Selasa, 24 Agustus 2010

Urgensi Kontinuitas Membaca Al Quran dalam membentuk Akhlak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang meberikan ketenangan lahir dan batin kepada setiap pemeluknya. Tidak hanya rahmat kepada pemeluk Islam saja, tapi Islam merupakan agama Rahmatan Lil‘Alamin. Yang memberikan solusi bagi segala permasalahan yang dialami manusia. Sebagian dari praktek ajaran Islam adalah yang sebagaimana termaktub baik secara implisit maupun eksplisit dalam Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup manusia.
Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal ini, berupaya memberikan solusi yang komperensif dan universal dalam segala bidang kehidupan manusia. Dimana nilai-nilai yang ada dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah terdapat amalan-amalan dan do’a. Al Qur’ansebagai kitab suci agama Islam merupakan kitab yang paling sempurna diantara kitab-kitab samawi yang diturnkan Allah SWT, Ia merupakan mukjizat yang abadi, satu-satunya sumber yang tidak terbantahkan dan pasti Al Qur’an berbicara kepada ratio manusia, ia juga mengajarkan kepada manusia dengan berbagai praktek ibadah dan menunjukkan kepada manusia dimana letak kebaikan dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan.
Al Quran, kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai slah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam semesta. Di dalamnya terklumpull wahyu ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa saja yang mempercayainya serta mengamalkannya. Bukan itu saja, tetapi Al Quran juga adalah kitab suci yang paling penghabisan yang diturunkan Allah, yang isinya mencakup segala pokok-pokok syariatt yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturnkan sebelumnya.
Bahwa membaca Al Quran adalah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab yang dibacanya adalah kitab suci ilahi.
Al Quran adalah sebaik baik bacaan bagi orang mukmin, baik dikala sedih maupun dikala sedang bahagia. Malahan membaca Al Quran itu bukan saja menjadi amal dan ibadah, tetapi juga menjadi obat penawar bagi yang gelisah jiwanya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Isro 82 :




Al Quran bukan hanya berisi pelajaran dan bimbingan hubungan antara manusia dengan Tuhan penciptanya, melainkan memberikan petunjuk mengenai hubungan manusia dengan dirinya (sebagai makhluk pribadi) dengan masyarakat skelilingnya (sebagai makhluk social), dan dengan makhluk yang lain serta alam semesta (sebagai hamba Allah yang hidup di antara berbagai makhluk lain Ciptaan-Nya), Al Quran merupakan petunjuk manusia kepada jalan yang terbaik guna merealisasikan dirinya, mengembangkan kepribadiannya dan mengantarkan manusia ke jenjang kesempurnaan insane agar dengan demikian ia dapat merealisasikan kebahagiaan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Secara terperinci al Quran memberikan petunjuk tentang sikap dan langkah yang mesti menjadi milik dan cirri pribadi muslim menuju kehidupan yang lebih baik, sehingga menusia dapat mewujudkan kedamaian dan ketenangan bathin.
Al Quran juga mendorong manusia untuk berjalan dimuka bumi, mengamati makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ini dan mengkaji serta memikirkan ciptaan-Nya yang ada di langit dan dibumi. “Sehingga keindahan dan kejadian makhluk dapat dijadikan sebagai bukti akan adanya dzat pencipta Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
Firman Allah dalam QS Yunus : 57










Hasby Ash Shidiqy berpendapat bahwa berdzikir, berdoa, beristighfar, bertilawah merupakan amalan-amalan utama yang harus dilakukan umat Islam untuk kesempurnaan Islamnya. Oleh karena itu aktivitas yang dilakukan santri dengan membaca Al Quran, mujahadah dan aktifitas ubidiyah lain mempunyai dampak yang positif bagi mental santri. Dan hal tersebut akan lebih efektif dan efisien jika dilakukan secara rutin. Sehingga santri diharuskan untuk mengaji setiap habis sholat maghrib dan sehabis sholat shubuh bersama kiyai. Melihat hal tersbut di atas, maka penelitian ini akan mengambil judul “ Urgensi Kontinuitas Membaca Al Quran dalam membentuk Akhlak dan Mental Santri ( Studi Analisis di Taman Pendidikan Al-Qur’an PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar )”.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul yang diangkat maka dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut :
A. Bagaimana Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an di PP Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo ?
B. Bagaimana Akhlak Spiritual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo ?
C. Adakah Hubungan Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an Dengan Ahklak Dan Spiritual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo ?



C. Tujuan Penelitian
Dengan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an di PP Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo.
2. Untuk mengetahui Bagaimana Akhlak Spiitual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
3. Untuk mengetahui Adakah Hubungan Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an Dengan Ahklak Dan Spiritual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.

D. Kerangka Teori
Hipotesis penelitian adalah dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin salah. Hipotesis akan ditolak jika salah atau palsu, adan akan diterima jika fakta-fakt membenarkannya. Sedangkan Hadari Nawawi mendefinisikan hipotesis adalah dalil atau prinsip yang logis dan dapat diterima secara rasional tanpa mempercayai sebagai kebenaran sebelum diuji, disesuaikan dengan fakta atau kenyataan yang mendukung atau menolak kebenarannya. Selanjutnya berangkat dari permasalahan diatas, penelitian ini mengajukan hipotesis sebagai berikut:
“Bahwa rutinitas membaca Al Qur’an mempunyai dampak yang signifikan atau pengaruh positif tehadap kesehatan mental / akhlak santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo. “Mengingat hipotesis adalah dugaan sementara yang mumgkin benar atau salah, maka dilakukan pengkajian ulang pada analisis untuk dapat membuktikan apakah hipotesis yang diajukan dapat diterima atau tidak.

Maimunah Hasan dalam bukunya Al Qur’an dan Pengobatan Jiwa menuliskan bahwa ada banyak penyakit di dunia yang pada umumnya biasa disembuhkan berdasarkan ilmu kedokteran. Namun masih banyak juga yang belum bisa disembuhkan oleh dokter, misalnya antara lain hal yang menyabgkut kejiwaan, yang tertekan, yang merasa dikejar dosa, bisa menimbulkan penyakit yang sifatnya fisik.
Sebetulnya kalau manusia mau mendalami Al Qur’an, tidak perlu merasa risau, karena Al Qur’an bisa menjadi obat maupun mencegah penyakit. Al Qur’an adalah kumpulan konsep Allah yang pasti mujarab jika manusia bisa memanfaatkannya.
Ibadah dalam agama Islam banyak yang berkaitan erat dengan keadaan tubuh. Misalnya puasa, haji, bahkan juga shalat lima waktu yang dilakukan sehari-hari oleh umat Islam.
Jiwa manusia itu sendiri tersusun dari tiga komponen, yaitu perasaan (ide), rasio (ego), dan hati. Kalau resiko adalah produk dari ilmu dan rasa adalah produk dari seni, maka hati harus diisi dengan iman. Orang beriman adalah orang mukmin, dan orang-orang mukminlah yang bisa memanfaatkan Al Qur’an sebagai obat.
Menurut Maimunah Hasan penyebab penyakit dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
1. Fisikogen, yaitu penyebab yang nyata, seperti kuman, virus, cuaca buruk.
2. Psikikogen, yaitu penyebab karena tipisnya iman atau tidaknya iman dengan manifestasi rasa takut, sedih, kecewa, dengki, dan sebagainya.
3. Metafisik, yaitu disebabkan oleh dosa-dosa yang telah dilakukan.
4. Penyakit dengan sebab-sebab yang nyata bisa langsung dilihat, kemudian secara ilmu kedokteran dapat disembuhkan.
Sebab-sebab penyakit yang sifatnya psikispun sudah bisa diobati oleh ilmu kedokteran. Ada hubungan antara keadaan jiwa dengan kesehatan raga. Hubungan itu sifatnya multisistem, yaitu melalui sistem syaraf, sistem hormone, sistem pernafasan dan sebagainya. Seseorang tipis imannya atau tidak beriman, akan mudah takut, mudah marah, mudah kecewa dan sebagainya.
Setiap perubahan emosi menyebabkan naiknya kadar adrenalin di dalam tubuh, dan ini menimbulkan gejala fisik. Dan setiap emosi mempunyai sasaran tertentu, misalnya jika marah maka tekanan darah naik, atau jika takut maka detak jantung bertambah. Kesemuanya bisa menimbulkan penyakit jika terjadi berlarut-larut.
Orang yang beriman tidak mudah beremosi, sehingga terpeliharalah kesehatannya. Penyebab yang sifatnya metafisik adalah dosa-dosa yang diperbuat manusia. Misalnya seseorang terkena penyakit kelamin seperti sphylis atau gonorhoe atau yang sangat berbahaya seseorang bisa terkena penyakit yang belum ada yaitu penyakit Aids akibat ia telah berbuat zina dena wanita tuna susila.
Berbicara mengenai mental, sudah tidak sedikit lagi ilmuan dan buku yang dapat kita temukan, buku-buku tersebut sebagai sumber pendukung dalam pembahasan tentang mental, seperti karya Dr. Kartini Kartono, dalam Hygiene Mental disebutkan bahwa jasmani yang sehat ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut : punya energi yang cukup, ada stamina (daya tahan), memiliki kekuatan untuk bekerja, dan badan senantiasa nyaman dan sehat. Sedangkan orang yang memiliki mental yang sehat ditandai dengan sifat-sifat khas antara lain: mempunyai kemampuan-kemampuan untuk bertindak secara efisien, memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas, punya konsep diri yang sehat, ada koordinator antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi diri dan integrasi kepribadian dan batinnya selalu tenang.
Menurut Abdul Aziz El-Qussy kesehatan mental adalah mental yang terdapat dalam diri manusia yang mampu mengatasi pertentangan batin dan rasa kebimbangan. Sedangkan menurut Zakiyah Derajat dalam Kesehatan Mental dalam peranannya dalam pendidikan adalah suatu ilmu yang berpautan dengan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia baik hubungannya dengan diri sendiri maupun orang lain (alam), serta Tuhan.


E. Metode Penelitian
Mengingat Tesis ini bersifat lapangan, maka dalam hal ini penulis menggunakan beberapa metode yaitu :
1. Metode Analisa Data
a. Populasi
Yang dimaksud denagn populasi adalah keseluruhan subyek penelitian , dalam hal ini yang menjadi populasi adalah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
b. Metode Pengumpulan Data
1) Library Research atau penelitian kepustakaan, digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
2) Field Research atau penelitian lapangan, digunakan untuk mengumpulkan data dari lapangan. Untuk melakukan Field Research maka penulis menggunakan metode berikut:



c. Metode Observasi
Observasi diartikan sebagai pengumpulan informasi melalui pengamatan dan penelitian secara sistematik terhadap gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian.
Dalam mengaplikasikan metode ini, penulis berusaha mengumpulkan data dan informasi melalui pengamatan terhadap:
 Kondisi Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
 Aktifitas sehari-hari santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
d. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pencarian data mengenai data yang berupa catatan, transkip, buku-buku dan lain-lain14 . Metode ini penulis pergunakan untuk mendapatkan data seperti:
- Letak geografis.
- Jumlah santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.

e. Metode Interview
Interview adalah mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab dengan lisan pula. Dengan kata lain dapat diartikan sebagai alat pengumpulan data dengan menggunakan Tanya jawab antara pencari informasi dengan sumber informasi . Yang dimaksud adalah cara mengumpulkan data dan informasi melalui atau menggunakan cara berwawancara sebagaiberikut :
- Pengasuh PP MAC
- Dewan asatidz
- Santri dan warga masyarakat pesantren
f. Metode angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulisa yang diperguankan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan ttentang pribadinya atau hal-hal yang mereka ketahui. . Metode ini dipergunakan untk memperoleh data dari perilaku santri.

2. Analisis data
Untuk menganalisa data-data yang telah terkumpul dan diteliti dengan metode di atas, selanjutny dilakukan analisis untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya terhadap pokok malsalh yang dikaji. Adapun metode yang digunakan dalam menganalisis data ini adlah metode analisi kualitatif dengan meenggunakan metode induktif yaitu proses berfikir yang berangkat dari fakta-fakta yang jkhusus dimana peristiwa yang konkrit itu ditarik generalisasi yang bersifat umum. Fakta yang dimaksud penulis, penulis peroleh dilapangan yaitu Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
Penulis dalam melakukan pengolahan data menggunakan analisis prosentase sebagai berikut :
. f . x 100 %
n
dimana :
f = frekuensi jawaban
n = jumlah seluruh kategori jawaban
100 = bilangan tetap

F. Sistematika Penulisan
Secara garis besar tesis ini terdiri dari beberapa bab dan sub bab yang merupakan satu kesatuan system sehingga antar satu dengan yang lain saling berkaitan.
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari : Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kerangka Teoritis, Metode Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN TENTANG KONTINUITAS MEMBACA
AL QURAN DAN KESEHATAN MENTAL
Meliputi: sub bab satu Kontinuitas Membaca Al-qur’an, sub bab dua Tinjauan tentang Kesehatan Mental, dan sub bab ketiga Manfaat Al-Qur’an dalam Kehidupan.
BAB III GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA AL AZHAR CITANGKOLO KOTA BANJAR,
Meliputi : sub bab satu Gambaran Umum meliputi, Sejarah sengkat Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar, sub bab dua Program kerja Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar, dan sub bab tiga Data Asatizd dan Asatidzah
BAB IV ANALISIS URGENSI KONTINUITAS MEMBACA AL QUR’ANN DENGAN AHKLAK DAN SPIRITUAL
Meliputi : sub bab satu Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar, sub bab dua Akhlak Spiritual Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar, dan sub bab tiga Hubungan Urgensi Kontinuitas Membaca Al-Qur’an dengan Akhlak Spiritual Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar
BAB V PENUTUP
Meliputi : Kesimpulan dan Saran – saran


Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran
Daftar Riwayat Hidup








BAB II
TINJAUAN TENTANG KONTINUITAS MEMBACA AL-QUR’AN
DAN KESEHATAN MENTAL

A. Kontinuitas Membaca Al-Qur’an
1. Pengertian Membaca Al-Qur’an
Telah diungkapkan di berbagai tulisan bahwasannya kitabullah yang agung itu merupakan obat bagi ketentraman jiwa manusia. Tentunya hal ini akan terjadi jika al-Qur’an itu dikaji, dibaca, dipahami serta direalisasikan dalam tingkah laku.
Membaca al-Qur’an terdiri dari dua kata yaitu “membaca” dan “al-Qur’an”. Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis yaitu dengan melisankan atau hanya dihati. Sedangkan menurut Henry Guntur membaca adalah suatu proses yang dilakukan sarta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa lisan.
Soedarsono mendefinisikan membaca adalah aktifitas yang kompleks dengan mengerahkan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah, meliputi orang harus menggunakan pengertian dan khayalan, mengamati dan mengingat-ingat. Mahmud mendefinisikan membaca adalah materi pertama dalam dustur (undang-undang sistem ajaran) Islam yang sarat dengan makna, bimbingan dan pengarahan. Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu upaya untuk dapat mengerti apa yang tertulis.
Adapun pengertian al-Qur’an secara etimologis berarti bacaan atau yang dibaca. Sedangkan secara terminologis adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan bahasa Arab melalui Malaikat Jibril sebagai mukjizat sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam.
Fuadi Sya’ban mendefinisikan Al-Qur’an adalah kalamullah yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan lantaran malaikat Jibril sebagai sumber hukum syara’ dan ajaran agama Islam yang telah dibawa oleh rosulullah SAW dan membacanya saja adalah termasuk ibadah. Istilah al-Qur’an menurut bahasa berarti bacaan, telah dipaparkan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dalam arti demikian sebagian tersebut dalam surat Al-Qiyamah ayat 17-18 :


Artinya : ”Sesungguhnya mengumpulkan al-Qur’an (didalam diri kamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami, jika kami telah membacakannya hendaklah kamu ikuti bacaannya”

Dari pengertian membaca al-Qur’an, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud membaca al-Qur’an adalah suatu upaya untuk dapat mengerti apa yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dalam pemakaian sehari-hari membaca al-Qur’an dapat disebut juga dengan tilawah yang artinya membaca al-Qur’an atau beberapa ayat dari al-Qur’an, karena al-Qur’an itupun merupakan do’a, bahkan di dalamnya banyak terdapat ayat-ayat yang tersusun daripada do’a-do’a para nabi yang monumental dan dalam arti yang tidak dapat ditiru susunannya.
2. Dalil Tentang Membaca al-Qur’an
Banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajarkan kepada umat manusia untuk membiasakan membaca al-Qur’an dan mempelajarinya. Di antara ayat-ayat al-Qur’an tentangmembaca al-Qur’an sebagai berikut :


Artinya : “Mereka itu tidak sama di antara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah SWT, pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang)”. (QS. Ali Imran : 113).


Artinya : “Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlidungan kepada Allah SWT dari syaitan yang terkutuk” (QS. An-Nahl : 98)


Artinya : “Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah bacaan yang sangat mulia” (QS. Waqi’ah : 77)



Artinya : “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu” (QS. Al-Isra’ : 14)

Sedangkan diantara hadits-hadits Nabi tentang membaca al-Qur’an antara lain :



Artinya : “Dari Abi Ummamah Ra berkata: aku mendengar rasulullah SAW bersabda : bacalah al-Qur’an karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela bagi orang-orang yang membacanya” (HR. Muslim).




Artinya : “Perbanyaklah membaca al-Qur’an dirumahmu, maka sesungguhnya rumah yang didalamnya tidak dibaca al-Qur’an maka sedikit sekali kebaikannya dan banyak keburukannya” (HR. Daruquthi dari Anas).





Artinya : “Sesungguhnya perumpamaan orang yang hafal al-Qur’an (shohibul Qur’an) itu diibaratkan seperti unta yang diikat, apabila hendak menjaga keutuhannya maka pegang teguh dan apabila melepaskannya dia pun akan hilang” (HR. Muslim).

Jelaslah bahwa membaca al-Qur’an itu merupakan amalan utama yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Orang yang membaca al- Qur’an, besok pada hari kiamat akan memperoleh pembelaan dari al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan bacaan yang mulia yang didalamnya terdapat petunjuk bagi manusia untuk mengarungi hidup, orang tidak akan dapat mengambil manfaat dari al-Qur’an kecuali dengan membacanya yang akan dapat memberikan sentuhan terhadap kehidupan dimasa mendatang. Jelaslah bahwa dengan membaca al-Qur’an maka akan dapat memetik manfaat darinya, ia akan memperoleh petunjuk untuk hidup baik di dunia maupun di akhirat.
3. Adab atau Tata Cara Membaca Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang agung dan mulia. Oleh karena itu, dalam membacanya juga sudah barang tentu diperlukan adab atau tata sopan santun agar hati dan pikiran saat membacanya benar-benar terpusat pada ayat-ayat al-Qur’an yang dihadapinya.
Diantara adab-adab lahiriyah membaca al-Qur’an sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Djamaluddin Al-Qosyimiy dalam terjemahan kitab Mauidhotul Mu’min min Ihya’ Ulumuddin adalah sebagai berikut :
a. Menyangkut pembacanya yakni hendaklah ia berwudlu terlebih dahulu.
b. Tartil yakni membaca dengan tertib dan perlahan-lahan.
c. Menangis, ini sangat dianjurkan dalam membaca al-Qur’an
d. Memelihara hak-hak ayat yang akan dibacanya.
e. Pada permulaan membaca hendaklah mengucapkan :


Artinya : “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syaitan yang terkutuk.



f. Merendahkan bacaan adalah lebih menjauhkan dari sikap riya’ dan dibuat-buat (tidak dibuat-buat)
g. Memperindah bacaan dan menertibkannya.
Hasbi Ash-Shidieqy menambahkan bahwa dalam membaca al-Qur’an hendaklah :
a. Ditempat bersih dan mulia, terutama di dalam masjid
b. Membaca al-Qur’an dengan menghadap ke kiblat.
c. Membersihkan mulut terlebih dahulu.
d. Mentafkhimkan suara yakni membaca dengan suara yang agak keras.
Selain adab-adab lahiriyah, ada juga yang dinamakan adab batin dalam membaca al-Qur’an. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh imam An-Nawawi :
a. Ikhlas ketika membacanya, hanya karena Allah SWT semata.
b. Berpegang teguh dengan memelihara adab terhadap al-Qur’an.
c. Sepenuh hati ia munajat kepada Allah SWT.
d. Ia membaca al-Qur’an dalam keadaan sebagai orang yang memandang Allah SWT, maka Allah yang selalu memandang kepadanya.

Artinya : “Maka membaca al-Qur’an itu dengan cara seakan-akan dalam kondisi melihat Allah, apabila tidak bisa menghadirkannya, maka yakinlah bahwa sesungguhnya Allah itu melihatnya”.

4. Manfaat Membaca Al-Qur’an
Tentang manfaat dan kelebihan membaca al-Qur’an, Rosulullah telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang maksudnya demikian :”Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi oleh Allah kitab suci al-Qur’an, dibacanya siang dan malam, dan orang yang dianugerahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridloi oleh Allah.
Di dalam hadits yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula, Rosulullah menyatakan tentang kelebihan martabat dan keutamaan orang yang membaca al-Qur’an, demikianlah maksudnya :”
Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat, orang mukmin yang tidak suka membaca al-Qur’an ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya akan tetapi rasanya manis, orang munafik yang membaca al-Qur’an ibarat sekuntum bunga yang berbau harum tetapi rasanya pahit dan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an tidak ubahnya seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.
Dalam sebuah hadits, Rosulullah juga menerangkan bagaimana besarnya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca al-Qur’an di rumah-rumah peribadatan (masjid, musholla, dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang masyhur lagi shahih, yang artinya sebagai berikut :”kepada kaum yang suka berjama’ah di rumah-rumah peribadatan, membaca al-Qur’an secara bergiliran, dan ajar mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan berlilmpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka”.(diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah).
Dengan hadits diatas nyatalah, bahwa membaca al-Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya, memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya hingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat al-Qur’an itu dibaca.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas ra.,Rosulullah bersabda:”Hendaklah kamu beri Nur (cahaya) rumah tanggamu dengan shalat al-Qur’an dan dengan membaca al-Qur’an. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Daru Quthni dari Anas ra, Rosulullah memerintahkan :”Perbanyaklah membaca al-Qur’an di rumahmu, sesungguhnya di dalam rumah yang tidak ada orang yang membaca al-Qur’an, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah.
Dalam hadits yang lain lagi, yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Orang yang pandai membaca al-Qur’an itu akan bersama para Rosul yang mulia di akhirat nanti, adapun orang yang lemah dan terlekat-lekat ketika membaca al-Qur’an dan dia memang berkeinginan untuk membaca al-Qur’an, maka dia berhak mendapat dua pahala.
Mengenai pahala membaca al-Qur’an, Ali Bin Abi Thalib mengatakan bahwa, tiap-tiap orang yang membaca al-Qur’an dalam shalat, akan mendapat lima puluh kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya, membaca al-Qur’an di luar shalat dengan berwudlu, pahalanya dua puluh lima kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya, dan membaca al-Qur’an di luar shalat dengan tidak berwudlu, pahalanya sepuluh kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya.
B. Tinjauan Tentang Kesehatan mental
1. Pengertian Kesehatan Mental
Pengertian kesehatan mental menurut para tokoh psikologi terdapat banyak pengertian. Menurut Dr. Zakiyah Darajat kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurosis) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psikosis). Kemudian ia menambahkan lagi bahwa kesehatan mental adalah terhindar dari gangguan dan penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalahmasalah dan kegoncangan biasa, adanya keserasian fungsi-fungsi jiwa (tidak ada konflik) dan merasa bahwa dirinya berharga, serta dapatmenggunakan potensi yang ada pada dirinya sendiri seoptimal mungkin. Menurut Utsman Najati, mental adalah organisasi dinamis dari peralatan fisik dalam diri individu yang membentuk karakternya yang unik dalam penyesuaian dengan lingkungannya. Menurut Mursal dan M Tahir, kesehatan mental adalah identik dengan kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik seseoarang yang tercermin dalam cita-cita sikap dan perbuatannya.
Dari pengertian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa mental adalah keseluruhan dan unsur kejiwaan (psikis) seseorang seperti cara berfikir, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang kesemuanya itu akan tercermin dalam tingkah laku atau perbuatannya.
2. Dasar dan Faktor Kesehatan Mental
a. Dasar Kesehatan Mental
1) Dasar Agama
Unsur terpenting membantu pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan manusia adalah iman yang direalisasikan dalam bentuk ajaran agama. Maka dalam Islam prinsip pokok yang menjadi sumbu kehidupan manusia adalah iman. Karena iman menjadi pengendali sikap, ucapan, tindakan dan perbuatan, tanpa kendali tersebut akan mudahlah orang terdorong melakukan hal-hal yang merugikan dirinya atau orang lain dan akan menimbulkan penyesalan dan kecemasan yang menyebabkan tergoncangnya kesehatan jiwa. Sebaliknya, jika nilai-nilai yang diterima itu jauh dari agama, maka unsur-unsur kepribadiannya akan jauh pula dari kebaikan dan akan menjadi goncang.

2) Faktor Kesehatan Mental
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Kesehatan mental menurut para ahli ada beberapa macam pendapat. Untuk mempermudah dan sekaligus menyederhanakan, maka disini penulis akan kemukakan tiga pendapat para ahli, yaitu :
a. Aliran Nativisme
Para ahli yang mengikuti aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu termasuk perkembangan mentalnya ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi perkembangan itu semata-mata ditentukan oleh dasar atau bawaan. Tokoh utama dalam aliran ini adalah Schoupenhaeur. Aliran ini mempertahankan konsepsi dengan menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya, keistimewaankeistimewaan yang dimiliki oleh orang tuanya tersikap dalam tingkah lakunya yang akan dimiliki oleh anak-anaknya.
b. Empirisme
Para ahli yang mengikuti aliran ini berpendapat bahwa perkembangan individu termasuk mentalnya ditentukan oleh faktor lingkungannya, sedangkan faktor dasar tidak memegang peranan sama sekali. Tokoh utama dalam aliran ini adalah John Lock.
c. Konvergensi
Faham atau aliran ini berpendapat berpendapat bahwa didalam perkembangan individu, baik dasar atau pembawaan dan juga peran lingkungan merupakan hal yang penting. jadi dalam perkembangan individu termasuk mentalnya banyak dipengaruhi oleh dasar atau pembawaan maupun lingkungan. Tokoh aliran iniadalah W. Stern. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat atau pembawaan yang sudah ada perlu ditunjang oleh lingkungan yang sesuai agar dapat berkembang dengan baik. Di samping bakat sebagai kemungkinan yang harus dijawab oleh lingkungan yang sesuai, perlu juga dipertimbangkan soal kematangan.

