversi, Masa Tenang Baru, Masa Espresi Konversi.
Ciri-Ciri Dalam (inner traits) dari saintliness, Ciri-Ciri Luar (outer manifestations) dari Saintliness:
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui konsep-konsep kebutuhan akan agama/tuhan.
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks kebutuhan akan agama/tuhan.
Materi Ajar :
TEORI TENTANG TIMBULNYA KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN: The Four Wishes Theory dari Thomas (Security, Recognition, Response, New Experience); Teori Konflik dari Stratton; Teori Clark (Gabungan dari Stratton dan Freud); Teori The Sixth sense dari Rudolf Otto: Numinous Experience; Pandangan Islam.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui konsep-konsep kebutuhan akan agama/tuhan.
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks kebutuhan akan agama/tuhan.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Teori Tentang Timbulnya Kebutuhan Akan Agama/Tuhan: The Four Wishes Theory dari Thomas (Security, Recognition, Response, New Experience); Teori Konflik dari Stratton; Teori Clark (Gabungan dari Stratton dan Freud); Teori The Sixth sense dari Rudolf Otto: Numinous Experience; Pandangan Islam.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam melalui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Materi Ajar :
CIRI-CIRI DAN TAHAP PERKEMBANGAN RELIGIUS PADA ANAK: Menurut MacLean (Ideas accepted on authority, Anthropomorphic, Imitative, Egocentric, Verbalized & Ritualistic, Unreflective, Spontaneous in Some Respects, Wondering); Perkembangan religius menurut Ernest Harms (The Firy-Tale Stage (3-6 th), The Realistic stage (7-12 th), The Individual stage (13-18 th))
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam melalui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Materi Ajar :
LANJUTAN. Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak: Menurut MacLean (Ideas accepted on authority, Anthropomorphic, Imitative, Egocentric, Verbalized & Ritualistic, Unreflective, Spontaneous in Some Respects, Wondering); Perkembangan religius menurut Ernest Harms (The Firy-Tale Stage (3-6 th), The Realistic stage (7-12 th), The Individual stage (13-18 th))
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri Agama Pada Remaja
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Ciri Agama Pada Remaja
Materi Ajar :
CIRI AGAMA PADA REMAJA : Ditandai dengan Conflicts and Doubts.
Banyak terjadi Konversi Agama : Ikuti orang tua, Ikuti baru menentang orang tua, Mencari sumber yang lebih Autentif apresiasi yang baru dan apresisi orang tua, Sex Instincs dan Herd Instincts (Lenba).
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Perkembangan Religius Pada Masa Dewasa
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Perkembangan Religius Pada Masa Dewasa
Materi Ajar :
PERKEMBANGAN RELIGIUS PADA MASA DEWASA. Oser dan Gmuender: hadapi paradoks kehidupan (Anak-anak : Either …. or …….., Remaja : Neither…… Nor ……, Dewasa : Both…….. and ………), Kahoe dan Meadow: Extrinsic ke Intrinsic, Observance ke Autonomy.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Perkembangan Religius Sepanjang Hidup
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Perkembangan Religius Sepanjang Hidup
Materi Ajar :
PERKEMBANGAN RELIGIUS SEPANJANG HIDUP (James Fowler): Undifferentiated Faith, Intuitive-Projective Faith, Mythic-Literal Faith, Synthetic-Conventional Faith, Individuative-Reflective Faith, Conjuntive Faith, Universalizing Faith.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Kematangan Beragama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Ciri-Ciri Kematangan Beragama
Materi Ajar :
CIRI-CIRI KEMATANGAN BERAGAMA (Religius Maturity). Gordon W. Allport: Well-Differentiated or Self Critical, A Motivational Force of Its Own, The Consistency of Its Moral Consequences, Its Comprehensiveness as a Philosophy of Life, Integral, Heuristic in Nature.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah : 50FP02
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Mahasiswa dapat memiliki sudut pandang Sejarah Psikologi Agama
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Sejarah Psikologi Agama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Psikologi agama adalah bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Materi Ajar :
DEFINISI DAN SEJARAH PSIKOLOGI AGAMA: Early period (1899-1930), Middle Period (1930-1950), Contemporary Period (> 1950)
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Mahasiswa dapat memiliki sudut pandang Sejarah Psikologi Agama
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Sejarah Psikologi Agama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Psikologi agama adalah bidang psikologi yang mempelajari Perilaku Beragama (Religius Behaviour) pada manusia.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Definisi Dan Sejarah Psikologi Agama: Early period (1899-1930), Middle Period (1930-1950), Contemporary Period (> 1950)
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS
Mahasiswa dapat membandingkan setiap Dimensi Komitmen Religius
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Dimensi Komitmen Religius
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama memiliki beberapa dimensi yang menjadi kerkaitan satu dengan yang lainnya.
Materi Ajar :
DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS – (Glock & Stark)
Ideological Dimension, Intellectual Dimension, Experiential Dimension (Conforming type, Responsive type, Ecstatic type, Revelational type), Ritualistic Dimension, Consequencial Dimensional.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami DIMENSI-DIMENSI KOMITMEN RELIGIUS
Mahasiswa dapat membandingkan setiap Dimensi Komitmen Religius
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui Dimensi Komitmen Religius
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama memiliki beberapa dimensi yang menjadi kerkaitan satu dengan yang lainnya.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Dimensi-Dimensi Komitmen Religius – (Glock & Stark)
Ideological Dimension, Intellectual Dimension, Experiential Dimension (Conforming type, Responsive type, Ecstatic type, Revelational type), Ritualistic Dimension, Consequencial Dimensional.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KONVERSI AGAMA
Mahasiswa dapat membandingkan Macam dan Tahapannya
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui proses KONVERSI AGAMA
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama dalam konteks konversi agama dengan macam dan tahapannya.
Materi Ajar :
KONVERSI AGAMA: Macamnya (Self-Surrender Type (Spontaneous-Sudden), Volitional (Step by Step-Gradual), Religious Socialization. Tahap-tahapnya: Masa Tenang, Masa Krisis, Masa Konversi, Masa Tenang Baru, Masa Espresi Konversi.
Ciri-Ciri Dalam (inner traits) dari saintliness, Ciri-Ciri Luar (outer manifestations) dari Saintliness:
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KONVERSI AGAMA
Mahasiswa dapat membandingkan Macam dan Tahapannya
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui proses KONVERSI AGAMA
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat Perilaku beragama dalam konteks konversi agama dengan macam dan tahapannya.
Materi Ajar :
LNJUTAN. Konversi Agama: Macamnya (Self-Surrender Type (Spontaneous-Sudden), Volitional (Step by Step-Gradual), Religious Socialization. Tahap-tahapnya: Masa Tenang, Masa Krisis, Masa Konversi, Masa Tenang Baru, Masa Espresi Konversi.
Ciri-Ciri Dalam (inner traits) dari saintliness, Ciri-Ciri Luar (outer manifestations) dari Saintliness:
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui konsep-konsep kebutuhan akan agama/tuhan.
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks kebutuhan akan agama/tuhan.
Materi Ajar :
TEORI TENTANG TIMBULNYA KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN: The Four Wishes Theory dari Thomas (Security, Recognition, Response, New Experience); Teori Konflik dari Stratton; Teori Clark (Gabungan dari Stratton dan Freud); Teori The Sixth sense dari Rudolf Otto: Numinous Experience; Pandangan Islam.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Mahasiswa dapat memahami KEBUTUHAN AKAN AGAMA/TUHAN
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa dapat mengetahui konsep-konsep kebutuhan akan agama/tuhan.
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks kebutuhan akan agama/tuhan.
Materi Ajar :
LANJUTAN. Teori Tentang Timbulnya Kebutuhan Akan Agama/Tuhan: The Four Wishes Theory dari Thomas (Security, Recognition, Response, New Experience); Teori Konflik dari Stratton; Teori Clark (Gabungan dari Stratton dan Freud); Teori The Sixth sense dari Rudolf Otto: Numinous Experience; Pandangan Islam.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam melalui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Materi Ajar :
CIRI-CIRI DAN TAHAP PERKEMBANGAN RELIGIUS PADA ANAK: Menurut MacLean (Ideas accepted on authority, Anthropomorphic, Imitative, Egocentric, Verbalized & Ritualistic, Unreflective, Spontaneous in Some Respects, Wondering); Perkembangan religius menurut Ernest Harms (The Firy-Tale Stage (3-6 th), The Realistic stage (7-12 th), The Individual stage (13-18 th))
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam melalui Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak
Materi Ajar :
LANJUTAN. Ciri-Ciri Dan Tahap Perkembangan Religius Pada Anak: Menurut MacLean (Ideas accepted on authority, Anthropomorphic, Imitative, Egocentric, Verbalized & Ritualistic, Unreflective, Spontaneous in Some Respects, Wondering); Perkembangan religius menurut Ernest Harms (The Firy-Tale Stage (3-6 th), The Realistic stage (7-12 th), The Individual stage (13-18 th))
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri Agama Pada Remaja
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Ciri Agama Pada Remaja
Materi Ajar :
CIRI AGAMA PADA REMAJA : Ditandai dengan Conflicts and Doubts.
Banyak terjadi Konversi Agama : Ikuti orang tua, Ikuti baru menentang orang tua, Mencari sumber yang lebih Autentif apresiasi yang baru dan apresisi orang tua, Sex Instincs dan Herd Instincts (Lenba).
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Perkembangan Religius Pada Masa Dewasa
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Perkembangan Religius Pada Masa Dewasa
Materi Ajar :
PERKEMBANGAN RELIGIUS PADA MASA DEWASA. Oser dan Gmuender: hadapi paradoks kehidupan (Anak-anak : Either …. or …….., Remaja : Neither…… Nor ……, Dewasa : Both…….. and ………), Kahoe dan Meadow: Extrinsic ke Intrinsic, Observance ke Autonomy.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Perkembangan Religius Sepanjang Hidup
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Perkembangan Religius Sepanjang Hidup
Materi Ajar :
PERKEMBANGAN RELIGIUS SEPANJANG HIDUP (James Fowler): Undifferentiated Faith, Intuitive-Projective Faith, Mythic-Literal Faith, Synthetic-Conventional Faith, Individuative-Reflective Faith, Conjuntive Faith, Universalizing Faith.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
Nama Dosen : Ahmad Hapidin
Program Studi : Psikologi S1
Kode Mata Kuliah :
Nama Mata Kuliah : PSIKOLOGI AGAMA
Jumlah SKS : Dua
Kelas/Semester :
Alokasi Waktu : 150 menit
Standar Kompetensi :
Mahasiswa memahami perilaku religius, dimensi-dimensinya, fenomena-fenomenanya dan perkembangannya dari anak-anak, remaja, sampai dewasa, dan tentang kematangan religius.