Dari ketiga pendapat jelas bahwa pendapat pertama dan kedua saling bertentangan. Kedua pendapat itu bukan merupakan pilihan penulis. Dalam pembahasannya kedua pendapat ini mempunyai kekurangan masing-masing, penulis berpendapat bahwa perkembangan individu tidak hanya ditentukan atau dipengaruhi oleh salah satu dari kedua faktor tersebut secara mutlak, akan tetapi perkembangan itu ditentukan oleh kedua-duanya, yaitu faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Oleh karena itu penulis cenderung kepada aliran yang mengambil jalan tengah, yaitu aliran konvergensi yang menyatakan bahwa faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama berpengaruh, sehingga jika kembali kepada pokok permasalahan di atas, maka dapat dikaatakan bahwa perkembangan mental seseorang dipengaruhi oleh kedua faktor yang dimunculkan oleh aliran konvergensi.
Dengan demikian maka dapatlah dikatakan bahwa dalam pembentukan mental yang Islami itu dapat dibentuk lewat pendidikan agama Islam. Sebagai alatnya akan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu ; lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah.
3. Materi Kesehatan Mental
Inti dari kesehatan mental adalah kesemuanya tercantum dalam materi pendidikan agama Islam, yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak. Materi ini diajarkan agaar manusia senantiasa dalam hidupnya akan terbimbing dan akan terbentuk mental yang islami, yang akan menentukan bentuk lahir atau akan tercermin tingkah laku yang agamis.
Jika mental seseorang sudah tertanam, mental atau jiwa yang agamis sudah terisi dengan aqidah Islamiyah yang kuat maka ia akan bertindak sesuai dengan ajaran agama tersebut.
a. Materi Aqidah (keimanan)
Penanaman aqidah ke dalam jiwa manusia merupakan prioritas yang pertama kali ditanamkan oleh para rosul dalam menyiarkan agama Islam sekaligus Aqidah (iman) juga sebagai dasar agama Islam.
Dalam aplikasinya penanaman materi aqidah sangat determinan bagi kehidupan manusia, yang mana mereka harus mampu memahami unsur ajaran agama Islam secara keseluruhan meliputi materi aqidah, syari’ah, dan akhlak. Dan yang paling fundamental adalah keimanan.
Sayyid Abul A’la Maududi mengemukakan sembilan pengaruh keimanan terhadap mental seseorang, yaitu sebagai berikut :
1. Orang yang percaya kepada kalimat atau pernyataan ini “percaya kepada Allah SWT, tidak mempunyai pandangan yang sempit dan picik”.
2. Kepercayaan ini menimbulkan sifat penghargaan dan penghormatan pada diri sendiri.
3. Bersamaan dengan hormat kepada diri sendiri, pernyataan ini juga menimbulkan rasa rendah diri dan kesederhanaan.
4. Kepercayaan (keimanan) ini membuat manusia menjadi baik (shahih) dan adil jujur).
5. Orang yang percaaya (beriman) tidak menjadi murung atau patah Hati dalam segala hal/keadaan.
6. Kepercayaan (tauhid) menimbulkan keimanan tingkat tinggi, ketabahan hati dan kepercayaan kepada Tuhan.
7. Pernyataan ini akan menimbulkan keberanian pada diri sendiri seseorang.
8. Kepercayaan kepada “La Ilaha Ilallah” menimbulakan sikap damai dan puas hati, membersihkan sikap hasud dan cemburu, sakit hati dan tamak serta menjauhkan diri dari memuja jalan yang hina, jalan yang tidak lurus atau tidak layak untuk mencapai kemenangan. Efek atau kesan terpenting dari kalimat “La Ilaha Ilallah” ialah membuat manusia patuh dan waspada terhadapperaturan-peraturan atau hukum-hukum Tuhan.

b. Materi Akhlak
Materi akhlak Meskipun pengaruhnya tidak seperti aqidah, tetapi mempunyai urgensi yang banyak juga. Sebagaimana yang telah dijelaskan Ahamd Amin yang dikutip oleh Ismail Thaib bahwa urgensi ilmu akhlak itu banyak sekali, antara lain meliputi :
1. Ilmu akhlak dapat menyinari orang dalam memecahkan masalah yang dihadapi manusia yaitu kesulitan-kesulitan rutin dalam hidup sehari-hari.
2. Dapat menjelaskan kepada orang sebab untuk memilih perbuatan yang baik dan lebih bermanfaat.
3. Dapat membendung dan mencegah secara kontinyu untuk tidak terperangkap kepada keinginan-keinginan hawa nafsu dan mengarahkannya kepada yang positif dengan menguatkan unsur irodah.
4. Manusia atau orang banyak mengerti benar-benar akan sebabsebab melakukan sesuatu perbuatan yang nilai kebaikannya lebih besar.
5. Mengerti perbuatan baik akan menolong untuk menuju dan menghadapi perbuatan itu dengan penuh minat dan kemajuan.
6. Orang yang mengkaji ilmu akhlak akan tepat dalam menvonis perilaku orang banyak dan tidak akan mengekor dan mengikuti sesuatu tanpa pertimbangan yang matang terlebih dahulu.

4. Permasalahan Kesehatan Mental.
Jika seseorang mendapatkan masalah batin, mengalami maladjusment (tidak mampu mengontrol daan menyesuaikan diri), konflik-konflik dalam diri sendiri yang serius atau mengidap bentukbentuk kekalutan mental lainnya, atau kurang sehat mentalnya maka ada beberapa prinsip atau metode yang harus diberikan.
a. Berusaha Memahami Pribadi Individu.
Setiap peribadi itu merupakan satu unitas multi-pleks (totalitas kepribadian yang rumit dan kompleks dengan ciri-cirinya yang khas). Masing-mssing mempunyai cara dan respons khusus dalam menggapai kesulitan hidupnya. Karena itu selidikilah pribadi itu, apakah ia normal atau sebagai orang yang lemah ingatannya atau seorang yang aneh (eksentrik). Berusaha menemukan motif-motif perjuangannya, prinsipprinsip hidupnya kemudian berusaha mendapatkan kepercayaan daripadanya agar dia menceritakan segala kesulitan daan tekanan batinnya, diusahakan memahami dan ikut merasakan segala ekspresinya (ada proses tepo sliro).
b. Mencari sebab-sebab timbulnya frustasi
Apaila ada seorang dewasa atau anak yang mempunyai cacat jasmaniah dan menimbulkan frustasi, maka harus ditolong dengan jalan menumbuhkan harga diri dan rasa kepercayaan diri yang besar dan bahwa cacatnya itu merupakan ujian hidup serta bentuk rahmat Illahi yang tetap harus dimanfaatkan.
Pada saat dihadapkan dengan realitas dan konteks yang harus dihadapi pemuda atau remaja, maka mereka dalam perkembangan dan pertumbuhan mentalnya banyak terdapat ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik batin dalam usaha untuk menemukan diri pribadi (internal) dan menemukan norma-norma kedewasaan. Jika terjadi konflilk antara anak-anak muda dengan orang tua hendaklah diusahakan menemukan satu jalan keluar. Solusi konflik ini sebaiknya saling adanya sikap saling menghargai satu sama lain sehingga ada suasana harmonis di antara keduanya.

c. Membuat rencana kerja untuk mendapatkan pengalaman positif
Hendaknya dikurangi persaingan-persaingan secara perorangan, sebagai gantinya menyibukkan diri secara positif dengan kerja sama dan kegiatan yang bisa menimbulkan persaingan secara kelompok. Semua peristiwa tadi untuk menumbuhkan rasa solidaritas daan kegotong royongan yang terasa amat kurang dalam zaman modern yang serba materialistis dan individulistis. Oleh karena itu, orang tua, guru dan para pembimbing harus mampu menjadi contoh yang baik bagi siapapun juga. Susunlah rencana kerja untuk memberikan kesibukan positif agar bisa menjadi kanalisasi sosial yang baik.
d. Memberikan cinta kasih dan simpati secukupnya
Penyelidikan dan eksperimen-eksperimen menunjukkan bahwa anak-anak yang sejak kecil memperoleh pemeliharaan berdasarkan cinta kassih dan kemesraan akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil dari pada anak-anak yang tidak pernah merasakan cinta kasih itu menjadi steril kehidupan afeksinya (emosional) dan menjadi asosial.

e. Menggunakan mekanisme penyelesaian positif
Jika seseoraang mengalami kekalutan mental usahakanlah agar bisa menyelesaikan konflik dengan menggunakan mekanisme pemecahan (solving mechanism) yang positif yaitu dengan resignasi, bekerja lebih giat dan berusaha lebih tekun dan mau sikap rela, legowo, dan nerimo (ikhlas).
f. Menanamkan nilai-nilai spiritual dan keagamaan.
Nilai-nilai spiritual dan renungan-renungan tentang hakikat abadi atau Ilahi (hidup beragama) itu bisa memberikan kekuatan dan stabilitas bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai metafisik ini memberikan kemampuan atau daya tahan dan transendental yang tersembunyi di balik atau jauh di belakang nilai-nilai materiil dan sifat inderawi pada hakikatnya selalu mengandung unsur kebenaran serta keabadian sejati kepada segenap umat manusia.
Barang siapa bisa menangkap nilai-nilai serta arti abadi tersebut pasti akan menemukan kebahagiaan dan kesenangan sejati, imannya akan teguh dan kokoh sentosa menghadapi segala cobaan hidup serta macam-macam kesulitan karena ia bersifat pasrah menerima segala cobaan hidup dan penuh keyakinan pada kekuasaan ilahi .Ia akan selalu tawakal kepada kehendak yang maha kuasa dalam memberikan amal dan beribadah setiap hari sehingga sehatlah lahir batin.
a. Ciri Mental Yang Sehat
Kalau diperhatikan kehidupan orang sehari-hari, bermacammacam yang dapat terlihat. Ada yang kelihatannya selalu gembira dan bahagia, serta selalu disenangi orang, tidak ada yang membencinya atau menyakiti. Sebaliknya ada juga yang selalu mengeluh dan bersedih hati, tidak cocok dengan orang lain dalam pekerjaan, tidak bersemangat serta tidak dapat memikul tanggung jawab, hidupnya dipenuhi kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan, mudah terserang penyakit yang sulit disembuhkan. Mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan di samping itu ada pula yang dalam hidupnya suka menganggu dan melanggar hak ketenangan orang lain, megadu domba, menfitnah dan menyeleweng, menipu, menganiaya serta melakukan tindakan yang lainnya. Berkaitan dengan ciri mental yang sehat ada beberapa hal yang mendukung mental seseorang menjadi baik dan sehat. Adapun karakteristik mental yang sehat adalah sebagai berikut :

1) Kondisi mental yang didasari dengan keyakinan yang kuat.
2) Kondisi mental yang didasari dengan akhlak yang baik.
3) Kondisi mental yang tenang dan jauh dari kecemasan-kecemasan.
Untuk memperjelas pendapat penulis di atas, penulis mengutip pendapat dari maslow dan Mittelmen dalam bukunya “Principles of Abnormal psychology” yang mengatakan bahwa karakteristik mental yang terbina adalah:
1. Memiliki rasa aman (sense of security) yang tepat, mampu berkontak dengan orang lain dalam bidang kerja, di tengah pergaulan dan dalam lingkungan keluarga.
2. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan diri yang raional, dengan rasa harga diri yang sedang, cukup, tidak berlebihan, memiliki rasa sehat secara moril dan tidak dihinggapi rasa dosa dan bersalah.
3. Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang sehat.
4. Mempunyai kontak relaitas secara efisien tanpa ada fantasi dan angananganyang berlebihan.
5. Memiliki dorongan dan nafsu-nafsu jasmaniyah yang sehat dan mampu memuaskannya dengan cara yang sehat pula.
6. Mempunyai pengetahuan diri yang cukup dengan motif-motif hidup yang sehat dan kesadaran yang tinggi.
7. Memiliki tujuan hidup yang tepat dan bisa dicapai dengan kemampuan sendiri, sebab sifatnya yang wajar dan realistis.
8. Dapat memiliki kemampuan belajar dari pengalaman hidupnya yaitu : mengolah dan menerima pengalamannya dengan sikap yang luwes.
9. Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan dari kelompoknya.
10. Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kebudayaan namun dia memiliki originilitas dan individualitas yang khas, sebab mampu membedakan yang baik dari yang buruk.
11. Ada integritas dalam kepribadiannya, yaitu kebulatan unsur jasmaniyah dan rohaniyah.

Selanjutnya mental yang sehat selalu memperhatikan reaksi-reaksi personal yang cocok, tepat terhadap stimulasi eksternal karena itu reaksi kenormalan pada tingkat psikologis dan sosial biasanya diukur dengan kelakuan individu daan kelompok daari tempat hidupnya, reaksi tersebut normal, bila tepat dan sesuai dengan ide dan pada tingkah laku kelompok, dan cocok dengan kesejahteraan umum dan kemajuan.
Dari pendapat Maslow di atas dapat penulis simpulkan bahwa mental yang sehat ditandai oleh beberapa hal :
a. Integrasi kejiwaan (keserasian, kesesuaian antaara fungsi-fungsi jiwa)
b. Kesesuaian tingkah laku sendiri dengan tingkah laku sosial.
c. Adanya kesanggupan melaksanakan tugas-tugas hidup dan tanggung jawab sosial.
d. Efisiensi dalam menanggapi realitas hidup dalam segala bidang yang berupa tantangan-tantangan.
C. Manfaat al-qur’an dalam kehidupan.
Al-qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah ke bumi untuk membahagiakan manusia. Sehinga tidak heran Kalau al-qur’an menamakan dirinya sebagai huda an linnas (petunjuk Bagi manusia), tapi toh semua itu tergantung pada manusia itu Sendiri, apakah manusia mau mempelajarinya dan mengamalkan atau Tidak. Oleh kareana itu banyak sekali upaya untuk mempelajari Kandungan al-qur’an dan juga cara melaksanakannya, salah satu Contoh adalah seperti yang dilakukan di pondok pesantren. Oleh Karena itu dari hasil penelitian penulis, maka penulis dapat Mengelompokkan mengenai pentingnya al-qur’an dalam kehidupan.
Adapun analisa tersebut meliputi segi-segi antara lain :
1. Kebutuhan psikologis
a. Keimanan
Sebelum datangnya nabi muhammad saw membaca Ajaran al-qur’an mayoritas masyarakat arab banyak Berkepercayaan dinamisme dan animisme yang menyembah pada Benda-benda dan arca-arca. Maka pada zaman ini sering Disebut jaman jahiliyah baik dibidang aqidah, ibadah dan Akhlaq.
 bidang aqidah mereka percaya bahwa benda-benda itu adalah yang memberi kekuatan/mempunyai kekuatan ghaib yang luar biasa.
 bidang ibadah, mereka menyembah arca-arca dan menuhankan benda-benda.
 bidang akhlaq, karena merosotnya akhlaq mereka yang kalah ditindas yang menang, siapa yang kuat itu yang menang, adanya anak perempuan yang ditanam hidup-hidup jadi orang perempuan tidak ada ganyanya.
Demikian pula di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar dalam rangka memasyarakatkan al-qur’an ini adalah untuk menanamkan keimanan, aqidah serta membina akhlaq karena banyak di indonesia ajaran islam yang bercampur dengan adat istiadat, memuja roh halus, dan sebagainya. Untuk Meluruskan mental muslim yang masih menyimpang dari ajaran umat islam.
Lawan adalah titik tolak dari permulaan muslim untuk Mengabdikan diri pada allah sebab tidak mungkin seorang itu akan menyembah/mengabdi kepada allah tanpa didasari rasa percaya atau juga dikatakan aqidah. Jadi seorang itu akan mengabdi pada allah setelah mereka benar-benar percaya adanya allah sebagai pencipta manusia dan dunia seisinya.
Firman allah :


Artinya : rosul telah beriman kepada al-qur’an yang diturunkan Kepadanya dari tuhannya, demikian pula orang-orang Beriman. (q.s. Al-baqarah : 285)

b. Ibadah
Di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar di samping santri Mendapatkan pendidikan dan bimbingan tentang keimanan dan Aqidah mereka juga mendapatkan pelajaran tentang ibadah. Karena ibadha merupakan realisasi daripada iman, sebab iman itu tidak hanya cukup dengan percaya atau membenarkan dalam hati saja akan tetapi iman harus diucapkan dengan lisan dan membenarkan dalam hati saja akan tetapi iman harus diucapkan dengan lisan dan membenarkan dalam hati serta mengamalkan atau melakukan dengan anggota badan, oleh karena itu santri yang ada di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar dididik dan dibina tentang hubungan antara akhlaq dengan khaliq-nya yang aslinya disebut dengan Ibadah.
2. Sosial kemasyarakatan.
Dalam masalah kebutuhan sosiologis kemasyarakatan ini Dibagi menjadi dua hal, yaitu :
a. Moral
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa al-qur’an membina manusia ke jalan yang diridloi oleh Allah SWT dan mengajarkan kepada manusia untuk berakhalaq yang mulia dan berbudi luhur. Sehubungan dengan adanya pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar yang mengkaji masalah agama terutama adalah masalah pelajaran tentang al-qur’an dan mayoritas adalah menghapal al-qur’an, maka dituntut untuk mengamalkan ajaran-ajaran agama (syariat islam) yang didalamnya menyangkut masalah akhlaq dan budi pekerti yang bersumber pada al-qur’an. Karena masalah akhlaq adalah masalah yang menjadi perhatian dimana saja, baik Pada masyarakat yang sudah otomatis dijadikan cermin Masyarakat terutama dalam hal tingkah laku (moral).
Dengan demikian seorang santri harus benar-benar mengamalkan ilmunya untuk pribadi maupun masyarakat. Sesuai dengan harapan pengasuh pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Bahwa santri yang masih tinggal di pondok maupun yang sudah pulang kerumah (selesai) harus benar-benar menjadi suri tauladan bagi masyarakat dan mengamalkan Ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pondok pesantren di Masyarakat semampunya.
b. Sosial kemasayarakatan
Para santri yang disamping mendapatkan pendidikan mengenai Masalah berhubungan manusia dengan allah (ibadah) juga Dididik untuk saling kenal mengenal, tolong menolong dan Saling bantu membantu serta berbuat baik baik pada manusia. Dengan adanya pendidikan dan pembinaan mental spiritual dan sosial kemasyarakatan, agar santri yang masih berada di pondok pesantren miftahul huda al azharmaupun yang sudah selesai sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pengasuh, Ustadz yaitu untuk kepentingan masyarakat, agama dan Negara.
c. Kesehatan Mental
Menurut Kartini Kartono kata mental hygiene atau kesehatan mental berasal dari kata mental dan hygeia. Hygeia adalah dewi kesehatan Yunani. Sedangkan mental (dari kata Latin mens, mentis) artinya jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Adapun mental hygiene/kesehatan mental sentralnya adalah bagaimana caranya orang memecahkan segenap keruwetan batin manusia yang ditimbulkan oleh macam-macam kesulitan hidup, serta berusaha mendapatkan kebersihan jiwa; dalam pengertian tidak tergangu oleh bermacam-macam ketegangan, ketakutan dan konflik terbuka, serta konflik batin.
Jadi secara bahasa kesehatan mental berarti ilmu yang mempelajari tentang kesehatan jiwa/mental. Menurut pandangan ahli psikoanalisis, kesehatan mental yang wajar itu terletak pada kesanggupan ego dalam memadukan antara berbagai alat-alat pribadi (naluri-naluri dan dorongan-dorongan) dan tuntutan masyarakat, atau untuk sampai kepada penyelesaian terhadap pertarungan yang timbul di antara berbagai alat-alat pribadi. Dengan membaca Al qur'an problematika yang muncul di dalam diri atau emosi seseorang dapat dikendalikan.
Kesehatan mental itu berhubungan dengan kemampuan orang untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakat lingkungannya, hal ini membawanya kepada kehidupan yang sunyi dari kegoncangan, penuh vitalitas. Dia dapat menerima dirinya dan tidak terdapat padanya tanda-tanda yang menunjukkan ketidak serasian sosial, dia juga tidak berkelakukan wajar yang menunjukkan kestabilan jiwa, emosi dan pikiran dalam berbagai lapangan dan di bawah pengaruh semua keadaan. Secara singkat, menurut penulis kurang lebih ada tujuh macam manfaat tilawah Al-Qur'an.
Pertama manfaat konsultatif yakni; tilawah Al-Qur'an merupakan media komunikasi antara hamba (pentilawah) dengan Sang Kholik.
Dengan demikian penderita dapat merasa lega karena sikap dan perasaannya yang menekan terungkap keluar, serta keadaannya diketahui, diperhatikan dan diterima konsultan. Demikian halnya dengan membaca Al-Qur’an. Pembaca dapat merasakan ketenangan batin karena ia merasa Allah mendengar, mengetahui, memperhatikan bacaan-bacaannya, dan mengetahui perasaannya.
Dengan manfaat konsultatif dalam tilawah Al-Qur'an ini maka manfaat ini dapat dikatakan mempunyai relevansi dengan semu kesehatan mental.
Kedua, manfaat kontrol yakni, dengan adanya manfaat konsultatif, individu senantiasa merasa diawasi dan dikontrol oleh Allah , dan selalu merasakan kehadiran Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, membuat pembaca merasa dekat, dilihat, dan diperhatikan oleh Allah, sehingga akan membuat pembaca mengadakan perhitungan dan kritik terhadap amal shaleh yang sudah, sedang, dan akan dilakukannya agar sejalan dengan syari’ah. Keadaan demikian akan mendorong pembaca untuk berlaku taat dan mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap amalnya.
Merasakan kehadiran Allah menurut Amin akan berimplikasi pada jiwa seseorang yakni tidak akan merasa kesepian, dimana merasa kesepian adalah merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh manusia modern. Disamping itu dalam perawatan kejiwaan menghendaki agar manusia dapat mengadakan kontrol dan kritik diri yang sehat terhadap dirinya karena hal itu merupakan prinsip dari kesehatan mental. Seseorang yang tidak mampu mengadakan kontrol terhadap tingkah laku dan kritik terhadap kekurangan dirinya merupakan gejala dari gangguan jiwanya. Orang yang tidak memiliki pengawasan dan perhitungan diri dalam hidupnya akan mengalami penyesalan dan penderitaan batin karena ia tidak memikirkan dan tidak memperhitungkan diri dan tingkah laku yang diwujudkannya.
Dengan mengadakan kontrol dan kritik diri dalam hidup, seseorang dapat memperoleh kesehatan mental. Dengan demikian, menurut penulis manfaat kontrol mempunyai relevansi dengan semua tolak ukur kesehatan mental, dan mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental terutama pada (a) terhindar dari gangguan kejiwaan; (b) mampu menyesuaikan diri; (d) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan; (e) dapat merasakan kebahagiaan; (f) memiliki ketahanan mental yang kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan; (g) dapat menjawab tantangan hidupnya; (h) beriman dan bertaqwa.
Ketiga, manfaat fragmatis yakni; dengan adanya manfaat kontrol pembaca akan senantiasa menyelesaikan problematikanya berdasarkan petunjuk Ilahi. Untuk pembinaan dan pengembangan kesehatan mental manusia membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang konsisten dan pandangan hidup yang kukuh. Dengan petunjuk Ilahi (agama) manusia dapat terbantu dalam mengatasi persoalan hidup yang berada diluar kesanggupan dirinya sebagai manusia yang lemah. Dengan citacita manusia dapat bersemangat dan bergairah dalam perjuangan hidup yang berorientasi ke masa depan., membentuk kehidupan secara tertib, dan mengadakan perwujudan diri dengan baik. Dengan demikian, dapat dikatakan manfaat pragmatis ini mempunyai relevansi dengan semua ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental.
Keempat, manfaat preventif, yaitu; dengan adanya petunjuk Ilahi pembaca dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya, sehingga ia akan terhindar dari problematika hidup yang dapat menyebabkan gangguan mental.
Kelima, manfaat kuratif yakni; tilawah Al-Qur'an merupakan media tazkiyatun nafs atas segala penyakit- penyakit hati. Yang dimaksud sarana tazkiyah adalah berbagai amal perbuatan yang mempengaruhi jiwa secara langsung dengan menyembuhkannya dari penyakit, membebaskannya dari “tawanan“ atau merealisasikan akhlak padanya. Artinya buah dari tazkiyah adalah munculnya akhlaq-akhlaq yang terpuji dan terkendalinya lidah. Sifat-sifat yang terpuji inilah yang merupakan obat atau kebutuhan jiwa yang dapat membantu mewujudkan keharmonisan dan penyesuaian terhadap diri sendiri, orang lain lingkungan dan Allah. Dapat pula dikatakan bahwa tilawah Al-Qur'an merupakan ibadah yang bertujuan membersihkan kesucian dan penyakit-penyakit jiwa manusia, yang dengannya manusia akan mampu mencapai kehidupan abadi dan sejahtera di kemudian hari.
Menurut penulis, manfaat kontrol lebih mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental pada:
(a) terhindar dari gangguan kejiwaan;
(b) mampu menyesuaikan diri;
(c) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan;
(d) dapat merasakan kebahagiaan;
(e) memiliki ketahanan mental;
(f) dapat menjawab tantangan hidup.
Sedangkan pada tolak ukur kesehatan mental, lebih pada point; (2) terhindar dari perbuatan tercela; (4) mampu mengembangkan otensipotensi sifat yang terpuji.
Keenam, manfaat evaluasi yakni; Dengan tilawah Al-Qur'an pentilawah dapat melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang baik atau yang buruk. Dalam hal ini berarti ada proses introspeksi terhadap perbuatan sendiri, tingkah laku, kehidupan batin, pikiran, perasaan sendiri, keinginan dan segenap unsur kejiwaan lainnya merupakan pemahaman primer yang diperlukan dalam upaya pencegahan gangguan kejiwaan. Juga menurut Ahmad Amin bahwa, orang yang telah mengetahui dirinya baik harga diri/kelemahannya dalam masyarakat dapat mengubah seseorang dari penyakit mental.
Ketujuh, manfaat eskatologis yakni, tilawah Al-Qur'an dapat menghasilkan pahala. Setiap mukmin yakin, bahwa membaca Al-Qur'an saja, sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab yang dibacanya itu adalah kitab suci Ilahi. Disamping itu, membacanya merupakan amal ibadah sunnah yang besar pengaruhnya pada jiwa. Karena Qur’an firman Allah dan sebagai hasilnya cinta Allah akan tumbuh dalam jiwa.
Mengingat Allah ini tercapai meskipun orang tidak paham arti Al-Qur'an itu. Dengan keimanan seseorang akan merasa aman dan merasa tidak ada gangguan dalam dirinya (sesuai dengan arti dari kata A–m–n), dan dengan iman seseorang akan merasa lega dan puas (sesuai dengan makna mutmain). Dari penjelasan di atas, nampak ada korelasi positif antara terhindarnya gangguan mental dengan keimanan seseorang.
Faktor keimanan inilah yang mendorong seseorang untuk merealisasikan ajaranajaran Islam sehingga akan membantu pertumbuhan dan perkembangan jiwanya.
Dengan memenuhi dan merealisasikan nilai-nilai itu diharapkan seseorang akan menemukan dan mengembangkan makna hidupnya, sehingga mengalami hidup secara bermakna (The meaning full life) yang merupakan pintu terbuka ke arah kebahagiaan (happiness). Tidak hanya itu, menurut Zakiyah Darajat, dalam psiko–terapi (perawatan jiwa) ternyata bahwa, yang menjadi pengendali utama dalam Kartini Kartono, Patologi Sosial. sikap, tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal (pikiran) sematamata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan.
Untuk menciptakan keserasian (keharmonisan) antara pikiran, perasaan, dan perbuatan dibutuhkan keimanan. Keimanan di sini yang akan mengontrol pikiran, perasaan, dan perbuatan, sehingga akan terciptalah rasa aman dan tenteram. Dalam agama Islam, terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul iman).
Menurut Zakiah Darajat, semua rukun iman tersebut mempunyai fungsi yang menentukan dalam kesehatan mental seseorang. Ini, dikarenakan, keimanan merupakan proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama menyakinkannya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan mental pun kurang sempurna pula.

Keimanan (rukun iman) juga mengajarkan seseorang untuk bersifat menerima (positive thinking), terhadap Allah, sehingga akan membebaskan orang dari segala macam ketegangan jiwa. Jadi, untuk terhindar dari gangguan mental, diperlukan perangkat keimanan untuk mewujudkannya. Faktor keimanan ini bisa diperoleh dari membaca Al-Qur'an, karena pembaca Al-Qur'an sendiri merupakan rangkaian iman dalam Islam.