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa Dapat Mengetahui Ciri-Ciri Kematangan Beragama
Indikator :
Mahasiswa mampu melihat perilaku beragama dalam konteks Ciri-Ciri Kematangan Beragama
Materi Ajar :
CIRI-CIRI KEMATANGAN BERAGAMA (Religius Maturity). Gordon W. Allport: Well-Differentiated or Self Critical, A Motivational Force of Its Own, The Consistency of Its Moral Consequences, Its Comprehensiveness as a Philosophy of Life, Integral, Heuristic in Nature.
Metode/Strategi Pembelajaran :
Ceramah dan Diskusi (every student is a teacher)
Tahap Pembelajaran :
Kegiatan Awal :
Dosen membuka perkuliahan dan menjelaskan topik kuliah minggu ini..
Kegiatan Inti :
Dosen berdiskusi dengan mahasiswa tentang topik kuliah.
Kegiatan Akhir :
Mahasiswa memberikan feedback perkuliahan dan dosen menyimpulkan apa yang sudah dilakukan bersama-sama.
Alat/Bahan/Sumber Balajar :
A. Alat/Media : OHP, LCD, Laptop
B. Bahan/Sumber Belajar :
Byrnes, Joseph F. 1984. “The Psychology of Religion”. The Free Press, New York.
Clark, Walter Houston. 1958. “The Psychology of Religion”. The MacMilan Company, New York.
Paloutzian, Raymond F. 1996. “Invitation to the Psychology of Religion.” Allyn and Bacon, Boston
Berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan.
Penilaian :
Teknik dan instrument penilaian :
Keaktifan dan sumbangan materi dalam diskusi (dinilai)
Kriteria Penilaian :
Pertemuan ini melibatkan nilai kehadiran dan keaktifan mahasiswa..
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
BAB I
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Psikologi Agama
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
B. Objek Kajian Psikologi Agama
Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala- gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduannya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologia agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat- akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
C. Metode Penelitian Psikologi Agama
Diantara metode yang digunakan dalam mengkaji psikologi agama adalah :
1. Dokumen Pribadi
Metode ini digunakan untuk mempelajari bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk mengetahui informasi tentang hal ini maka dikumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut dapat berupa autobiorafi, biografi atau catatan- catatan yang dibuatnya.
Metode dokumentasi tersebut dalam penerapannya dapat digunakan beberapa teknik, antara lain:
a. Teknik Nomotatik
Pendekatan ini antara lain digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu. Sementara dalam psikologi agama, teknik nomotik ini antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan.
b. Teknik Analisis Nilai (value analysis)
Teknik ini digunakan dalam kaitannya dengan statistik. Data- data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.
c. Teknik Ideography
Teknik ini hampir sama dengan teknik nomotatik, yaitu pendekatan guna memahami sifat dasar manusia. Bedanya, teknik ini lebih menekankan antara sifat- sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek- aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing- masing individu dalam rangka memahami seseorang.
d. Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.
2. Angket dan Wawancara
Metode angket dan wawancara digunakan untuk meneliti proses jiwa beragama pada orang yang masih hidup. Metode ini misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui prosentase tentang apa yang diyakini orang pada umumnya tentang sikap beragama, ketekunan beragama dan sebagainya
a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (public opinion polls)
Cara yang dilakukan melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai
b. Skala Penilaian (ratting scale)
Metode ini antara lain digunakan untuk memperoleh data tentang faktor- faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c. Tes
Metode tes digunakan untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu
d. Eksperimen
Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi, yaitu dengan mempelajari sifat- sifat manusiawi orang perorang atau kelompok
f. Pendekatan terhadap Perkembangan
Pendekatan ini digunakan guna meneliti asal- usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianut.
g. Metode Klinis dan Proyektivitas
Metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama.
h. Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus- kasus tertentu.
i. Survei
Metode ini biasanya digunakan untuk penelitian sosial yang bertujuan untuk penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A. Psilkologi Agama Dalam Lintasan Sejarah
Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya, orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa.
Contoh lain adalah proses pencarian Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Dalam kisah tersebut dilukiskan bagaimana proses konversi terjadi. Dalam kitab- kitab suci lain pun kita dapati proses dan peristiwa keagamaan, seperti yang terjadi dalam diri tokoh agama Budha, Sidharta Gautama atau dalam agama Shinto yang memitoskan kaisar jepang sebagai keturunan matahari yang membuat penganutnya sedemikian mendalam ketaatannya kepada kaisar, sehinga mereka rela mengorbankan nyawanya dalam Perang Dunia II demi kaisar.
B. Pendekatan Ilmiah Dalam Psikologi Agama
Dalam perkembangannya, psikologi agama tidak hanya mengkaji kehidupan secara umum tapi juga masalah- masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B. Pratt dalam bukunya the Religious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikan yang tak terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta- fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
C. Kajian Psikologi Agama Di Kawasan Timur
Dalam Dunia Timur tidak mau ketinggalan. Abdul Mun’in Abdul Aziz al Malighy misalnya, juga menulis kajian perkembangan jiwa beragama pada anak- anak dan remaja. Sementara didaratan anak benua Asia dan India juga terbit buku- buku yang berkaitan dengan psikologi agama. Jalaluddin menyebut judul buku berikut pengarangnya antara lain: The Song of God: Baghavad Gita.
Sedang di Indonesia, sekitar tahun 1970-an tulisan tentang psikologi agama baru muncul. Karya yang patut dikedepankan adalah: Ilmu Jiwa Agama oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Agama dan Kesehatan Jiwa oleh prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh S.S. Djami’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister, Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari dan sebagainya. Dalam buku yang disebut terakhir misalnya, meskipun yang menjadi pembahasan mengenai kedokteran jiwa, akan tetapi membahas pula aspek- aspek agama atau spiritual dalam kaitannya dengan jiwa seseorang.
Bab III
SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN
A. Fitrah Sebagai Potensi Beragama
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci.
Berdasarkan Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Jelaslah, secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan pengakuan terhadap tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
B. Pengertian Fitrah
Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu:
1. Fitrah berarti suci
Menurut Al Auza’i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apa pun ia dilahirkan.
2. Fitrah berarti Islam
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi:
Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang allah menceritakan kepadaku dalam kitabNya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang- orang muslim”.
Berangkat dari pemahaman hadits tersebut diatas, maka anak kecil yang meninggal ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkan dengan din al islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
3. Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (Tauhid)
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esakan tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia.
4. Fitrah dalam arti murni (Al Ikhlas)
Manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan pada hadits nabi saw: “Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dariNya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan”.
5. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran
6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Sebagaimana firman Allah surat yasin ayat 22:
“Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”
7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya.
Manusia lahir dengan ketetapannya, apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat.
8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia
Manusia lahir dengan membawa tabi’at (perwatakan) yang berbeda- beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma’rifatullah. Sebelum usia baligh, anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir, karena wujud fitrah terdapat dalam qalb yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.
9. Fitrah dalam arti Insting (Gharizah) dan wahyu dari Allah (Al Munazalah)
Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam:
a. Fitrah Al Munazalah
Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al qur’an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah Al Gharizahah
b. Fitrah Al Gharizah
Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
Bab IV
AGAMA PADA MASA ANAK
A. Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
B. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
C. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Psikologi Agama
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
B. Objek Kajian Psikologi Agama
Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala- gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduannya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologia agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat- akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
C. Metode Penelitian Psikologi Agama
Diantara metode yang digunakan dalam mengkaji psikologi agama adalah :
1. Dokumen Pribadi
Metode ini digunakan untuk mempelajari bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk mengetahui informasi tentang hal ini maka dikumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut dapat berupa autobiorafi, biografi atau catatan- catatan yang dibuatnya.
Metode dokumentasi tersebut dalam penerapannya dapat digunakan beberapa teknik, antara lain:
a. Teknik Nomotatik
Pendekatan ini antara lain digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu. Sementara dalam psikologi agama, teknik nomotik ini antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan.
b. Teknik Analisis Nilai (value analysis)
Teknik ini digunakan dalam kaitannya dengan statistik. Data- data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.
c. Teknik Ideography
Teknik ini hampir sama dengan teknik nomotatik, yaitu pendekatan guna memahami sifat dasar manusia. Bedanya, teknik ini lebih menekankan antara sifat- sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek- aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing- masing individu dalam rangka memahami seseorang.
d. Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.
2. Angket dan Wawancara
Metode angket dan wawancara digunakan untuk meneliti proses jiwa beragama pada orang yang masih hidup. Metode ini misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui prosentase tentang apa yang diyakini orang pada umumnya tentang sikap beragama, ketekunan beragama dan sebagainya
a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (public opinion polls)
Cara yang dilakukan melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai
b. Skala Penilaian (ratting scale)
Metode ini antara lain digunakan untuk memperoleh data tentang faktor- faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c. Tes
Metode tes digunakan untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu
d. Eksperimen
Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi, yaitu dengan mempelajari sifat- sifat manusiawi orang perorang atau kelompok
f. Pendekatan terhadap Perkembangan
Pendekatan ini digunakan guna meneliti asal- usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianut.
g. Metode Klinis dan Proyektivitas
Metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama.
h. Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus- kasus tertentu.
i. Survei
Metode ini biasanya digunakan untuk penelitian sosial yang bertujuan untuk penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A. Psilkologi Agama Dalam Lintasan Sejarah
Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya, orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa.
Contoh lain adalah proses pencarian Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Dalam kisah tersebut dilukiskan bagaimana proses konversi terjadi. Dalam kitab- kitab suci lain pun kita dapati proses dan peristiwa keagamaan, seperti yang terjadi dalam diri tokoh agama Budha, Sidharta Gautama atau dalam agama Shinto yang memitoskan kaisar jepang sebagai keturunan matahari yang membuat penganutnya sedemikian mendalam ketaatannya kepada kaisar, sehinga mereka rela mengorbankan nyawanya dalam Perang Dunia II demi kaisar.