BAB III
GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN
MIFTAHUL HUDA AL AZHAR

A. Gambaran Umum
1. Sejarah Singkat
Lembaga Pondok Pesantren selalu memiliki cerita unik dan menarik. Perjuangan para pendirinya selalu menghadapi berbagai persoalan. Namun, cerita para pejuang Islam tidak mengenal menyerah, demi agama apapun bisa dilakukan. Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar salah satunya yang dalam pendiriannya memerlukan sebuah perjuangan yang panjang dan totalitas yang luar biasa, terlebih lembaga ini tidak berada di dalam kota, melainkan di sebuah perkampungan di Selatan Kota Banjar.
Pendiri Pesantren KH. Abdurrohim, sebelum mendirikan pesantren ini, terlebih dahulu menimba ilmu ke berbagai pesantren ternama. Di antaranya adalah Pesantren Kebumen, Benda Pare Kediri, Tebu Ireng Jombang dan Kesugihan Cilacap. Di Pesantren Kesugihan Cilacap ini beliau menikah dengan putri pengasuh pesantren, lalu beliau oleh guru sekaligus mertuanya untuk berdakwah dan membuka lembaga keagamaan di suatu daerah yang kemudian disebut Langensari. Tempat ini asalnya daerah hutan belantara yang konon masih banyak binatang buas. Namun karena tugas dari gurunya, KH. Abdurrohim terus berjuang berdakwah di tempat ini. Oleh gurunya beliau ditemani tiga orang santri, sebagai teman berdakwah,
Karena keuletannya dalam berdakwah, daerah yang asalnya tidak ada penduduk kemudian sedikit demi sedikit bertambah dan akhirnya sampai sekarang menjadi daerah yang cukup ramai. Bagaimana tidak di tempat ini terdapat sebuah lembaga keagamaan dan pendidikan yang cukup maju, sehingga banyak penduduk yang merasa tentram tinggal di daerah ini.
Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar sejak 1987 telah menyelenggarakan pendidikan diantaranya TK, MI, SMP, SMA, MTs, dan MA, dan pada tahun 2003 menyelenggarakan Pendidikan Tinggi di Kota Banjar yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Huda Al Azhar (STAIMA).


2. Sistem Pendidikan
Awalnya hanya menerapkan sistem pendidikan salafiyah, namun seiring perkembangan zaman, dan semakin bertambahnya ilmu para penggerak pesantren ini, maka sistem pendidikan salafiah kemudian dipadukan dengan sistem pendidikan formal (kombinasi).
Nama Al Azhar bukan berarti pesantren ini bagian dari sekolah-sekolah yang saat ini bernama Al Azhar. Penggunaan Kata Al Azhar di ujung nama pesantren ini diambil, karena salah satu putra KH. Abdurrohim yang saat ini memegang sesepuh Pondok Pesantren pernah tholabul ilmi di Al Azhar Kairo Mesir. Kelebihan Pondok Pesantren ini bukan hanya bidang keagamaan saja, tetapi juga di bidang kepemimpinan.
3. Gedung dan Fasilitas Lainnya
Untuk mensukseskan sebuah kader yang handal, Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar telah menyediakan fasilitas anatara lain : Asrama pesantren 64 ruangan, Masjid besar 2 buah, Musholla 2 buah, Aula 1 buah, Ruang Kelas 40 buah, Perpustakaan 1 buah, Lapangan olah raga, Kopontren dan WC 25 kamar.


4. Tenaga Pengajar
Selain fasilitas fisik, Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar diampuh oleh para Asatidz yang siap memberikan membimbing ilmu kepada santrinya. Kesleuruhan tenaga pengajar di pondok pesantren ini berjumlah 175 orang. Dari jumlah sebanyak itu, 30 % di antaranya adalah perempuan. Sedangkan dari sisi pendidikan, mayoritas pengajar lulusan S.1 dan yang lainnya lulusan S.2
5. Santri
Beberapa tahun belakangan ini, animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren mengalami peningkatan yang luar biasa. Jika dahulu pesantren hanya dipandang sebelah mata, kini sudah tidak seperti itu lagi. Sebab kini pesantren sudah mensejajarkan diri dengan sekolah formal lainnya. Bahkan dalam beberapa hal pondok pesantren memiliki banyak kelebihan.
Minat masyarakat terhadap pondok pesantren yang demikian tinggi tampak dari jumlah santri yang tholabul ’ilmi di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, dengan jumlah 1600 santri yang terdiri dari 45 % laki-laki dan 55 % perempuan.


6. Visi dan Misi Pesantren
Dalam rangka penyusunan rencana pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo senantiasa berpedoman kepada garis-garis perjuangan yang telah diterapkan oleh pendiri Pondok Pesantren dengan menyerap dan mengimbangi perputaran zaman dengan filterisasi Ajaran Islam yang terkandung dalam Nilai-nilai luhur yang telah diajarkan oleh para Uala Salaf, sehingga di Pondok Pesantran Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo terbentuklah sebuah ciri khas perjuangan pengembangan ilmu dan Agama Islam dengan visi dan misi:

I. Visi
MENJAGA TRADISI LAMA YANG BAIK DAN MENGAMBIL TRADISI BARU YANG LEBIH BAIK
II. Misi
1. Nashrul ’il mi wa da’wah Islamiyah
2. Menciptakan lingkungan ilmiyah islami
3. Mewujudkan generasi muslim Intelektual, berjiwa salafi.



III. Tujuan
Dalam rangka mewujudkan visi dan misi diatas maka ditetapkanlah tujuan pembelajaran dan pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo di antara lain :
a. Memiliki Santri yang berilmu beriman serta memiliki keterampilan dalam bidang Bahasa Asing dan Dakwah.
b. Memiliki Santri Hifdzil Qur’an sebagai generasi penyebar Ajaran Al Quran.
c. Memiliki Group Seni Hadroh dan Kumtulan yang merupakan kesenian tradisional yang bersifat Islami.
d. Memiliki santri yang siap dan mampu diutus dan mengabdi di masyarakat luas minimal 1 bulan dalam rangka eksperimen dalam pengimplementasian ilmu yang di dapat.
IV. Indikator yang harus dicapai
Pengukuran ketercapaian tujuan tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator yang harus dicapai oleh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo diantaranya:
1. Kehidupan pesantren yang senantiasa diliputi suasana Keislaman.
2. Karakter santri yang senantiasa gemar mengaji dan mengkaji Kitab-Kitab Kuning serta muhafadhoh.
3. Dewan Asatidz yang senantiasa memberikan ilmu dengan ulet dan terprogram.
4. Dukungan dan minat masyarakat lingkungan Pondok Pesantren yang baik
5. Memilki Akhlakul Karimah
V. Kurikulum Pondok Pesantren
Kurikulum yang digunakan oleh pondok pesantren sebagai ajuan dalam proses belajar mengajar tiap jengjang yang ada yaitu menggunakan kurikulum dengan materi 70 % kitab-kitab yang diajarkan di pesantren salafiyah dengan cakupan kitab-kitab fiqh, nahwu dan sharafnya, sedangkan 30 % persen lagi menggunakan kurikulum konteporer dengan harapan untuk mempersiapkan santri agar mampu menjalankan fungsinya dimasyarakat secara mandiri, seperti pelajaran bahasa arab, bahasa inggris, keterampilan montir, dan koperasi.

VI. Aspek Menghapal Al Qur’an
1. Peran Instruktur dalam menghafal Al Qur’an
Instruktur dalam menghafal Al Qur’an sangat diperlukan, karena hafalan sendiri tanpa diperdengarkan kepada intruktur kurang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
2. Syarat-syarat menghafal Al-Qur’an.
Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :
a. Niat yang ikhlas dari calon penghafal
b. Menghindari sifat-sifat Madzmumah
c. Izin orang tua atau wali
d. Kontinuitas dari calon penghafal
e. Bersedia mengorbankan waktu untuk menghafal
f. Sanggup mengulang-ulang materi
3. Petunjuk teknis menghafal Al-Qur’an
Sebelum menghafal perlu memperhatikan hal-hal seperti berikut:
a. Menggunakan al Qur’an khusus untuk menghafal (Al Qur’an pojok)
b. Perlu diperhatikan bacaan-bacaan yang disunatkan sebelum membaca Al Qur’an

4. Program Kegiatan Pondok Pesantren
5. Kegiatan Pondok Pesantren
Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo yang berada di desa Kujangsari Kecamatan Langensari Kota Banjar dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya dapat berjalan dengan baik. Dari setiap kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo dapat dicapai hasil pengukuran sesuai dengan tujuan Pondok Pesantren yang telah digariskan oleh Pendiri Pesantren.
Adapun kegiatan Pondok Pesantren Miftahul Huda AL Azhar Citangkolo tersebut terbagi menjadi beberapa macam :
No NAMA KEGIATAN WAKTU KEGIATAN PEN. JAWAB
1 Kegiatan Rutinitas
1. Kegiatan Sholat Tahajjud Berjamaah
2. Sholat Fardlu berjamaah
3. Madrasah Diniyah ( Tingkat Awaliyah, Wustho, Ulya )
4. Mudzakaroh Kutubus Salafiyah
5. Bahtsul Matsail
6. Muhafadzoh Al Quran dan Nahwu Shorof
7. Muhadatsah 2 bahasa ( Bahasa Arab dan Bahasa Inggris )

Qobla Shubuh

Sholat 5 waktu
Ba’da Dhuhur

Ba’da Ashar
Ba’da ’Isya
Ba’da Isya

Tiap Waktu


Dewan Asatidz

Pengasuh
Dewan Asatidz

Dewan Asatidz
Dewan Asatidz
Dewan Asatidz

Dewan Asatidz
2 Kegiatan Usbu’iyyah (Mingguan)
1. Latihan Dasar Khitobah/Pidato 2 bahasa.
2. Latihan Seni Hadroh dan Kumtulan
3. Bahtsul Masaail Masyarakat
4. Majlis Ta’lim Thoriqoh
5. Mudzakaroh Nahwu Shorof
6. Pengembangan Tehnik Otomotif
7. Pengembangan Tehnik Komputer
8. Pengembangan Pertanian Anggrek
9. Kebersihan lingkungan/Roan
10. Pramuka Santri
Malam Ahad

Jumat Pagi
Kamis Pagi
Malam Selasa
Malam Selasa
Minggu Pagi
Minggu Pagi
Minggu Pagi
Minggu Pagi
Jumat Sore
Dewan Asatidz

Dewan Asatidz
Dewan Asatidz
Pengasuh Pesantren
Dewan Asatidz
Isntruktur
Isntruktur
Isntruktur
Santri
Dewan Asatidz
3 Kegiatan Bulanan
1. Musyawaroh Dewan Asatidz
2. Khitobah Akbar
3. Bahstul Masail Asrama
4. Jam’iatul Quro Wal Huffadz
5. Majilis Ta’lim Ibu Muslimat
6. Rapat Kopontren
Tgl. 1 bulan hijriah
Malam ahad akhir bulan
Malam Rabu akhir bulan
Jumat Pagi akhir bulan
Ahad pagi akhir bulan
Tgl.5 bulan
Dewan Asatid
Dewan Asatid
Dewan Asatid
Pengasuh
Pengasuh
Anggota Koprasi
4 Kegiatan Tahunan
1. Haflah Pondok Pesantren
2. Maulid Nabi Muhamad SAW
3. Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW
4. Halal bil Halal Santri dan Alumni Pondok Pesantren
Tgl. 10 -15 Muharam
Kamis akhir bln. Maulud
Kamis akhir bln.Rajab
Tgl.4 Syawal
Santri, dan Masyarakat


6. Biaya Kegiatan
Keberlangsungan kegiatan-kegiatan Pondok Pesantren tidak bisa lepas dari kebutuhan akan pendanaan yang menunjang kelancaran dan berjalannya kegiatan tersebut.
Adapun Rencana Anggaran Belanja dan Kegiatan dilampirkan dalam Proposal Pengajuan Bantuan Operasional Pesantren Tahun 2008 ini.
7. Prestasi Pondok Pesantren
Dalam hal prestasi Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo merupakan sebuah pesantren yang memiliki prestasi yang patut dibanggakan baik tingkat lokal, propinsi maupun nasional, yang paling menonjol adalah bidang Tahfidzul Quran, diantaranya :
1. Juara I MTQ Bidang Tafsir Al Quran Bahasa Inggris tingkat Propinsi
2. Juara I MTQ Bidang Tahfid Al Quarn 30 juz tingkat Priangan Timur
3. Juara II MTQ Bidang Tahfid Al Quarn 20 juz tingkat Priangan Timur
4. Juara I MTQ Bidang Tahfid Al Quran 15 juz tingkat priangan Timur.
5. dan masih beberapa prestasi yang telah diraih oleh santriwan / wati lainnya.
Berbagai prestasi di atas merupakan salah satu indikator keberhasilan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar dalam menggembleng santriwan/wati dalam keilmuan Agama maupun Ilmu Pengetahuan Umum.
Selain hal tersebut, Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo telah berhasil menumbuhkan kegiatan perekonomian di masyarakat sekitar Pesantren melalui pemberdayaan Kopontren Miftahul Huda Al Azhar sebagai lembaga perekonomian yang dikelola oleh Pesantren untuk kepentingan santri dan masyarakat Lingkungan Pondok Pesantren.


B. Profil Pondok Pesantren
1. Data Umum Pondok Pesantren
a) Identitas
1. Nomor Statistik : 512327904011
2. Nama Pesantren : Miftahul Huda Al Azhar
3. Alamat : Jl Pesantren No.2 Citangkolo Desa Kujangsari Kec. Langensari Kota Banjar Jawa Barat 46324
Telpon : 0265 – 2730532 / 2730533
4. Tahun berdiri : 1380 H / 1960 M
5. Badan Hukum Nomor : PN.6/11/IV/1987 tgl. 11/10/1987
6. Tipe Pondok Pesantren : Kombinasi Salfiyah dan Kholafiyah
7. Penyelenggara : Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar
8. Pendiri Pesantren : 1. KH. Abdurrozak Marzuqi
2. KH. Abdurrohim
9. Pimpinan Pesantren : 1. KH. Munawir Ar, MA
2. KH. Drs. Mushlih Ar
3. KH. Mu'in Abdurrohim
10. Struktur Organisasi Kepengurusan : terlampir
b) Lokasi
1. Keadaan Geografis : Dataran rendah
2. Lingkungan Pekerjaan : 1. Pertanian
2. Perhutanan/Perkebunan
3. Wilayah : Pedesaan

c) Kelembagaan
1. Koordinasi lembaga dibawah Departemen Agama
NO Nama Madrasah Status Akreditasi Jenjang
1. RA Mashitoh Swasta B RA
2. MI Al Azhar Swasta B MI
3. MTs Al Azhar Swasta B MTs
4. MA Al Azhar Swasta B MA
5. STAIMA Banjar Swasta B PTAI
6. MTs Salafiyah - - Paket B


2. Koordinasi lembaga dibawah Departemen Pendidikan Nasional
NO Nama Madrasah Status Akreditasi Jenjang
1. SMP Al Azhar Swasta C SLP
2. SMA Al Azhar Swasta C SLTA

3. Pendidikan Madrasah Diniyah : a. Awaliyah
b. Wustho c. Ulya
4. Wajar Dikdas PP. Salafiyah : Wusto / Paket B
5. Metode Pengajian Kitab salafi : 1. Bandungan
2. Sorogan
3. Wetonan
4. Hafalan
5. Munadhoroh

2. Data Santri Pondok Pesantren
g. Jumlah Santri berdasarkan Asal Daerah
NO Asal Daerah Jenis Kelamin
Lk Pr
1 Dalam Kabupaten/Kota 527 533
2 Luar Kabupaten/Kota Dalam Propinsi 350 434
3 Luar Propinsi 396 468
JUMLAH 1273
1435



h. Jumlah Santri Menurut Kategori Status Belajar dan Mukim/Tak Mukim
No Lembaga Pendidikan Mukim Tidak Mukim Jumlah
Lk Pr Lk Pr Lk Pr
1 Santri Belajar di Madrasah (Depag) 267 212 139 257 406 469
2 Santri Belajar di Sekolah Umum(Depdiknas) 126 102 88 94 214 196
3 Santri Belajar di Perguruan Tinggi 194 105 147 124 241 229
4 Santri Belajar Diniyah 133 128 86 93 219 221
5 Santri Tahasus 57 78 36 42 93 120
JUMLAH 777 625
496
510
1273
1435


i. Organisasi Santri dan Alumni :
1) Nama Organisasi Santri : HSPPMA (Himpunan Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo)
2) Nama Organisasi Alumni : IKAMA ( Ikatan Alumni Miftahul Huda Al Azhar )

j. Bidang Kegiatan Organisasi Santri
1) Kesenian : Musik Hadroh, Janeng, Kumtulan
2) Olahraga : Sepakbola, Voli Ball
3) Kesehatan : Poskestren
4) Pramuka : Saka Bhakti Husada
5) Koperasi : Kopontren Miftahul Huda Al Azhar
6) Publikasi dan Informasi : Wartel Al Azhar,

C. Data Asatidz Dan Asatidzah
1. Jumlah tenaga Asatidz dan Asatidzah menurut Jenis Kelamin, Usia, Pendidikan formaldan non Formal :
No Jabatan < 30 31-40 40-60 Jenjang Pendidikan Formal/non Formal
Lk Pr Lk Pr Lk Pr < SLTA Diploma > S.1 Pesantren
1. Kyai/Nyai - 2 6 4 2 2 4 2 8 2
2. Badal Kyai 9 10 - - - - 8 4 5 2
3. Ustadz/Guru 42 28 19 11 2 - 4 2 32 43
4. Dosen 17 14 27 16 4 1 - - 79 -
5. TU/Adm 16 6 7 3 1 - 16 4 8 2
6. Laboran 2 1 - - - - - - 3 -
7. Pustakawan 5 3 - - - - 5 3 - -
8 Lainnya 5 4 2 - 2 3 6 5 - 5

STRUKTUR ORGANISASI
PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HUDA AL AZHAR
CITANGKOLO KOTA BANJAR

Dewan Pengasuh Putra : 1. KH. MUNAWIR ABDURROHIM, MA
2. Drs. KH. MUSHLIH Ar
3. Drs. KH. MU’IN Ar
4. KH. MUHARROR BAHRUDIN
5. K. CHARIR MUCHARIR Ar, SH
6. KH. Dr. MARSUDI, M.BA
7. KH. MUBARIR ABDURROHIM
8. K. AHMAD BUDAERI HASYIM Ah
Dewan Pengasuh Putri : 1. Hj. Ny. DAIROTUL HASANAH Ah
2. Hj. Ny. LINNATUS SHOFIAH Ah
3. Hj. Ny. ISHMAH MAKSUM Ah
4. Hj. IDAH MUS’IDAH Ar
5. Hj. MUFIZAH Ar Ah
6. Ny. WIDADATUL ‘ULYA
7. Hj. Ny. ZAHROTUN NAFISAH
8. Ny. MUHZIATUL MAKIYAH Ah
A. Susunan Kepengurusan Putra
Ketua/Lurah Pondok : Ust. Mu’idan
Sekretaris : Ust. M. Soim Asrori
Bendahara : Ust. Muh. Ridlwan
Staf K3 : Ust. Nurkhamim
1. Ust. Rahmat
2. Ust. Nashirudin
3. Ust. Sururi
Staf Pendidikan : Ust. Syamsudin
1. Ust. Maryono
2. Ust. Wahyu Hidayat
3. Ust. Abdul Hakim
Staf Sarana Prasarana: Ust. Abdulloh Hasan
1. Ust. Muhlison
2. Ust. Mufroul Mubin
Ketua Asrama : 1. Asrama Putra A : Sururi
2. Asrama Putra B :Imam
3. Asrama Putra C,D : Nurkhamim
4. Asrama Putra E,G : Abd. Hasan
5. Asrama Putra F : Mufroul Mubin
6. Asrama Putra H : Wahyu Hidayat
B. Susunan Kepengurusan Putri
Ketua : 1. Nur hidayanti, s.pd.i
2. Septi mukarromah
3. Jauharotun naqiyah
4. Ai mukarromah
Sekretaris : 1. Siti fajriah
2. Eni setianingsih
3. Aning nurjanah
Bendahara : 1. Epon nurhasanah
2. Siti nuraenah
3. Dita sundawa putri
Sie pendidikan : 1. Septi mukaromah
2. Aning nurjanah
3. Yani cahyani
4. Qodriah
Sie keamanan : 1. Ikoh marlina
2. Suryani
3. Pipit nurfitriah
Sie humas : 1. Siti fajriah
2. Siti masithoh
Sie kesehatan : 1. Qodariah
2. Umi faizah
3. Siti masithoh
Sie kebersihan : 1. Rodiatun
2. Fathoniah
3. Ulin nuriyah
Sie seni bbudaya : 1. Jauharotun naqiyah
2. Qorrotun a'yun
3. Laelatus sa'adah

C. Data santri yang tidak kontinu ( tidak teratur ) dalam menghapal al-Qur’an .
Tabel I.I
No Nama Santri Kontinuitas hapalan / hari Jumlah Hapalan
Per minggu
< 1 Juz 1 Juz 1,5 Juz
1 Hamdi 1 √ - -
2 Munif Baehaqi 2 - √ -
3 Mansyur 1 √ - -
4 Muhaemin 2 √ - -
5 Ulil Abror 1 √ - -
6 Mudofar 1 √ - -
7 Muhalim 1 - - √
8 Dede Khoer A 2 - √ -
9 Nur Kholis 1 √ - -
10 Sofarul 1 √ - -
Jumlah 8 2 -



Dengan target hapalan 2 ( dua ) juz dalam satu minggu
Tabel I.II
DATA QUISIONER SANTRI YANG TIDAK KONTINU DALAM MENGHAPAL AL-QURAN

No Variabel Indikator Jumlah Keterangan
SL JR TP
1 Mengucapkan salam 1 7 2 10 -
2 Menolong Teman 4 6 0 10 -
3 Mendo’akan orang tua
Setelah salat fardu 3 7 - 10 -

Keterangan :
SL : Selalu
JR : Jarang
TP : Tidak pernah





C. Data santri yang kontinu (teratur ) dalam menghapal al-Qur’an .
Tabel I.III
No Nama Santri Kontinuitas hapalan / hari Jumlah Hapalan
Per minggu
< 1 Juz 1 Juz 1,5 Juz
1 Umi Saadah 2 - - √
2 Hani M 2 - √
3 Mansyur 2 - - √
4 M. Zairoh 2 - - √
5 S. Komariah 2 - - √
6 Evi K 2 - - √
7 Umniatul M 2 - √ -
8 Ivi Saniati 2 - √ -
9 Laelatul I 2 √ - -
10 Safitri I 2 √ - -
Jumlah 2 2 6

Dengan target hapalan 2 ( dua ) juz dalam satu minggu

Tabel I.IV
DATA QUISIONER SANTRI YANG KONTINU DALAM
MENGHAPAL AL-QURAN
No Variabel Indikator Jumlah Keterangan
SL JR TP
1 Mengucapkan salam 6 2 2 10 -
2 Menolong Teman 5 5 0 10 -
3 Mendo’akan orang tua
Setelah salat fardu 7 3 - 10 -

Keterangan :
SL : Selalu
JR : Jarang
TP : Tidak pernah






Tabel I.V
MATERI QUISIONER KONTIUITAS DALAM MEMBACA AL-QURAN
DI PONDOK PESANTREN MIFTAHUL HDA AL-AZHAR CITANGKOLO KOTA BANJAR

No Variabel Ket
1 mengucapkan salam apabila bertemu dengan asatizd/asatizdah dan rekan santri
a. selalu mengucapkan salam
b. jarang mengucapkan salam
c. tidak pernah mengucapkan salam
2 mengucapkan salam apabila bertemu dengan asatizd/asatizdah dan rekan santri
a. selalu menolong
b. jarang menolong
c. tidak pernah menolong
3 Mendoakan orang tua
a. selalu Mendoakan orang tua
b. jarang Mendoakan orang tua
c. tidak pernah Mendoakan orang tua