B. Pendekatan Ilmiah Dalam Psikologi Agama
Dalam perkembangannya, psikologi agama tidak hanya mengkaji kehidupan secara umum tapi juga masalah- masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B. Pratt dalam bukunya the Religious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikan yang tak terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta- fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
C. Kajian Psikologi Agama Di Kawasan Timur
Dalam Dunia Timur tidak mau ketinggalan. Abdul Mun’in Abdul Aziz al Malighy misalnya, juga menulis kajian perkembangan jiwa beragama pada anak- anak dan remaja. Sementara didaratan anak benua Asia dan India juga terbit buku- buku yang berkaitan dengan psikologi agama. Jalaluddin menyebut judul buku berikut pengarangnya antara lain: The Song of God: Baghavad Gita.
Sedang di Indonesia, sekitar tahun 1970-an tulisan tentang psikologi agama baru muncul. Karya yang patut dikedepankan adalah: Ilmu Jiwa Agama oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Agama dan Kesehatan Jiwa oleh prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh S.S. Djami’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister, Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari dan sebagainya. Dalam buku yang disebut terakhir misalnya, meskipun yang menjadi pembahasan mengenai kedokteran jiwa, akan tetapi membahas pula aspek- aspek agama atau spiritual dalam kaitannya dengan jiwa seseorang.
Bab III
SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN
A. Fitrah Sebagai Potensi Beragama
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci.
Berdasarkan Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Jelaslah, secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan pengakuan terhadap tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
B. Pengertian Fitrah
Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu:
1. Fitrah berarti suci
Menurut Al Auza’i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apa pun ia dilahirkan.
2. Fitrah berarti Islam
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi:
Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang allah menceritakan kepadaku dalam kitabNya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang- orang muslim”.
Berangkat dari pemahaman hadits tersebut diatas, maka anak kecil yang meninggal ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkan dengan din al islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
3. Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (Tauhid)
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esakan tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia.
4. Fitrah dalam arti murni (Al Ikhlas)
Manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan pada hadits nabi saw: “Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dariNya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan”.
5. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran
6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Sebagaimana firman Allah surat yasin ayat 22:
“Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”
7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya.
Manusia lahir dengan ketetapannya, apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat.
8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia
Manusia lahir dengan membawa tabi’at (perwatakan) yang berbeda- beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma’rifatullah. Sebelum usia baligh, anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir, karena wujud fitrah terdapat dalam qalb yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.
9. Fitrah dalam arti Insting (Gharizah) dan wahyu dari Allah (Al Munazalah)
Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam:
a. Fitrah Al Munazalah
Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al qur’an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah Al Gharizahah
b. Fitrah Al Gharizah
Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
Bab IV
AGAMA PADA MASA ANAK
A. Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
B. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
C. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
BAB I
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Psikologi Agama
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
B. Objek Kajian Psikologi Agama
Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala- gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduannya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologia agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat- akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
C. Metode Penelitian Psikologi Agama
Diantara metode yang digunakan dalam mengkaji psikologi agama adalah :
1. Dokumen Pribadi
Metode ini digunakan untuk mempelajari bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk mengetahui informasi tentang hal ini maka dikumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut dapat berupa autobiorafi, biografi atau catatan- catatan yang dibuatnya.
Metode dokumentasi tersebut dalam penerapannya dapat digunakan beberapa teknik, antara lain:
a. Teknik Nomotatik
Pendekatan ini antara lain digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu. Sementara dalam psikologi agama, teknik nomotik ini antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan.
b. Teknik Analisis Nilai (value analysis)
Teknik ini digunakan dalam kaitannya dengan statistik. Data- data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.
c. Teknik Ideography
Teknik ini hampir sama dengan teknik nomotatik, yaitu pendekatan guna memahami sifat dasar manusia. Bedanya, teknik ini lebih menekankan antara sifat- sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek- aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing- masing individu dalam rangka memahami seseorang.
d. Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.
2. Angket dan Wawancara
Metode angket dan wawancara digunakan untuk meneliti proses jiwa beragama pada orang yang masih hidup. Metode ini misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui prosentase tentang apa yang diyakini orang pada umumnya tentang sikap beragama, ketekunan beragama dan sebagainya
a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (public opinion polls)
Cara yang dilakukan melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai
b. Skala Penilaian (ratting scale)
Metode ini antara lain digunakan untuk memperoleh data tentang faktor- faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c. Tes
Metode tes digunakan untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu
d. Eksperimen
Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi, yaitu dengan mempelajari sifat- sifat manusiawi orang perorang atau kelompok
f. Pendekatan terhadap Perkembangan
Pendekatan ini digunakan guna meneliti asal- usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianut.
g. Metode Klinis dan Proyektivitas
Metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama.
h. Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus- kasus tertentu.
i. Survei
Metode ini biasanya digunakan untuk penelitian sosial yang bertujuan untuk penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A. Psilkologi Agama Dalam Lintasan Sejarah
Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya, orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa.
Contoh lain adalah proses pencarian Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Dalam kisah tersebut dilukiskan bagaimana proses konversi terjadi. Dalam kitab- kitab suci lain pun kita dapati proses dan peristiwa keagamaan, seperti yang terjadi dalam diri tokoh agama Budha, Sidharta Gautama atau dalam agama Shinto yang memitoskan kaisar jepang sebagai keturunan matahari yang membuat penganutnya sedemikian mendalam ketaatannya kepada kaisar, sehinga mereka rela mengorbankan nyawanya dalam Perang Dunia II demi kaisar.
B. Pendekatan Ilmiah Dalam Psikologi Agama
Dalam perkembangannya, psikologi agama tidak hanya mengkaji kehidupan secara umum tapi juga masalah- masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B. Pratt dalam bukunya the Religious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikan yang tak terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta- fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
C. Kajian Psikologi Agama Di Kawasan Timur
Dalam Dunia Timur tidak mau ketinggalan. Abdul Mun’in Abdul Aziz al Malighy misalnya, juga menulis kajian perkembangan jiwa beragama pada anak- anak dan remaja. Sementara didaratan anak benua Asia dan India juga terbit buku- buku yang berkaitan dengan psikologi agama. Jalaluddin menyebut judul buku berikut pengarangnya antara lain: The Song of God: Baghavad Gita.
Sedang di Indonesia, sekitar tahun 1970-an tulisan tentang psikologi agama baru muncul. Karya yang patut dikedepankan adalah: Ilmu Jiwa Agama oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Agama dan Kesehatan Jiwa oleh prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh S.S. Djami’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister, Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari dan sebagainya. Dalam buku yang disebut terakhir misalnya, meskipun yang menjadi pembahasan mengenai kedokteran jiwa, akan tetapi membahas pula aspek- aspek agama atau spiritual dalam kaitannya dengan jiwa seseorang.
Bab III
SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN
A. Fitrah Sebagai Potensi Beragama
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci.
Berdasarkan Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Jelaslah, secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan pengakuan terhadap tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
B. Pengertian Fitrah
Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu:
1. Fitrah berarti suci
Menurut Al Auza’i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apa pun ia dilahirkan.
2. Fitrah berarti Islam
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi:
Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang allah menceritakan kepadaku dalam kitabNya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang- orang muslim”.
Berangkat dari pemahaman hadits tersebut diatas, maka anak kecil yang meninggal ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkan dengan din al islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
3. Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (Tauhid)
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esakan tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia.
4. Fitrah dalam arti murni (Al Ikhlas)
Manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan pada hadits nabi saw: “Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dariNya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan”.
5. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran
6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Sebagaimana firman Allah surat yasin ayat 22:
“Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”
7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya.
Manusia lahir dengan ketetapannya, apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat.
8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia
Manusia lahir dengan membawa tabi’at (perwatakan) yang berbeda- beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma’rifatullah. Sebelum usia baligh, anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir, karena wujud fitrah terdapat dalam qalb yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.
9. Fitrah dalam arti Insting (Gharizah) dan wahyu dari Allah (Al Munazalah)
Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam:
a. Fitrah Al Munazalah
Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al qur’an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah Al Gharizahah
b. Fitrah Al Gharizah
Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
Bab IV
AGAMA PADA MASA ANAK
A. Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
B. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
C. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member
PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Psikologi Agama
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama serta objek yang dikaji, dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain, psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang yang menyangkut tata cara berpikir, bersikap, berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya.
B. Objek Kajian Psikologi Agama
Yang menjadi objek dan lapangan psikologi agama adalah menyangkut gejala- gejala kejiwaan dalam kaitannya dengan realisasi keagamaan (amaliah) dan mekanisme antara keduannya. Dengan kata lain, meminjam istilah Zakiah Daradjat, psikologia agama membahas tentang kesadaran agama (religious counciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Dengan demikian, yang menjadi lapangan kajian psikologi agama adalah proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat- akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan. Sedangkan objek pembahasan psikologi agama adalah gejala- gejala psikis manusia yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan, kemudian mekanisme antara psikis manusia dengan tingkah laku keagamaannya secara timbal balik dan hubungan pengaruh antara satu dengan lainnya.
C. Metode Penelitian Psikologi Agama
Diantara metode yang digunakan dalam mengkaji psikologi agama adalah :
1. Dokumen Pribadi
Metode ini digunakan untuk mempelajari bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk mengetahui informasi tentang hal ini maka dikumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut dapat berupa autobiorafi, biografi atau catatan- catatan yang dibuatnya.
Metode dokumentasi tersebut dalam penerapannya dapat digunakan beberapa teknik, antara lain:
a. Teknik Nomotatik
Pendekatan ini antara lain digunakan untuk mempelajari perbedaan- perbedaan individu. Sementara dalam psikologi agama, teknik nomotik ini antara lain untuk melihat sejauh mana hubungan sifat dasar manusia dengan sikap keagamaan.
b. Teknik Analisis Nilai (value analysis)
Teknik ini digunakan dalam kaitannya dengan statistik. Data- data yang telah terkumpul diklasifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti.
c. Teknik Ideography
Teknik ini hampir sama dengan teknik nomotatik, yaitu pendekatan guna memahami sifat dasar manusia. Bedanya, teknik ini lebih menekankan antara sifat- sifat dasar manusia dengan keadaan tertentu dan aspek- aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing- masing individu dalam rangka memahami seseorang.
d. Teknik Penilaian terhadap Sikap (evaluation attitudes technique)
Teknik ini digunakan dalam penelitian biografi, tulisan atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti.
2. Angket dan Wawancara
Metode angket dan wawancara digunakan untuk meneliti proses jiwa beragama pada orang yang masih hidup. Metode ini misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui prosentase tentang apa yang diyakini orang pada umumnya tentang sikap beragama, ketekunan beragama dan sebagainya
a. Pengumpulan Pendapat Masyarakat (public opinion polls)
Cara yang dilakukan melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai
b. Skala Penilaian (ratting scale)
Metode ini antara lain digunakan untuk memperoleh data tentang faktor- faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok.
c. Tes
Metode tes digunakan untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu
d. Eksperimen
Eksperimen digunakan untuk mempelajari sikap dan tingkah laku keagamaan seseorang melalui perlakuan khusus yang sengaja dibuat.
e. Observasi melalui pendekatan sosiologi dan antropologi
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sosiologi, yaitu dengan mempelajari sifat- sifat manusiawi orang perorang atau kelompok
f. Pendekatan terhadap Perkembangan
Pendekatan ini digunakan guna meneliti asal- usul dan perkembangan aspek psikologi manusia dalam hubungannya dengan agama yang dianut.
g. Metode Klinis dan Proyektivitas
Metode ini memanfaatkan cara kerja klinis. Penyembuhan dilakukan dengan cara menyelaraskan hubungan antara jiwa dengan agama.
h. Studi Kasus
Studi Kasus dilakukan dengan cara mengumpulkan dokumen, catatan, hasil wawancara atau lainnya untuk kasus- kasus tertentu.
i. Survei
Metode ini biasanya digunakan untuk penelitian sosial yang bertujuan untuk penggolongan manusia dalam hubungannya dengan pembentukan organisasi dalam masyarakat.
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI AGAMA
A. Psilkologi Agama Dalam Lintasan Sejarah
Untuk mengetahui secara pasti kapan agama diteliti secara psikologi memang agak sulit, sebab dalam agama itu sendiri telah terkandung didalamnya pengaruh agama terhadap jiwa. Bahkan dalam kitab- kitab suci setiap agama banyak menerangkan tentang proses jiwa atau keadaan jiwa seseorang karena pengaruh agama. Dalam Al Qur’an misalnya, terdapat ayat- ayat yang menunjukkan keadaan jiwa orang- orang yang beriman atau sebaliknya, orang- orang kafir, sikap, tingkah laku dan doa- doa. Disamping itu juga terdapat ayat- ayat yang berbicara tentang kesehatan mental, penyakit dan gangguan kejiwaan serta kelainan sifat dan sikap yang terjadi karena kegoncangan kejiwaan sekaligus tentang perawatan jiwa.
Contoh lain adalah proses pencarian Tuhan yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Dalam kisah tersebut dilukiskan bagaimana proses konversi terjadi. Dalam kitab- kitab suci lain pun kita dapati proses dan peristiwa keagamaan, seperti yang terjadi dalam diri tokoh agama Budha, Sidharta Gautama atau dalam agama Shinto yang memitoskan kaisar jepang sebagai keturunan matahari yang membuat penganutnya sedemikian mendalam ketaatannya kepada kaisar, sehinga mereka rela mengorbankan nyawanya dalam Perang Dunia II demi kaisar.
B. Pendekatan Ilmiah Dalam Psikologi Agama
Dalam perkembangannya, psikologi agama tidak hanya mengkaji kehidupan secara umum tapi juga masalah- masalah khusus. Pembahasan tentang kesadaran beragama misalnya, dikupas oleh B. Pratt dalam bukunya the Religious Consciousness, sedangkan Rudolf Otto membahas sembahyang. Perkembangan beragama pun tidak luput dari kajian para ahli psikologi agama. Piere Binet adalah salah satu tokoh psikologi agama awal yang membahas tentang perkembangan jiwa keberagamaan. Menurut Binet, agama pada anak- anak tidak beada dengan agama pada orang dewasa. Pada anak- anak dimana mungkin dialami oleh orang dewasa, seperti merasa kagum dalam menyaksikan alam ini, adanya kebaikan yang tak terlihat, kepercayaan akan kesalahan dan sebagian dari pengalaman itu merupakan fakta- fakta asli yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan.
C. Kajian Psikologi Agama Di Kawasan Timur
Dalam Dunia Timur tidak mau ketinggalan. Abdul Mun’in Abdul Aziz al Malighy misalnya, juga menulis kajian perkembangan jiwa beragama pada anak- anak dan remaja. Sementara didaratan anak benua Asia dan India juga terbit buku- buku yang berkaitan dengan psikologi agama. Jalaluddin menyebut judul buku berikut pengarangnya antara lain: The Song of God: Baghavad Gita.
Sedang di Indonesia, sekitar tahun 1970-an tulisan tentang psikologi agama baru muncul. Karya yang patut dikedepankan adalah: Ilmu Jiwa Agama oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Agama dan Kesehatan Jiwa oleh prof. Dr. Aulia (1961), Islam dan Psikosomatik oleh S.S. Djami’an, Pengalaman dan Motivasi Beragama oleh Nico Syukur Dister, Al Qur’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa oleh Dadang Hawari dan sebagainya. Dalam buku yang disebut terakhir misalnya, meskipun yang menjadi pembahasan mengenai kedokteran jiwa, akan tetapi membahas pula aspek- aspek agama atau spiritual dalam kaitannya dengan jiwa seseorang.
Bab III
SUMBER JIWA KEBERAGAMAAN
A. Fitrah Sebagai Potensi Beragama
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Suci.
Berdasarkan Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Jelaslah, secara naluri manusia memiliki kesiapan untuk mengenal dan menyakini adanya Tuhan. Dengan kata lain, pengetahuan dan pengakuan terhadap tuhan sebenarnya telah tertanam secara kokoh dalam fitrah manusia. Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan, bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
B. Pengertian Fitrah
Sedikitnya terdapat 9 (sembilan) makna fitrah yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu:
1. Fitrah berarti suci
Menurut Al Auza’i, fitrah berarti kesucian dalam jasmani dan rohani. Bila dikaitkan dengan potensi beragama, kesucian tersebut dalam arti kesucian manusia dari dosa waris atau dosa asal, sebagaimana pendapat Ismail Raji Al Faruqi yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dapat menyusun drama kehidupannya, tidak peduli dengan lingkungan keluarga, masyarakat macam apa pun ia dilahirkan.
2. Fitrah berarti Islam
Abu Hurairah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama. Pendapat ini berdasar pada hadits Nabi:
Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang allah menceritakan kepadaku dalam kitabNya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya berpotensi menjadi orang- orang muslim”.
Berangkat dari pemahaman hadits tersebut diatas, maka anak kecil yang meninggal ia akan masuk surga. Karena ia dilahirkan dengan din al islam, walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.
3. Fitrah berarti mengakui ke-Esaan Allah (Tauhid)
Manusia lahir dengan membawa konsep tauhid, atau paling tidak berkecenderungan untuk meng-Esakan tuhannya dan berusaha terus mencari untuk mencapai ketauhidan tersebut. Jiwa tauhid adalah jiwa yang selaras dengan akal manusia.
4. Fitrah dalam arti murni (Al Ikhlas)
Manusia lahir dengan membawa berbagai sifat, salah satu diantaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Makna demikian didasarkan pada hadits nabi saw: “Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlas berupa fitrah Allah dimana manusia diciptakan dariNya, shalat berupa agama dan taat berupa benteng penjagaan”.
5. Fitrah berarti kondisi penciptaan manusia yang cenderung menerima kebenaran
6. Fitrah dalam arti potensi dasar manusia sebagai alat untuk mengabdi dan ma’rifatullah. Sebagaimana firman Allah surat yasin ayat 22:
“Mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku”
7. Fitrah dalam arti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya.
Manusia lahir dengan ketetapannya, apakah nanti ia akan menjadi orang bahagia atau menjadi orang yang sesat.
8. Fitrah dalam arti tabiat alami manusia
Manusia lahir dengan membawa tabi’at (perwatakan) yang berbeda- beda. Watak tersebut dapat berupa jiwa pada anak atau hati sanubari yang dapat mengantarkan untuk sampai pada ma’rifatullah. Sebelum usia baligh, anak belum bisa membedakan antara iman dan kafir, karena wujud fitrah terdapat dalam qalb yang dapat mengantarkan pada pengenalan nilai kebenaran tanpa terhalang apa pun.
9. Fitrah dalam arti Insting (Gharizah) dan wahyu dari Allah (Al Munazalah)
Ibnu Taimiyah membagi fitrah dalam dua macam:
a. Fitrah Al Munazalah
Fitrah luar yang masuk dalam diri manusia. Fitrah ini dalam bentuk petunjuk al qur’an dan sunnah yang digunakan sebagai kendali dan pembimbing bagi Fitrah Al Gharizahah
b. Fitrah Al Gharizah
Fitrah inheren dalam diri manusia yang memberi daya akal yang berguna untuk mengembangkan potensi dasar manusia.
Bab IV
AGAMA PADA MASA ANAK
A. Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1. Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.
2. Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3. Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)
4. Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.
5. Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.
B. Agama Pada Masa Anak- Anak
Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1. 0 – 2 tahun (masa vital)
2. 2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)
3. 6 – 12 tahun (masa sekolah)
Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.
Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.
C. Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian:
Untuk mengakses dan mendownload tugas kuliah ini selengkapnya anda harus berstatus Paid Member
psikologi agama
PENDEKATAN MODERN:INTEGRASI PENDEKATAN AGAMA DAN PEKERJAAN SOSIAL
Oleh
Ahmad Hapidin
Abstrak
Dalam perkembangannya, Iptek acap kali berbenturan atau dibenturkan dengan agama yang berakibat pada kegagalannya dalam misi kemanusian yang dilandasi pada bingkai humanis , demokratis dan berkeadilan. Distorsi ini juga dapat dialami oleh profesi pekerjaan sosial sebagai aktivitas kemanusiaan yang abai terhadap nilai-nilai keagamaan di satu sisi dan misi kemanusiaan oleh agama yang tidak dibingkai oleh keilmuan pada sisi yang lain.
Integrasi antara keduanya dalam praktek pekerjaan sosial merupakan sebuah keharusan sebab pendekatan moderen dan agama dalam praktek pekerjaan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun, pertanyaan kemudian adalah Dimana letak urgensi integrasi antara praktek peksos modern dan keagamaan tersebut.?
Dalam pembahasan ini, paling tidak ada tiga kesimpulan yang dapat di kemukakan: Pertama, Ambruknya ideologi raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis, demokratis dan berkeadilan. Kedua, Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia. Ketiga, Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegrasikan, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi sama-sama berpotensi untuk gagal.