BAB IV
ANALISIS URGENSI KONTINUITAS MEMBACA AL QURAN
DALAM MEMBENTUK AKHLAK DAN MENTAL SANTRI

G. Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’an di PP Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo.
Setiap manusia mendambakan ketentraman hidup dan terhindar dari berbagai gangguan mental dalam jiwanya. Sebagai cara untuk menciptakan ketentraman hidupnya, manusia harus menjaga kesehatan mentalnya. Untuk menjaga kesehaan mentalnya manusia harus menjalankan ajaran Islam yang ada dan meningkatkannya agar keimanannya menjadi kuat serta benar-benar kokoh. Apalagi keimanannya kuat maka mentalnya pun akan menjadi sehat dan dengan mental yang sehat maka manusia akan terhindar dari kemaksiatan dan perbuatan-perbuatan dosa.
Al-Qur’an sangat besar perannya dan menunjukkan kepada manusia jalan terbaik guna merealisasikan dirinya, mengembangkan kepribadiannya dan mengantarkan pada jenjang-jenjang kesempurnaan insani agar dengan demikian ia bisa merealisasikan kebahagiaan bagi dirinya baik di dunia maupun akherat. Apabila manusia mampu merealisasikan dirinya maka akan terciptalah mental yang sehat dengan jiwanya. Oleh karena itu, ayat-ayat yang ada di dalam al-Qur’an tidak hanya dibaca dan dicermati tetapi kita harus mencari dan merasakannya dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Dari sinilah akan terbentuk aqidah, yang makin cermat kita tatap, makin kuat aqidah itu.
Secara singkat, menurut penulis kurang lebih ada tujuh macam manfaat membaca Al-Qur'an.
Pertama manfaat konsultatif yakni; membaca Al-Qur'an merupakan media komunikasi antara hamba (pentilawah) dengan Sang Kholik. Sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa pengobatan kejiwaan menghendaki pengungkapan sikap dan perasaan dari pihak penderita karena konsultan tidak dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh penderita jika tidak diceritakan sendiri oleh yang bersangkutan.
Dengan demikian penderita dapat merasa lega karena sikap dan perasaannya yang menekan terungkap keluar, serta keadaannya diketahui, diperhatikan dan diterima konsultan. Demikian halnya dengan tilawah Al-Qur’an. Pentilawah dapat merasakan ketenangan batin karena ia merasa Allah mendengar, mengetahui, memperhatikan bacaanbacaannya, dan mengetahui perasaannya.
Manfaat konsultatif dalam tilawah Al-Qur'an ini maka manfaat ini dapat dikatakan mempunyai relevansi dengan semua ciri-ciri kesehatan mental, dan juga relevansi dengan semua tolak ukur kesehatan mental.
Kedua, manfaat kontrol yakni, dengan adanya manfaat konsultatif, individu senantiasa merasa diawasi dan dikontrol oleh Allah, dan selalu merasakan kehadiran Allah dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, membuat santri merasa dekat, dilihat, dan diperhatikan oleh Allah, sehingga akan membuat santri mengadakan perhitungan dan kritik terhadap amal shaleh yang sudah, sedang, dan akan dilakukannya agar sejalan dengan syari’ah. Keadaan demikian akan mendorong pentilawah untuk berlaku taat dan mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap amalnya.
Merasakan kehadiran Allah menurut Amin akan berimplikasi pada jiwa seseorang yakni tidak akan merasa kesepian, dimana merasa kesepian adalah merupakan salah satu penyakit yang dialami oleh manusia modern. Disamping itu dalam perawatan kejiwaan menghendaki agar manusia dapat mengadakan kontrol dan kritik diri yang sehat terhadap dirinya karena hal itu merupakan prinsip dari kesehatan mental. Seseorang yang tidak mampu mengadakan kontrol terhadap tingkah laku dan kritik terhadap kekurangan dirinya merupakan gejala dari gangguan jiwanya.
Orang yang tidak memiliki pengawasan dan perhitungan diri dalam hidupnya akan mengalami penyesalan dan penderitaan batin karena ia tidak memikirkan dan tidak memperhitungkan diri dan tingkah laku yang diwujudkannya. Dengan mengadakan kontrol dan kritik diri dalam hidup, seseorang dapat memperoleh kesehatan mental.
Dengan demikian, menurut penulis manfaat kontrol mempunyai relevansi dengan semua tolak ukur kesehatan mental, dan mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental terutama pada (a) terhindar dari gangguan kejiwaan; (b) mampu menyesuaikan diri; (d) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan; (e) dapat merasakan kebahagiaan; (f) memiliki ketahanan mental yang kuat dan tabah dalam menghadapi cobaan; (g) dapat menjawab tantangan hidupnya; (h) beriman dan bertaqwa.
Ketiga, manfaat fragmatis yakni; dengan adanya manfaat kontrol pembaca akan senantiasa menyelesaikan problematikanya berdasarkan petunjuk Ilahi. Berarti dalam hal ini pentilawah menjadikan agama sebagai pedoman yang kukuh dalam hidupnya.
Pembinaan dan pengembangan kesehatan mental manusia membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang konsisten dan pandangan hidup yang kukuh. Dengan petunjuk Ilahi (agama) manusia dapat terbantu dalam mengatasi persoalan hidup yang berada diluar kesanggupan dirinya sebagai manusia yang lemah. Dengan cita-cita manusia dapat bersemangat dan bergairah dalam perjuangan hidup yang berorientasi ke masa depan., membentuk kehidupan secara tertib, dan mengadakan perwujudan diri dengan baik. Dengan falsafah hidup manusia dapat menghadapi tantangan hidupnya dengan mudah. Dengan manfaat pragmatis ini, cita-cita dan pandangan hidupnya senantiasa disandarkan pada agama yaitu dengan petunjuk-petunjuk Allah yakni Al-Qur'an. Dan dengan adanya petunjuk Ilahi, manusia akan tertutupi dan terimbangi kekurangan-kekurangan yang dirasakan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga perasaan tenang, bahagia akan tercapai, karena selalu berfikir positif pada Tuhan.
Dengan demikian, dapat dikatakan manfaat pragmatis ini mempunyai relevansi dengan semua ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental.
Keempat, manfaat preventif, yaitu; dengan adanya petunjuk Ilahi pentilawah dapat menyelesaikan permasalahan hidupnya, sehingga ia akan terhindar dari problematika hidup yang dapat menyebabkan gangguan mental. Dalam hal ini berarti pentilawah telah memiliki keterpaduan diri yakni adanya keseimbangan antara kekuatan-kekuatan jiwa dalam diri, kesatuan pandangan (falsafah) dalam hidup, dan kesanggupan mengatasi stress (ketegangan emosi), sehingga dapat dikatakan manfaat ini mempunyai relevansi dengan tolak ukur kesehatan mental pada point; (2) terhindar dari perbuatan tercela; (4) mampu mengembangkan potensi insaniah yang terpuji. Dan manfaat ini juga mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental terutama pada; (a) terhindar dari gangguan kejiwaan; (b) mampu menyesuaikan diri; (e) dapat merasakan kebahagiaan; ( f) memiliki ketahanan mental; (g) dapat merasakan kebahagiaan; (h) beriman dan bertaqwa.
Kelima, manfaat kuratif yakni; membaca Al-Qur'an merupakan media tazkiyatun nafs atas segala penyakit- penyakit hati. Yang dimaksud sarana tazkiyah adalah berbagai amal perbuatan yang mempengaruhi jiwa secara langsung dengan menyembuhkannya dari penyakit, membebaskannya dari “tawanan“ atau merealisasikan akhlak padanya.
Artinya buah dari tazkiyah adalah munculnya akhlaq-akhlaq yang terpuji dan terkendalinya lidah. Sifat-sifat yang terpuji inilah yang merupakan obat atau kebutuhan jiwa yang dapat membantu mewujudkan keharmonisan dan penyesuaian terhadap diri sendiri, orang lain lingkungan dan Allah. Dapat pula dikatakan bahwa tilawah Al-Qur'an merupakan ibadah yang bertujuan membersihkan kesucian dan penyakit- penyakit jiwa manusia, yang dengannya manusia akan mampu mencapai kehidupan abadi dan sejahtera di kemudian hari.
Menurut penulis, manfaat kontrol lebih mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental pada: (a) terhindar dari gangguan kejiwaan; (b) mampu menyesuaikan diri; (c) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan; (d) dapat merasakan kebahagiaan; (e) memiliki ketahanan mental; (f) dapat menjawab tantangan hidup. Sedangkan pada tolak ukur kesehatan mental, lebih pada point; (2) terhindar dari perbuatan tercela; (4) mampu mengembangkan potensi-potensi sifat yang terpuji.
Keenam, manfaat evaluasi yakni; Dengan membaca Al-Qur'an pembaca dapat melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang baik atau yang buruk. Dalam hal ini berarti ada proses introspeksi terhadap perbuatan sendiri, tingkah laku, kehidupan batin, pikiran, perasaan sendiri, keinginan dan segenap unsur kejiwaan lainnya merupakan pemahaman primer yang diperlukan dalam upaya pencegahan gangguan kejiwaan. Juga menurut Ahmad Amin bahwa, orang yang telah mengetahui dirinya baik harga diri/kelemahannya dalam masyarakat dapat mengubah seseorang dari penyakit mental.
Introspeksi berarti pentilawah memikirkan ketaatan dankemaksiatan serta menganalisis kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri. Dengan proses seperti ini, mendorong pentilawah untuk berlaku taat dan meninggalkan maksiat serta mencintai dan mendekatkan diri kepada Allah.
Introspeksi pengamatan terhadap dirinya sendiri bermanfaat besar dalam pengobatan kejiwaan. Dengan pengamatan terhadap dirinya sendiri, seseorang akan dapat mengenal dan mengerti dengan baik keadaan dirinya, sehingga seseorang akan mampu mengatasi problem-problem yang dideritanya. Dengan demikian, penderita dapat memperoleh ketenangan jiwa karena ia dapat mengenal dan memandang dirinya secara obyektif, bebas dari konflik, serta sikap dan perasaan yang menekan dalam penyesuaian diri.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan, manfaat evaluatif mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental; (a) terhindar dari gangguan kejiwaan; (b) mampu menyesuaikan diri; (c) mampu mengembangkan bakat; (d) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan; (e) merasakan kebahagiaan; (f) dapat menjawab tantangan hidupnya. Sedangkan dengan tolak ukur kesehatan mental lebih pada terhindar dari sifat-sifat tercela, dan mampu mengembangkan potensi sifat terpuji.
Ketujuh, manfaat eskatologis yakni, tilawah Al-Qur'an dapat menghasilkan pahala. Setiap mukmin yakin, bahwa membaca Al-Qur'an saja, sudah termasuk amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebab yang dibacanya itu adalah kitab suci Ilahi. Disamping itu, membacanya merupakan amal ibadah sunnah yang besar pengaruhnya pada jiwa. Karena Qur’an firman Allah dan sebagai hasilnya cinta Allah akan tumbuh dalam jiwa. Mengingat Allah ini tercapai meskipun orang tidak paham arti Al-Qur'an itu.
Dengan demikian manfaat ekatologis lebih pada ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental yaitu: Beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Dari penjelasan di atas, jika membaca Al-Qur'an dikomparasikan dengan ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental, nampak point yang terbesar adalah terhindar dari gangguan mental, yang dalam tolak ukur kesehatan mental adalah terhindar dari perbuatan tercela, kemudian point kedua adalah faktor keimanan dan ketaqwaan. Ini menunjukkan ada tarik menarik antara faktor terhindar dari gangguan mental dengan faktor keimanan dan ketaqwaan meskipun tidak selamanya demikian.
Dalam Islam, beriman dan bertaqwa kepada Allah merupakan tonggak utama dalam struktur atau bangunan keagamaan. Menurut Izutsu, ada hubungan yang sangat erat antara iman dengan salihat “perbuatan baik”. Orang-orang yang beriman belumlah dapat dikatakan beriman yang sesungguhnya bila ia belum mewujudkan keyakinannya itu dalam bentuk perbuatan. Iman dan amal saleh menyajikan program jangkauan yang ideal bagi pembinaan pribadi, karena jalurnya terbina secara vertikal dan horizontal yang tidak dapat terpisahkan sekejap pun.
Wawasan nafsioligis, iman yang lemah atau salah pembinaannya merupakan sebab utama dari hampir semua penyakit dan gangguan nafsaniah. Gangguan kejiwaan–seperti rasa cemas, takut, dan bimbang; gangguan perilaku dan kepribadian serta kecemasan psikologis dengan sejumlah gejalanya yang terbentuk psikis maupun fisik–adalah beberapa indikasi yang membutuhkan penyembuhan dengan keimanan.
Keimanan seseorang akan merasa aman dan merasa tidak ada gangguan dalam dirinya (sesuai dengan arti dari kata A–m–n), dan dengan iman seseorang akan merasa lega dan puas (sesuai dengan makna mutmain).
Dari penjelasan di atas, nampak ada korelasi positif antara terhindarnya gangguan mental dengan keimanan seseorang. Faktor keimanan inilah yang mendorong seseorang untuk merealisasikan ajaranajaran Islam sehingga akan membantu pertumbuhan dan perkembangan jiwanya. Dengan memenuhi dan merealisasikan nilai-nilai itu diharapkan seseorang akan menemukan dan mengembangkan makna hidupnya, sehingga mengalami hidup secara bermakna (The meaning full life) yang merupakan pintu terbuka ke arah kebahagiaan (happiness).
Tidak hanya itu, menurut Zakiyah Darajat, dalam psiko–terapi (perawatan jiwa) ternyata bahwa, yang menjadi pengendali utama dalam sikap, tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal (pikiran) sematamata, akan tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan. Untuk menciptakan keserasian (keharmonisan) antara pikiran, perasaan, dan perbuatan dibutuhkan keimanan. Keimanan di sini yang akan mengontrol pikiran, perasaan, dan perbuatan, sehingga akan terciptalah rasa aman dan tenteram. Dalam agama Islam, terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul iman).
Menurut Zakiah Darajat, semua rukun iman tersebut mempunyai fungsi yang menentukan dalam kesehatan mental seseorang. Ini, dikarenakan, keimanan merupakan proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama menyakinkannya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan mental pun kurang sempurna pula. Keimanan (rukun iman) juga mengajarkan seseorang untuk bersifat menerima (positive thinking), terhadap Allah, sehingga akan membebaskan orang dari segala macam ketegangan jiwa. Jadi, untuk terhindar dari gangguan mental, diperlukan perangkat keimanan untuk mewujudkannya. Faktor keimanan ini bisa diperoleh dari Tilawah Al-Qur'an, karena tilawah Al-Qur'an sendiri merupakan rangkaian iman dalam Islam.
Selanjutnya sebagai sarana peningkatan aqidah kita adalah melakukan ibadah, ibadah bukan hanya merupakan suatu ketaatan yang sangat, ketaatan itu muncul di perasaan hati untuk mengagungkan Tuhan yang disembah, ibadah kepada Allah merupakan sarana peningkatan mental yang sehat, beribadah kepada Allah artinya selalu taat menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dalam suatu bentuk ketaqwaan dan keimanan. Diantara bentuk ibadah kepada Allah yaitu menjalankan shalat, puasa, membaca al-Qur’an dengan artinya ibadah lainnya seperti halnya dengan sholat..
Sholat adalah salah satu dari bentuk ibadah wajib yang bagi setiap muslim. Dengan sholat bacaan al qur'an dan do'a tercover di dalamnya. Sholat yang mampu memberikan ketentraman dan ketenangan jiwa kita, karena pada saat kita melakukan shalat, ketegangan syarat yang timbul dari berbagai tekanan kehidupan do’a. selain shalat, puasa pun berguna bagi pencegahan gangguan mental. Dengan menjalankan puasa juga memberikan manfaat kejiwaan pada diri manusia karena puasa merupakan sarana pendidikan dan pelurusan jiwa serta penyembuhan bagi berbagai penyakit jiwa dan tubuh. Di samping itu puasa melatih seseorang agar dapat bersabar, seperti menahan lapar, haus dan hawa nafsu yang selanjutnya kesabaran itu diterapkan dalam seluruh aspek kehidupannya.
Hubungan baik manusia dengan sesamanya akan membawa kebaikan dan kebajikan. Hati kita akan didasari oleh sifat yang baik sehingga kita termasuk orang yang berhati bersih dan sholeh. Dari hati yang bersih dapat menimbulkan rasa keimanan sehingga kita dapat terhindar dari segala perbuatan yang merugikan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain atau masyarakat. Dengan adanya suatu hubungan yang baik antara manusia dengan sesamanya maka akan terhindar dari segala penyakit mental.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dalam menelusuri hidupnya, Allah membekalinya dengan keistimewaankeistimewaan berupa akal pikiran. Di dalam al-Qur’an terhadap penjelasan tentang kepribadian manusia dan berbagai karakteristik umum yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Dengan akal pikiran yang dimilikinya diharapkan manusia dapat menjaga dirinya dari gangguan-gangguan atau penyakit-penyakit mental. Manusia harus sadar bahwa anugerah yang diberikan Allah kepada dirinya tidak dengan sendirinya datang tanpa ada penyebabnya. Dan manusia harus sadar juga bahwa setiap yang datang pasti ada yang mendatangkannya dan setiap yang tercipta pasti ada yang menciptakannya. Semua bermula pada penyebab yang satu yaitu Allah, Dialah tempat kembali semuanya.
Jika manusia sadar terhadap adanya Allah, maka akan terbentuklah aqidah yang kuat dalam jiwanya. Sebagai jalan lurus yang harus ditempuh untuk meningkatkan ajaran Islam manusia harus selalu membaca al-Qur’an dan berdzikir karena sangat diperlukan bagi pembinaan mental manusia.
Manifestasi dari membaca al-Qur’an dalam rangka pencegahan dan pengobatan gangguan penyakit mental dapat melalui tilawatil Qur’an, berdoa, membaca sholawat nabi dan sebagainya. Kesemua bentuk tersebut sangat besar peranannya dalam pembinaan mental manusia dan dianjurkan oleh ajaran Islam dalam rangka meningkatkan keimanannya.
H. Akhlak Spiitual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
Pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo yang terletak di Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, mempunyai peranan seperti pondok pesantren yang ada di Indonesia, terutama di dalam mengembangkan pendidikan al-Qur’an beserta ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.
Pendidikan semacam ini mempunyai tujuan dan harapan yang mendasar bagi kehidupan diri sendiri dan masyarakat. Adapun tujuan dari pendidikan tersebut adalah membina dan membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang semuanya itu merupakan manifestasi dari ajaran yang terdapat dalam al qur'an.
Aktifitas yang dilakukan santri berupa membaca al qur'an di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo diharapkan bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat umum. Karena pada dasarnya pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren bertujuan untuk membentuk manusia yang faham terhadap hukum sebagaimana yang tertulis secara tersirat maupun tersurat dalam al Qur'an dan Hadits.
Pendidikan di Pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo juga memprioritaskan pada pendidikan al-Qur’an, baik tahfidul qur'an, murottal bil ghoib ataupun belajar al qur'an yang sifatnya dasar. Disamping membentuk santri yang taat di lembaga pendidikan tersebut juga mengemban misi yang mulia yaitu ingin mengembangkan dan menyebarluaskan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an baik untuk diri sendiri maupun masyrakat. Dengan pendidikan al-Qur’an yang dilakukan setiap hari di pondok tersebut oleh para ustadz ternyata mempunyai pengaruh terhadap kepribadian santri dan masyarakat.. Di antara dampak rutinitas membaca santri adalah bagi kesehatan mental santri, hal itu dapat dilihat dari pola kehidupan sehari-hari para santri yang selalu mencerminkan tingkah laku dan sikap yang Islami :
a) Pengaruh yang paling fundamental ketika seorang santri melakukan rutinitas membaca al-Qur’an adalah ia akan mendapatkan ketenangan jiwa dan kedamaian hati, jika jiwa dalam keadaan tenang, maka ketika seorang santri terkena suatu masalah ia akan menyikapinya dengan tenang pula sehingga ia akan mendapatkan jalan keluar yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika seorang santri sudah dapat melakukan rutinitas membaca al-Qur’an maka lama kelamaan membaca al-Qur’an menjadi suatu kebutuhan, sehingga al-Qur’an akan menjadi pedoman hidup seorang santri, baik pedoman untuk hidup bermasyarakat maupun pedoman untuk beribadah kepada Allah SWT. Dari pedoman tersebut santri yang rutin membaca al-Qur’an akan tercermin kalau secara fisik dapat dilihat dari tingkah laku yang berakhlaqul karimah, kalau secara psikis dapat dilihat dari keimanan, ketaqwaan dan juga rasa tawakal pada Allah.
b) Dengan rutin membaca al-Qur’an santri juga akan mengetahui hal-hal apa saja yang dilarang oleh agama dan yang dianjurkan oleh agama, sehingga seorang santri tidak mudah terjerumus kedalam hal-hal yang berbau kemaksiatan.
Firman Allah :