PENDAHULUAN
Modernitas dan perkembangan zaman telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dengan berbagai dampak positif sekaligus negatif. Nilai positif dapat terlihat apa yang dianggap gaib dan tidak mungkin di masa silam menjadi nyata dan fakta dimasa kini. Sedangkan ekses negativnya terlihat ketika ilmu pengetahuan dan teknologi diper-Tuhan-kan.
Rasa ingin tahu manusia mendorongnya tidak segera puas pada satu penemuan saja. Pertumbuhan bangun ilmu pengetahuan dan ideology pun terus menjamur, selanjutnya tumbang dan berganti lagi dengan bangun keilmuan dan idelogi yang baru. Lingkaran ketidak pastian ini berlanjut atas dasar paradigma rasionalis - empris disatu pihak dan alienasi terhadap agama pada pihak lain. Akibatnya adalah manusia ditawan dan dibingungkan oleh hasil penemuan dan perilakunya sendiri dengan lahirnya masalah baru yang lebih kompleks.
Ditengah kegamangan ilmu pengetahuan dan lahirnya kemanusiaan yang berpenyakit tersebut, peran agama kembali mendapat perhatian setelah teralienasi sejak pasca ranaisance.
Demikian halnya dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu psikologi terapi yang menekankan pada teori klinis/mekanis dan mengesampingkan peran keagamaan/spiritualitas dan kemudian terbukti mengalami ketimpangan.
Asumsi dari Modernistas Science seperti; Naturalism, Atheism, Determinism, Universalism, Reductionism/Atomism, Materialism, Ethical relativism, Ethical hedonism, Positivism, Classical/Naive realism, Empiricism dan Sigmund Freud ahli psikoanalisa dimana kesemuanya memandang sebelah mata peran penting agama telah menemukan kegagalan argumentasi, pendapat dan teori-teorinya. Demikian pernyataan Andayani dalam materi kuliah peksos berbasis agama.
Kebangkitan Spiritual dalam ilmu pengetahuan adalah sekitar tahun 80-an, theistic world views (pandangan dunia keagamaan). Hal tersebut, diakui sebagai aspek penting yang mempengaruhi perkembangan dan pemenuhan diri manusia seperti: (Theistic World Views) percaya bahwa eksistensi dari A Supreme Being dan Human Beings sebagai agen yang bertanggung jawab, bukan mesin.
Dalam menghadapi nestapa manusia era modern tingkat lanjut seperti sekarang ini, pemahaman keagamaan perlu ditransformasikan sehingga dapat memenuhi harapan esensial dari ajaran agama itu sendiri dalam menyumbangkan sesuatu yang menyejukkan, menentramkan dan bukan menjadi sumber keruwetan. Ummat beragama juga perlu memahami bahwa fenomena-fenomena agama selain melibatkan wahyu, juga lengket dengan fenomena cultural, tradisi, adat istiadat, habit of mind, dan begitu seterusnya.
Sejalan dengan uraian diatas, praktek pekerjaan sosial menyangkut kedua pendekatan (Agama-Modern) pun merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Pertanyaan kemudian adalah Bagaimana antara praktek peksos modern dan pendekatan keagamaan tersebut dapat diintegrasikan? Hal inilah yang akan menjadi fokus bahasan lebih lanjut.
Agama dan Pekerjaan Sosial
Bahasan ini sebaiknya diawali dengan pemaparan secara singkat menyangkut pemahaman-pemahaman Agama dan Pekerjaan sosial sehingga kemudian dapat dengan mudah menelisik lebih dalam pada aspek-aspek dimana urgensi integrasi antara pendekatan keagamaan dan pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial. Agama dalam konteks ini akan didefinisihkan secara operasional sehingga dapat dipahami lebih membumi sedangkan pendekatan modern pekerjaan sosial akan di artikulasikan kedalam wacana keilmuan modern pekerjaan sosial.
Pemahaman Agama
Suatu definisi yang dapat mewakili secara keseluruhan tentang agama yang begitu banyak ragam dan jenisnya bukanlah mudah bahkan mungkin tidak dapat dilakukan. Namun mendefinisikannya haruslah tetap dilakukan untuk dapat membatasi arah sesuai tujuan pendefinisian dimaksud. Dalam kaitan itu, ada beberapa pendapat yang akan dikemukakan dalam tulisan ini.
Agama bagi Giddens (2005) adalah media pengorganisasian bagi kepercayaan yang tidak sekedar satu arah. Bukan hanya iman dan kekuatan religius yang menyediakan dukungan yang secara takdir dapat dijadikan sandaran: Demikian juga para fungsionaris keagamaan. Yang terpenting adalah bahwa kepercayaan religius biasanya menginjeksikan reliabilitas ke dalam pengalaman pelbagai peristiwa dan situasi dan dari suatu kerangka
Agama juga disinonimkan dengan Religion berasal dari kata Latin “religio”, berarti “tie-up” dalam bahasa Inggris, Religion dapat diartikan “having engaged ‘God’ atau ‘The Sacred Power’.
Secara umum di Indonesia, Agama dipahami sebagai sistem kepercayaan, tingkah laku, nilai, pengalaman dan yang terinstitusionalisasi, diorientasikan kepada masalah spiritual/ritual yang disalingtukarkan dalam sebuah komunitas dan diwariskan antar generasi dalam tradisi.
Berangkat dari beberapa pemahaman diatas, dapat ditarik beberapa point tentang pengertian agama bahwa agama adalah kodifikasi kepercayaan, praktik ibadat, hukum etika, keanggotaan denominasi, eksternal dan memasukkan spiritualitas di dalamnya.
Penegasan yang ingin ditekankan pada pemahaman keagamaan disini adalah bahwa konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.
Apa itu Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial adalah profesi kemanusiaan yang telah lahir cukup lama. Sejak kelahirannya sekitar 1800-an. Purifikasi peksos terus berlanjut sejalan dengan tuntutan perubahan dan aspirasi masyarakat. Namun demikian, seperti halnya profesi lain (Guru, Dosen, Dokter), fondasi dan prinsip dasar pekerjaan sosial tidak mengalami perubahan.
Pekerjaan sosial berbeda dengan profesi lain, semisal psikolog, dokter atau psikiater. Dalam praktek kerjanya dia senantiasa harus melibatkan aspek-aspek diluar klien dalam penyelesaian masalahnya. Artinya, bahwa mandat utama pekerja sosial adalah memberikan pelayanan sosial baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat yang membutuhkannya sesuai dengan nilai-nilai, pengetahuan dan ketrampilan professional pekerjaan sosial.
Selain itu, pekerjaan sosial juga merupakan aktivitas professional untuk menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan dimaksud. Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai.
Dalam konferensi internasional di Montreal Kanada, juli 2000, IFSW mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai Profesi yang mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan. Perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan manusia, serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teori-teori perilaku manusia dan sistem-sistem sosial. Pekerjaan sosial melakukan intervensi pada titik dimana orang berinteraksi dan keadilan sosial merupakan sangat penting bagi pekerjaan sosial.
Pendekatan Modern dalam Praktek Pekerjaan Sosial
Sebagai aktivitas kemanusiaan yang sejak kelahirannya sekian abad yang lalu, Pekerjaan Sosial telah memiliki perhatian yang mendalam pada pemberdayaan masyarakat miskin. Prinsip-prinsip pekerjaan sosial, seperti ‘menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri’ (to help people to help themselves), ‘penentuan nasib sendiri’ (self determination), ‘bekerja dengan masyarakat’ (working with people dan bukan ‘bekerja untuk masyarakat’ atau working for people), menunjukkan betapa pekerjaan sosial memiliki komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat dan bahwa pekerjaan sosial merupakan profesi yang populis dan tidak elitis.
Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai. Dalam praktek pekejaan sosial ini, ditujukan untuk terapi sosial dalam upaya mewujudkan keberfungsian sosial.
Penyembuhan sosial sendiri oleh Suharto, dikategorikan kedalam dimensi pendekatan macro dan micro. Pendekatan mikro merujuk pada berbagai keahlian dan ketrampilan pekerja sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh individu berupa problem psikologi (Stess dan depresi, hambatan relasi, penyesuaian diri, kurang percaya diri, alienasi atau kesepian dan keterasingan, apatisme dan gangguan mental. Sedangkan metode utama yang digunakan pekerja sosial dalam setting mikro tersebut adalah terapi perseorangan (casework) dan terapi kelompok (gruopwork) yang didalamnya melibatkan terapi berpusat pada klien, terapi perilaku, terapi keluarga dan terapi kelompok. Pendekatan makro adalah penerapan metode dan teknik pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dan lingkungannya (system sosial), seperti kemiskinan, ketelantaran, ketidak adilan sosial, dan eksploitasi sosial. Tiga metode utamanya berupa terapi masyarakat (Community development) popular dengan nama Pengembangan masyarakat, Manajemen pelayanan kemanusiaan (human service management) atau terapi kelembagaan dan analisis kebijakan sosial (social policy analysis).
Perbedaan utama antara community work, human service management dan social policy analysis adalah jika dua metode yang pertama merupakan pendekatan pekerjaan sosial dalam praktek langsung dengan kliennya, maka analisis kebijakan sosial merupakan metode pekerjaan sosial dalam praktik tidak langsung.
Dalam konteks pemberdayaan misalnya, sebagaimana dikemukakan Ife , pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien, Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: Pendefinisian kebutuhan: Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
Pemberdayaan dan Praktek Pekerjaan Sosial
Pendekatan Modern dalam praktek pekerjaan sosial dalam pencapaian tujuan pemberdayaan di atas dicapai melaui penerapan pendekatan pemberdayaan yang meliputi: (1) Pendekatan Mikro, (2) Pendekatan Mezzo, dan Pendekatan Makro
Pendekatan Mikro menekankan bahwa pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai Pendekatan yang Berpusat pada Tugas (task centered approach).
Pendekatan Mezzo memfokuskan pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Pendekatan Makro disebut juga sebagai Strategi Sistem Besar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Pendekatan ini memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.
Prinsip Pekerjaan Sosial
Prisip pekerjaan sosial dalam dimensi pemberdayaan tersebut dapat doformulasikan sebagai berikut: (1) Pemberdayaan adalah proses kolaboratif dengan mana masyarakat / Klien dan pekerja sosial bekerjasama sebagai partner, (2) Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat miskin sebagai kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatan-kesempatan.(3) Masyarakat/Klien harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting yang dapat mempengaruhi perubahan. (4) Kompetensi diperoleh atau dipertajam melalui pengalaman hidup, khususnya pengalaman yang memberikan perasaan mampu pada masyarakat miskin. (5) Solusi-solusi, yang berasal dari situasi khusus, harus beragam dan menghargai keberagaman yang berasal dari faktor-faktor yang berada pada situasi masalah tersebut. (6) Jaringan-jaringan sosial informal merupakan sumber dukungan yang penting bagi penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi serta kemampuan pengendalian seseorang. (7) Masyarakat miskin harus berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri: tujuan, cara dan hasil harus dirumuskan oleh mereka sendiri. (8) Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena pengetahuan dapat memobilisasi tindakan bagi perubahan. (9) Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber tersebut secara efektif. Dan (10) Proses pemberdayaan besifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif; permasalahan selalu memiliki beragam solusi.
Teknik dalam Pekerjaan Sosial
Dubois dan Miley memberi beberapa cara atau teknik yang lebih spesifik yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat:
1. Membangun relasi pertolongan yang: (a) merefleksikan respon empati; (b) menghargai pilihan dan hak klien menentukan nasibnya sendiri (self-determination); (c) menghargai keberbedaan dan keunikan individu; (d) menekankan kerjasama klien (client partnerships).
2. Membangun komunikasi yang: (a) menghormati martabat dan harga diri klien; (b) mempertimbangkan keragaman individu; (c) berfokus pada klien; (d) menjaga kerahasiaan klien.
3. Terlibat dalam pemecahan masalah yang: (a) memperkuat partisipasi klien dalam semua aspek proses pemecahan masalah; (b) menghargai hak-hak klien; (c) merangkai tantangan-tantangan sebagai kesempatan belajar; (d) melibatkan klien dalam pembuatan keputusan dan evaluasi.
4. Merefleksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan sosial melalui: (a) ketaatan terhadap kode etik profesi; (b) keterlibatan dalam pengembangan profesional, riset, dan perumusan kebijakan; (c) penterjemahan kesulitan-kesulitan pribadi ke dalam isu-isu publik; (d) penghapusan segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan kesempatan.
Contoh pembahasan dalam dimensi pemberdayaan di atas menunjukkan bagaimana pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial dilakukan. Praktek pekerjaan tersebut terlihat sebagai sebuah pendekatan yang dilandasi oleh kerangka keilmuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai dalam aktivitas professionalnya.
Pendekatan Agama dalam Praktek Pekerjaan Sosial
Berbeda dengan modernisme yang bertumpu pada rasionalitas dengan sistem berfikir bi-logical, agama memiliki nilai spiritualitas yang berfungsi secara transenden; Hanya spiritualitas yang mampu memaafkan kejadian yang menyakitkan dan traumatis. Dalam konteks inilah seorang pekerja sosial melalui pendekatan agama akan mampu sensitive dan responsive terhadap kebutuhan spiritualitas klien sebagai mahluk yang Unik.
Dalam hal intervensi kesehatan mental misalnya, peran spiritualitas sebagai bagian integral dari agama sangat memegang peranan penting untuk keberhasilan intervensi pada klien mengingat dalam spiritulitas sesungguhnya terkandung daya dimana klien dapat beradaptasi dalam menyelesaikan masalah.
Dalam konteks tradisional sendiri, berbagai program kemanusian dimana peran pekerja sosial inklut didalamnya telah banyak dilaksanakan oleh berbagai agama sebagai pembawa misi kemanusiaan. Namun landasan tersebut lebih bersifat karikatif dan belas kasih belaka sehingga yang terjadi kemudian adalah acap kali menimbulkan ketergantungan klien terhadap pekerja sosial. Dengan kata lain tidak menyentuh aspek substansial keberfungsian sosial sebagaimana yang di maksudkan oleh pendekatan modern.
Keberfungsian sosial menitik beratkan pada kemandirian klien dan menjauhkannya pada sifat-sifat ketergantungan. Maka itu, karikatif dan rasa belas kasih semata sangat tidak sejalan dengan ruh pekerjaan sosial sebab pada gilirannya hanya akan menimbulkan sifat ketergantungan dan bukan kemandirian. Hal ini dapat terlihat pada penyaluran zakat misalnya yang kemudian hanya disalurkan secara tradisional-konsumtif sehingga penerima tetap pada posisi sebagai penerima dan tidak berfikir bagaimana pada kesempatan berikutnya dapat menjadi pemberi.
Urgensi Integrasi Pendekatan Agama dan Modern dalam Pekerjaan Sosial
Dalam memberikan pengantarnya terhadap buku Caputo “ Agama Cinta Agama Masa Depan”, Sugiharto berargumen bahwa Untuk menjadi sungguh-sungguh berarti kembali, maka agama perlu melakukan kritik-diri secara structural, mengenali persoalan-persoalan mendasar dunia modern, dan mampu menawarkan visi peradaban dan kemanusiaan yang baru. Tanpa itu, ia hanya akan berakhir sebagai kekuatan disintegrasi peradaban paling mengerikan, atau semangat nostalgis naif yang berbahaya.
Secara substansial pernyataan tersebut mengandung makna bahwa sesungguhnya peran agama dalam praktek pekerjaan sosial sangat urgen mengingat adanya tanggung jawab etis peksos terhadap klien dan terhadap masyarakat yang juga terinternalisasi dalam nilai-nilai universal keagamaan. Namun, hal yang sangat ironis adalah tingginya signifikansi agama dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, tidak dibarengi dengan perkembangan yang memadai dalam hal integrasi pendekatan agama dalam ilmu-ilmu sosial dan pendampingan masyarakat. Agama nampaknya hanya bersifat experential, yang kita dapatkan dan pelajari dari pengalaman, tapi tidak bersifat scientific.
Pendekatan agama dalam terapi klinikal ataupun pemberdayaan masyarakat secara luas, misalnya, masih bersifat tradisional karena belum dikembangkan secara ilmiah. Pendekatan agama, dengan demikian, tidak ”layak” sebagai bagian dari pendekatan modern dan selanjutnya, tidak mampu menjadi model intervensi dan pendampingan di masyakarat.
Dengan demikian, integrasi terhadap kedua jenis pendekatan (modern dan Agama) merupakan sebuah keharusan dengan mengemukakan beberapa alasan : (1) Secara historis dan filosofis, Peksos memiliki pertalian erat dengan agama. Sejarah telah membuktikan bahwa pekerjaan sosial sendiri tumbuh dan berkembang dari kalangan agamais (Kristen katolik di Inggris). Sedangkan secara filosofis baik peksos dan agama, sama-sama menaruh perhatian pada aspek mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan tanpa pilih buluh. (2) Peksos dan spiritualitasdan agama saling belajar dan memberi kontribusi satu sama lain.(3) Pengetahuan tentang spiritualitas dan agama membantu peksos membangun kosmologi dan antropologi spiritual. (4) Tidak ada alasan peksos dan pemimpin agama untuk tidak berkerjasama. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa sesungguhnya islam baik dan relevan di setiap masa dan tempat
Dalam agama islam sendiri, keterpautan antara Ilmu pengetahuan dan ajarannya sangatlah erat (Al–Islam Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan). Bahkan para ilmuan seperti Ernest Gellner misalnya, berpendapat bahwa sesungguhnya Islam merupakan agama yang transformatif dan bahkan menurutnya, Islamlah yang paling memiliki kedekatan dengan ilmu pengetahuan. Pengakuan ini dijelaskannya dalam beberapa aspek sebagai berikut: Pertama, universalisme ajaran Islam, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam dapat diterapkan dimana saja dan kapan saja bahkan Islam mapu menyerap tradisai dan budaya lokal. Kedua, Skripulisme Islam, bahwa Islam mengajarkan bahwa kitab suci dapat dibaca dan dipelajari oleh siapa saja, bukan monopoli kelompok tertentu dalam hirarki keagamaan. Ketiga, Egalitarianisme spiritual, dalam arti tidak terdapat sistem kependetaan atau kerahiban dalam Islam, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi spiritualnya. Keempat, Sistematis rasional dalam kehidupan sosial. Kelima, Semangat keilmuan yang tinggi, sehingga setiap pemeluk Islam meyakini betapa tingginya penghargaan Islam terhadap ilmu.
Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pengintegrasian antara pendekatan agama dan pendekatan moderen dalam pekerjaan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Baik ilmu pengetahuan dan agama yang saling tidak bertegur sapa, telah terbukti secara faktual mengalami kegagalan dalam melakukan misi kemanusiaannya. Melalui pembahasan yang komparatif ini, terlihat bahwa integrasi antara keduanya adalah sebuah keharusan.
Kesimpulan
1. Ambruknya ideology raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaliguis tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis , demokratis dan berkeadilan
2. Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.
3. Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegratif dan saling bekerja sama, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi sama-sama berpotensi untuk gagal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Amin, Jurnal Filsafat dan Teologi: Hak Asasi Manusia Tantangan Bagi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1998)
Caputo, D. Jhon, Agama Cinta Agama Masa Depan, (Bandung : Mizan, 2003)
DuBois, Brenda dan Karla Krogsrud Miley, Social Work: An Empowering Profession, (Boston: Allyn and Bacon, 1992)
Gellner, Ernest, Muslim Society, (Cambridge University Press, 1981)
Giddens, Anthony, Konsekwensi-Konsekwensi Modernitas, (Yogyakarta:Kreasi Wacana, 2005)
IISEP, CIDA, Islam Dakwah dan Kesejahteraan Sosial, (Yogyakarta:Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fak. Dakwah UIN SUKA, 2005)
Ife, Jim, Community Development: Creating Community Alternatives,Vision, Analysis and Practice, (Longman, Australia, 1995)
Suharto, Edi, Membangun Masyarakatm, Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung : Revika Aditama, 2005)
Suparjan dan Suyatno, Hempri, Pengembangan Masyarakat dari Pembangunan samapi Pemberdayaan, (Yogyakarta : Aditya Media, 2003)
Oleh
Ahmad Hapidin
Abstrak
Dalam perkembangannya, Iptek acap kali berbenturan atau dibenturkan dengan agama yang berakibat pada kegagalannya dalam misi kemanusian yang dilandasi pada bingkai humanis , demokratis dan berkeadilan. Distorsi ini juga dapat dialami oleh profesi pekerjaan sosial sebagai aktivitas kemanusiaan yang abai terhadap nilai-nilai keagamaan di satu sisi dan misi kemanusiaan oleh agama yang tidak dibingkai oleh keilmuan pada sisi yang lain.
Integrasi antara keduanya dalam praktek pekerjaan sosial merupakan sebuah keharusan sebab pendekatan moderen dan agama dalam praktek pekerjaan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun, pertanyaan kemudian adalah Dimana letak urgensi integrasi antara praktek peksos modern dan keagamaan tersebut.?
Dalam pembahasan ini, paling tidak ada tiga kesimpulan yang dapat di kemukakan: Pertama, Ambruknya ideologi raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis, demokratis dan berkeadilan. Kedua, Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia. Ketiga, Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegrasikan, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi sama-sama berpotensi untuk gagal.
PENDAHULUAN
Modernitas dan perkembangan zaman telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dengan berbagai dampak positif sekaligus negatif. Nilai positif dapat terlihat apa yang dianggap gaib dan tidak mungkin di masa silam menjadi nyata dan fakta dimasa kini. Sedangkan ekses negativnya terlihat ketika ilmu pengetahuan dan teknologi diper-Tuhan-kan.
Rasa ingin tahu manusia mendorongnya tidak segera puas pada satu penemuan saja. Pertumbuhan bangun ilmu pengetahuan dan ideology pun terus menjamur, selanjutnya tumbang dan berganti lagi dengan bangun keilmuan dan idelogi yang baru. Lingkaran ketidak pastian ini berlanjut atas dasar paradigma rasionalis - empris disatu pihak dan alienasi terhadap agama pada pihak lain. Akibatnya adalah manusia ditawan dan dibingungkan oleh hasil penemuan dan perilakunya sendiri dengan lahirnya masalah baru yang lebih kompleks.
Ditengah kegamangan ilmu pengetahuan dan lahirnya kemanusiaan yang berpenyakit tersebut, peran agama kembali mendapat perhatian setelah teralienasi sejak pasca ranaisance.
Demikian halnya dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu psikologi terapi yang menekankan pada teori klinis/mekanis dan mengesampingkan peran keagamaan/spiritualitas dan kemudian terbukti mengalami ketimpangan.
Asumsi dari Modernistas Science seperti; Naturalism, Atheism, Determinism, Universalism, Reductionism/Atomism, Materialism, Ethical relativism, Ethical hedonism, Positivism, Classical/Naive realism, Empiricism dan Sigmund Freud ahli psikoanalisa dimana kesemuanya memandang sebelah mata peran penting agama telah menemukan kegagalan argumentasi, pendapat dan teori-teorinya. Demikian pernyataan Andayani dalam materi kuliah peksos berbasis agama.
Kebangkitan Spiritual dalam ilmu pengetahuan adalah sekitar tahun 80-an, theistic world views (pandangan dunia keagamaan). Hal tersebut, diakui sebagai aspek penting yang mempengaruhi perkembangan dan pemenuhan diri manusia seperti: (Theistic World Views) percaya bahwa eksistensi dari A Supreme Being dan Human Beings sebagai agen yang bertanggung jawab, bukan mesin.
Dalam menghadapi nestapa manusia era modern tingkat lanjut seperti sekarang ini, pemahaman keagamaan perlu ditransformasikan sehingga dapat memenuhi harapan esensial dari ajaran agama itu sendiri dalam menyumbangkan sesuatu yang menyejukkan, menentramkan dan bukan menjadi sumber keruwetan. Ummat beragama juga perlu memahami bahwa fenomena-fenomena agama selain melibatkan wahyu, juga lengket dengan fenomena cultural, tradisi, adat istiadat, habit of mind, dan begitu seterusnya.
Sejalan dengan uraian diatas, praktek pekerjaan sosial menyangkut kedua pendekatan (Agama-Modern) pun merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Pertanyaan kemudian adalah Bagaimana antara praktek peksos modern dan pendekatan keagamaan tersebut dapat diintegrasikan? Hal inilah yang akan menjadi fokus bahasan lebih lanjut.
Agama dan Pekerjaan Sosial
Bahasan ini sebaiknya diawali dengan pemaparan secara singkat menyangkut pemahaman-pemahaman Agama dan Pekerjaan sosial sehingga kemudian dapat dengan mudah menelisik lebih dalam pada aspek-aspek dimana urgensi integrasi antara pendekatan keagamaan dan pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial. Agama dalam konteks ini akan didefinisihkan secara operasional sehingga dapat dipahami lebih membumi sedangkan pendekatan modern pekerjaan sosial akan di artikulasikan kedalam wacana keilmuan modern pekerjaan sosial.
Pemahaman Agama
Suatu definisi yang dapat mewakili secara keseluruhan tentang agama yang begitu banyak ragam dan jenisnya bukanlah mudah bahkan mungkin tidak dapat dilakukan. Namun mendefinisikannya haruslah tetap dilakukan untuk dapat membatasi arah sesuai tujuan pendefinisian dimaksud. Dalam kaitan itu, ada beberapa pendapat yang akan dikemukakan dalam tulisan ini.
Agama bagi Giddens (2005) adalah media pengorganisasian bagi kepercayaan yang tidak sekedar satu arah. Bukan hanya iman dan kekuatan religius yang menyediakan dukungan yang secara takdir dapat dijadikan sandaran: Demikian juga para fungsionaris keagamaan. Yang terpenting adalah bahwa kepercayaan religius biasanya menginjeksikan reliabilitas ke dalam pengalaman pelbagai peristiwa dan situasi dan dari suatu kerangka
Agama juga disinonimkan dengan Religion berasal dari kata Latin “religio”, berarti “tie-up” dalam bahasa Inggris, Religion dapat diartikan “having engaged ‘God’ atau ‘The Sacred Power’.
Secara umum di Indonesia, Agama dipahami sebagai sistem kepercayaan, tingkah laku, nilai, pengalaman dan yang terinstitusionalisasi, diorientasikan kepada masalah spiritual/ritual yang disalingtukarkan dalam sebuah komunitas dan diwariskan antar generasi dalam tradisi.
Berangkat dari beberapa pemahaman diatas, dapat ditarik beberapa point tentang pengertian agama bahwa agama adalah kodifikasi kepercayaan, praktik ibadat, hukum etika, keanggotaan denominasi, eksternal dan memasukkan spiritualitas di dalamnya.
Penegasan yang ingin ditekankan pada pemahaman keagamaan disini adalah bahwa konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.
Apa itu Pekerjaan Sosial
Pekerjaan sosial adalah profesi kemanusiaan yang telah lahir cukup lama. Sejak kelahirannya sekitar 1800-an. Purifikasi peksos terus berlanjut sejalan dengan tuntutan perubahan dan aspirasi masyarakat. Namun demikian, seperti halnya profesi lain (Guru, Dosen, Dokter), fondasi dan prinsip dasar pekerjaan sosial tidak mengalami perubahan.
Pekerjaan sosial berbeda dengan profesi lain, semisal psikolog, dokter atau psikiater. Dalam praktek kerjanya dia senantiasa harus melibatkan aspek-aspek diluar klien dalam penyelesaian masalahnya. Artinya, bahwa mandat utama pekerja sosial adalah memberikan pelayanan sosial baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat yang membutuhkannya sesuai dengan nilai-nilai, pengetahuan dan ketrampilan professional pekerjaan sosial.
Selain itu, pekerjaan sosial juga merupakan aktivitas professional untuk menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan dimaksud. Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai.
Dalam konferensi internasional di Montreal Kanada, juli 2000, IFSW mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai Profesi yang mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan. Perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan manusia, serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teori-teori perilaku manusia dan sistem-sistem sosial. Pekerjaan sosial melakukan intervensi pada titik dimana orang berinteraksi dan keadilan sosial merupakan sangat penting bagi pekerjaan sosial.
Pendekatan Modern dalam Praktek Pekerjaan Sosial
Sebagai aktivitas kemanusiaan yang sejak kelahirannya sekian abad yang lalu, Pekerjaan Sosial telah memiliki perhatian yang mendalam pada pemberdayaan masyarakat miskin. Prinsip-prinsip pekerjaan sosial, seperti ‘menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri’ (to help people to help themselves), ‘penentuan nasib sendiri’ (self determination), ‘bekerja dengan masyarakat’ (working with people dan bukan ‘bekerja untuk masyarakat’ atau working for people), menunjukkan betapa pekerjaan sosial memiliki komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat dan bahwa pekerjaan sosial merupakan profesi yang populis dan tidak elitis.
Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai. Dalam praktek pekejaan sosial ini, ditujukan untuk terapi sosial dalam upaya mewujudkan keberfungsian sosial.
Penyembuhan sosial sendiri oleh Suharto, dikategorikan kedalam dimensi pendekatan macro dan micro. Pendekatan mikro merujuk pada berbagai keahlian dan ketrampilan pekerja sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh individu berupa problem psikologi (Stess dan depresi, hambatan relasi, penyesuaian diri, kurang percaya diri, alienasi atau kesepian dan keterasingan, apatisme dan gangguan mental. Sedangkan metode utama yang digunakan pekerja sosial dalam setting mikro tersebut adalah terapi perseorangan (casework) dan terapi kelompok (gruopwork) yang didalamnya melibatkan terapi berpusat pada klien, terapi perilaku, terapi keluarga dan terapi kelompok. Pendekatan makro adalah penerapan metode dan teknik pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dan lingkungannya (system sosial), seperti kemiskinan, ketelantaran, ketidak adilan sosial, dan eksploitasi sosial. Tiga metode utamanya berupa terapi masyarakat (Community development) popular dengan nama Pengembangan masyarakat, Manajemen pelayanan kemanusiaan (human service management) atau terapi kelembagaan dan analisis kebijakan sosial (social policy analysis).
Perbedaan utama antara community work, human service management dan social policy analysis adalah jika dua metode yang pertama merupakan pendekatan pekerjaan sosial dalam praktek langsung dengan kliennya, maka analisis kebijakan sosial merupakan metode pekerjaan sosial dalam praktik tidak langsung.
Dalam konteks pemberdayaan misalnya, sebagaimana dikemukakan Ife , pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien, Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: Pendefinisian kebutuhan: Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
Pemberdayaan dan Praktek Pekerjaan Sosial
Pendekatan Modern dalam praktek pekerjaan sosial dalam pencapaian tujuan pemberdayaan di atas dicapai melaui penerapan pendekatan pemberdayaan yang meliputi: (1) Pendekatan Mikro, (2) Pendekatan Mezzo, dan Pendekatan Makro
Pendekatan Mikro menekankan bahwa pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai Pendekatan yang Berpusat pada Tugas (task centered approach).
Pendekatan Mezzo memfokuskan pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Pendekatan Makro disebut juga sebagai Strategi Sistem Besar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Pendekatan ini memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak.
Prinsip Pekerjaan Sosial
Prisip pekerjaan sosial dalam dimensi pemberdayaan tersebut dapat doformulasikan sebagai berikut: (1) Pemberdayaan adalah proses kolaboratif dengan mana masyarakat / Klien dan pekerja sosial bekerjasama sebagai partner, (2) Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat miskin sebagai kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatan-kesempatan.(3) Masyarakat/Klien harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting yang dapat mempengaruhi perubahan. (4) Kompetensi diperoleh atau dipertajam melalui pengalaman hidup, khususnya pengalaman yang memberikan perasaan mampu pada masyarakat miskin. (5) Solusi-solusi, yang berasal dari situasi khusus, harus beragam dan menghargai keberagaman yang berasal dari faktor-faktor yang berada pada situasi masalah tersebut. (6) Jaringan-jaringan sosial informal merupakan sumber dukungan yang penting bagi penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi serta kemampuan pengendalian seseorang. (7) Masyarakat miskin harus berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri: tujuan, cara dan hasil harus dirumuskan oleh mereka sendiri. (8) Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena pengetahuan dapat memobilisasi tindakan bagi perubahan. (9) Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber tersebut secara efektif. Dan (10) Proses pemberdayaan besifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif; permasalahan selalu memiliki beragam solusi.
Teknik dalam Pekerjaan Sosial
Dubois dan Miley memberi beberapa cara atau teknik yang lebih spesifik yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat:
1. Membangun relasi pertolongan yang: (a) merefleksikan respon empati; (b) menghargai pilihan dan hak klien menentukan nasibnya sendiri (self-determination); (c) menghargai keberbedaan dan keunikan individu; (d) menekankan kerjasama klien (client partnerships).
2. Membangun komunikasi yang: (a) menghormati martabat dan harga diri klien; (b) mempertimbangkan keragaman individu; (c) berfokus pada klien; (d) menjaga kerahasiaan klien.
3. Terlibat dalam pemecahan masalah yang: (a) memperkuat partisipasi klien dalam semua aspek proses pemecahan masalah; (b) menghargai hak-hak klien; (c) merangkai tantangan-tantangan sebagai kesempatan belajar; (d) melibatkan klien dalam pembuatan keputusan dan evaluasi.
4. Merefleksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan sosial melalui: (a) ketaatan terhadap kode etik profesi; (b) keterlibatan dalam pengembangan profesional, riset, dan perumusan kebijakan; (c) penterjemahan kesulitan-kesulitan pribadi ke dalam isu-isu publik; (d) penghapusan segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan kesempatan.
Contoh pembahasan dalam dimensi pemberdayaan di atas menunjukkan bagaimana pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial dilakukan. Praktek pekerjaan tersebut terlihat sebagai sebuah pendekatan yang dilandasi oleh kerangka keilmuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai dalam aktivitas professionalnya.
Pendekatan Agama dalam Praktek Pekerjaan Sosial
Berbeda dengan modernisme yang bertumpu pada rasionalitas dengan sistem berfikir bi-logical, agama memiliki nilai spiritualitas yang berfungsi secara transenden; Hanya spiritualitas yang mampu memaafkan kejadian yang menyakitkan dan traumatis. Dalam konteks inilah seorang pekerja sosial melalui pendekatan agama akan mampu sensitive dan responsive terhadap kebutuhan spiritualitas klien sebagai mahluk yang Unik.
Dalam hal intervensi kesehatan mental misalnya, peran spiritualitas sebagai bagian integral dari agama sangat memegang peranan penting untuk keberhasilan intervensi pada klien mengingat dalam spiritulitas sesungguhnya terkandung daya dimana klien dapat beradaptasi dalam menyelesaikan masalah.
Dalam konteks tradisional sendiri, berbagai program kemanusian dimana peran pekerja sosial inklut didalamnya telah banyak dilaksanakan oleh berbagai agama sebagai pembawa misi kemanusiaan. Namun landasan tersebut lebih bersifat karikatif dan belas kasih belaka sehingga yang terjadi kemudian adalah acap kali menimbulkan ketergantungan klien terhadap pekerja sosial. Dengan kata lain tidak menyentuh aspek substansial keberfungsian sosial sebagaimana yang di maksudkan oleh pendekatan modern.
Keberfungsian sosial menitik beratkan pada kemandirian klien dan menjauhkannya pada sifat-sifat ketergantungan. Maka itu, karikatif dan rasa belas kasih semata sangat tidak sejalan dengan ruh pekerjaan sosial sebab pada gilirannya hanya akan menimbulkan sifat ketergantungan dan bukan kemandirian. Hal ini dapat terlihat pada penyaluran zakat misalnya yang kemudian hanya disalurkan secara tradisional-konsumtif sehingga penerima tetap pada posisi sebagai penerima dan tidak berfikir bagaimana pada kesempatan berikutnya dapat menjadi pemberi.
Urgensi Integrasi Pendekatan Agama dan Modern dalam Pekerjaan Sosial
Dalam memberikan pengantarnya terhadap buku Caputo “ Agama Cinta Agama Masa Depan”, Sugiharto berargumen bahwa Untuk menjadi sungguh-sungguh berarti kembali, maka agama perlu melakukan kritik-diri secara structural, mengenali persoalan-persoalan mendasar dunia modern, dan mampu menawarkan visi peradaban dan kemanusiaan yang baru. Tanpa itu, ia hanya akan berakhir sebagai kekuatan disintegrasi peradaban paling mengerikan, atau semangat nostalgis naif yang berbahaya.
Secara substansial pernyataan tersebut mengandung makna bahwa sesungguhnya peran agama dalam praktek pekerjaan sosial sangat urgen mengingat adanya tanggung jawab etis peksos terhadap klien dan terhadap masyarakat yang juga terinternalisasi dalam nilai-nilai universal keagamaan. Namun, hal yang sangat ironis adalah tingginya signifikansi agama dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, tidak dibarengi dengan perkembangan yang memadai dalam hal integrasi pendekatan agama dalam ilmu-ilmu sosial dan pendampingan masyarakat. Agama nampaknya hanya bersifat experential, yang kita dapatkan dan pelajari dari pengalaman, tapi tidak bersifat scientific.
Pendekatan agama dalam terapi klinikal ataupun pemberdayaan masyarakat secara luas, misalnya, masih bersifat tradisional karena belum dikembangkan secara ilmiah. Pendekatan agama, dengan demikian, tidak ”layak” sebagai bagian dari pendekatan modern dan selanjutnya, tidak mampu menjadi model intervensi dan pendampingan di masyakarat.
Dengan demikian, integrasi terhadap kedua jenis pendekatan (modern dan Agama) merupakan sebuah keharusan dengan mengemukakan beberapa alasan : (1) Secara historis dan filosofis, Peksos memiliki pertalian erat dengan agama. Sejarah telah membuktikan bahwa pekerjaan sosial sendiri tumbuh dan berkembang dari kalangan agamais (Kristen katolik di Inggris). Sedangkan secara filosofis baik peksos dan agama, sama-sama menaruh perhatian pada aspek mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan tanpa pilih buluh. (2) Peksos dan spiritualitasdan agama saling belajar dan memberi kontribusi satu sama lain.(3) Pengetahuan tentang spiritualitas dan agama membantu peksos membangun kosmologi dan antropologi spiritual. (4) Tidak ada alasan peksos dan pemimpin agama untuk tidak berkerjasama. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa sesungguhnya islam baik dan relevan di setiap masa dan tempat
Dalam agama islam sendiri, keterpautan antara Ilmu pengetahuan dan ajarannya sangatlah erat (Al–Islam Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan). Bahkan para ilmuan seperti Ernest Gellner misalnya, berpendapat bahwa sesungguhnya Islam merupakan agama yang transformatif dan bahkan menurutnya, Islamlah yang paling memiliki kedekatan dengan ilmu pengetahuan. Pengakuan ini dijelaskannya dalam beberapa aspek sebagai berikut: Pertama, universalisme ajaran Islam, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam dapat diterapkan dimana saja dan kapan saja bahkan Islam mapu menyerap tradisai dan budaya lokal. Kedua, Skripulisme Islam, bahwa Islam mengajarkan bahwa kitab suci dapat dibaca dan dipelajari oleh siapa saja, bukan monopoli kelompok tertentu dalam hirarki keagamaan. Ketiga, Egalitarianisme spiritual, dalam arti tidak terdapat sistem kependetaan atau kerahiban dalam Islam, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi spiritualnya. Keempat, Sistematis rasional dalam kehidupan sosial. Kelima, Semangat keilmuan yang tinggi, sehingga setiap pemeluk Islam meyakini betapa tingginya penghargaan Islam terhadap ilmu.
Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pengintegrasian antara pendekatan agama dan pendekatan moderen dalam pekerjaan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Baik ilmu pengetahuan dan agama yang saling tidak bertegur sapa, telah terbukti secara faktual mengalami kegagalan dalam melakukan misi kemanusiaannya. Melalui pembahasan yang komparatif ini, terlihat bahwa integrasi antara keduanya adalah sebuah keharusan.
Kesimpulan
1. Ambruknya ideology raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaliguis tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis , demokratis dan berkeadilan
2. Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias, excessive self-blaming, Fatalistik dan status quo serta dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.
3. Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegratif dan saling bekerja sama, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi sama-sama berpotensi untuk gagal.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Amin, Jurnal Filsafat dan Teologi: Hak Asasi Manusia Tantangan Bagi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1998)
Caputo, D. Jhon, Agama Cinta Agama Masa Depan, (Bandung : Mizan, 2003)
DuBois, Brenda dan Karla Krogsrud Miley, Social Work: An Empowering Profession, (Boston: Allyn and Bacon, 1992)
Gellner, Ernest, Muslim Society, (Cambridge University Press, 1981)
Giddens, Anthony, Konsekwensi-Konsekwensi Modernitas, (Yogyakarta:Kreasi Wacana, 2005)
IISEP, CIDA, Islam Dakwah dan Kesejahteraan Sosial, (Yogyakarta:Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fak. Dakwah UIN SUKA, 2005)
Ife, Jim, Community Development: Creating Community Alternatives,Vision, Analysis and Practice, (Longman, Australia, 1995)
Suharto, Edi, Membangun Masyarakatm, Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial, (Bandung : Revika Aditama, 2005)
Suparjan dan Suyatno, Hempri, Pengembangan Masyarakat dari Pembangunan samapi Pemberdayaan, (Yogyakarta : Aditya Media, 2003)
Langganan:
Postingan (Atom)