Artinya : “ Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya”. (Al-Fajr. ayat : 27-28)

c) Santri yang sudah terbiasa hidup mandiri, bergaul dengan masyarakat dan seringnya tegur sapa, saling menasehati tentang kesabaran dan kebenaran pada akhirnya santri akan selalu terbiasa hidup bermasyarakat dan hidup penuh rasa sosial.
d) Ayat al-Qur’an yang diajarkan di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo yang sering menekankan pada pelajaran tentang hal keimanan, ketaqwaan kalau dan ketaqwaan pada Allah akan membentuk sikap dari santri yang selalu beriman penuh kepasrahan (tawakal) dan taqwa kepada Allah, apalagi didukung oleh keikhalasan dan kesederhanaan juga ketawadhuan kyai Munawir Abdurrahim menjadi suri taula dan dalam pembinaan, yang dimaksud penulis adalah pembinaan tentang keimanan, ketaqwaan dan juga rasa tawakal pada Allah, maka akan menjadi motivasi bagi santri untuk mempraktekkan ayat-ayat tentang keimanan tersebut.
e) Pandangan santri mengenai orang muslim dan orang muslim lainnya adalah saudara maka dalam hal ini akan membentuk mental mereka yang selalu mementingkan persaudaraan sehingga diharapkan setelah santri terjun di tengah masyarakat mereka akan senantiasa menjaga ukhuwah Islamiyah dan sikap ini oleh seorang santri mulai ditanamkan semenjak mereka hidup bermasyarakat di pondok.
Hal tersebut di atas merupakan dampak dari rutinitas membaca al- Qur’an secara garis besar. Hal ini penulis lakukan agar dampak dari membaca al-Qur’an secara rutin, penulis yakin terlalu banyak sekali dapat teringkas, tidak semuanya disebut satu persatu.
Rutinitas membaca Al-Qur'an yang dilakukan oleh santri mempunyai relevansi dengan kesehatan mental dapat dilihat ketika santri melakukakn rutinitas tersebut terhadap konsep kesehatan mental.
1. Etika baca Al-Qur'an ditinjau dari ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental.
a. Etika lahiriyah (eksternal rules) ditinjau dari ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental Etika lahiriyah mempunyai relevansi dengan ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental. Namun ada etika lahiriyah yang tidak bisa dibandingkan dengan ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental, diantaranya: menyangkut kadar bacaan, tartil, mematuhi hak ayat-ayat yang dibaca, merendahkan bacaan dan memperindah bacaan.
Etika lahiriyah pertama yakni, “berkenaan dengan kondisi pembaca Al-Qur'an”, dalam hal ini penulis membidik dari segi kesucian pembaca (wudlu). Dalam hukum Islam, soal bersuci atau kesucian merupakan hal yang sangat penting, sehingga kesucian itu menjadi syarat syahnya ibadah tertentu. Wudlu dalam fiqh masuk dalam masuk dalam pembahasan thaharah, thaharah menurut A.F Jaelani merupakan konsep kebersihan lahir yang mengacu pada kesucian batin.
Dengan demikian, kebersihan lahir akan dapat menimbulkan perasaan bersih dan nyaman dalam jiwa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian para ahli ilmu jiwa, bahwa seseorang yang kotor jasmaninya akan berpengaruh terhadap pola pikirnya, sedangkan seseorang yang kotor rohaninya akan berpengaruh terhadap sikap mentalnya. Kemudian lebih lanjut dikatakan oleh Fachruddin bahwa jiwa yang bersih akan melahirkan amal dan perbuatan yang baik. Perbuatan baik inilah yang akan melahirkan mental yang sehat.
Dengan demikian, menurut penulis, etika lahir pertama (aspek kesucian) jika di komparasikan dengan kesehatan mental akan nampak relevansinya dengan ciri-ciri kesehatan mental, terutama pada; (a) terhindarnya dari gangguan dan penyakit jiwa, karena seperti dijelaskan diatas, bahwa kebersihan lahir akan mengacu pada kesucian jiwa yang menimbulkan perasaan nyaman, damai dalam jiwa; (d) adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan, jika dengan wudlu seseorang merasakan damai, nyaman, tenang dan bahagia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan norma-norma yang ada, maka berarti ada keserasian fungsi-fungsi kejiwaan pada orang tersebut; (e) dapat merasakan kebahagiaan dan kemampuan diri untuk menghadapi masalah yang biasa terjadi, dengan merasa bersih dan nyaman dalam jiwa, maka seseorang akan memperoleh kebahagiaan. Sehingga dalam menghadapi masalah ia akan bersifat obyektif; (h) kebersihan dalam Islam merupakan hal yang berkaitan dengan iman seseorang.
Menurut penulis, etika lahir pertama juga mempunyai relevansi dengan tolak ukur kesehatan mental, terutama pada; (1) kebersihan merupakan cermin dari iman seseorang; (2) dengan bersuci, seseorang akan terhindar dari perbuatan tercela, seperti : ghadhab (marah dalam konotasi negatif), dijelaskan dalam Al-Qur’an pada : surat Yusuf (12 ; 53), (Q.S.al-Jaatsiyah (45):23) dan (Q.S.Shaad (38):26); (4) mampu mengembangkan potensi dan kualitas insani yang terpuji seperti, mampu menjaga lidah, lihat (Q.S.al-Rahman (53): 3-4), (Q.Sal-Balad (90) :8-10), (Q.S.Thaha (20) :25-28), (Q.S. al-Syu’ara (26) :12-13), (Q.S an-Nahl (16):116) dan (Q.S. al-Fath (48:11).
Etika lahiriyah yang keempat yakni, “menangis”. Orang yang telah dapat menangis dalam membaca Al-Qur'an berarti dia telah merenungkan ancaman dan siksa serta perjanjian dengan Allah SWT, kemudian merenungkan kekurangan diri dalam menjalankan perintahperintah-Nya dan tindakan melanggar ancaman-Nya. Dengan mengingat kembali kesalahan/dosa-dosa yang lama, akan memudahkan pentilawah untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian diri terhadap tindakan yang baru, karena ia telah mampu memandang dirinya dengan baik (konsep diri)
konsep diri merupakan proses yang berkelanjutan, proses menilai yang bersifat organismik, bukan lagi bersifat status tetapi mampu untuk menyesuaikan kembali dan berkembang sebagai pengalaman-pengalaman baru yang terintegrasikan. Dengan demikian santri dapat mengenal dan memperbaiki dirinya serta memperoleh ketenangan jiwa. Etika ini juga mendorong seseorang untuk mengungkapkan segala perasaan, keluhan dan permasalahan kepada Allah melalui ayat-ayat yang dibaca.
Disamping itu, menurut An-Nawawi, menangis ketika membaca Al-Qur’an merupakan sifat orang yang telah mencapai derajat pengetahuan yang dalam dan lambang bagi hamba Allah yang shaleh. Dengan demikian, menurut penulis, etika ini mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental terutama pada; (a) dengan mengadakan perubahan dan penyesuaian diri terhadap tingkah laku yang telah diperbaiki, pembaca akan terhindar dari gangguan dan penyakit mental; (h) Beriman dan Bertaqwa kepada Allah S.W.T.
Etika ini menurut penulis, mempunyai relevansi dengan kesehatan mental terutama pada point; (1) beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT; (2) dengan kemampuan memandang dirinya, ia akan terhindar dari perbuatan tercela, seperti : aniaya (pebuatan yang melanggar hukum), lihat (Q.S. Yunus(10):44), (Q.S. Lukman (31):13), (Q.S al-Baqarah (2):231), (Q.S. al-Furqan (25):27), ujub (Q.S. Faathir (35):8), (Q.S. al-Ma’un (107):4-7), (Q.S.an-Nisa’ (4) :38). (4) dengan selalu memperbaiki dirinya, berarti ia lebih mampu mengembangkan potensi dan kualitas insani yang terpuji seperti : amal shaleh (lihat Q.S. (17) : 9), (Q.S. al-Maidah (5) : 9).
Etika lahiriyah keenam yakni, ”berkenaan dengan do’a sebelum sesudah dan selama membaca Al-Qur'an. Do’a secara umum mengandung kekuatan spiritual/kerohanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme, dua hal ini yang amat esensial bagi pencegahan, penyembuhan suatu penyakit, baik penyakit fisik atau mental. Do’a merupakan terapi yang berguna bagi jiwa manusia karena ia dapat menghilangkan kesedihan dan kesusahan, ketakutan dan kegelisahan serta menghilangkan rasa putus asa, kelemahan dan kekerasan.
Disamping itu, dengan do’a orang dapat memperoleh nikmat ampunan, harapan, kelegaan jiwa dan kedekatan diri dari Allah. Dengan selalu berdo’a orang akan merasakan bahwa Allah mendengar, memperhatikan, dan mengabulkan do’anya, sehingga pencapaian ketenangan jiwa dalam kehidupan dapat terwujud, ini berfungsi bagi pencegahan gangguan mental. Semakin banyak orang berdo’a dan mengingat Allah, semakin tinggilah sifat harap dan kelegaan jiwanya serta ingat dan ketenangan jiwanya. Selanjutnya semakin tinggi pula ketaqwaan dan kesucian dirinya.
Dengan demikian, menurut penulis jika etika lahiriyah keenam ini dikomparasikan dengan konsep kesehatan mental, tampak bahwa etika ini mempunyai relevansi dengan ciri-ciri kesehatan mental pada: (a) terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa; (d) adanya keserasian dari fungsi-fungsi kejiwaan; (e) dapat merasakan kebahagiaan dan kemampuan diri untuk menghadapi masalah yang biasa terjadi; (f) memiliki ketahanan mental yang kuat dan tabah menghadapi cobaan, ujian, dan penderitaan yang menimpa dirinya; (g) dapat menjawab tantangan hidupnya dengan baik; (h) beriman dan bertaqwa pada Tuhan.
Doa juga mempunyai relevansi dengan tolak ukur kesehatan mental terutama pada point; (1) beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha esa, karena do’a adalah bentuk pasrah dan tawakkal kepada Tuhan.
b. Etika Batiniyah (mental task) ditinjau dari ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental
Etika batiniyah mempunyai relevansi dengan ciri-ciri dan tolak ukur kesehatan mental. Namun ada diantaranya yang tidak mempunyai relevansi dengan kesehatan mental, yaitu : membebaskan diri dari penghalang pemahaman, dikarenakan etika ini hanya bersifat membantu pada proses mentadabburi Al-Qur'an, kemudian meningkatkan dan mentadabburi Al-Qur'an, ini juga masuk dalam etika mentadabburi.
Etika batiniyah pertama yakni, “mentadabburi Al-Qur'an.” Mentadabburi Al-Qur'an adalah merenungkan, menghayati Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh, sehingga berakibat pada perilakunya. Tadabbur lebih dekat dengan tafakkur. Tafakkur yang mengarahkan hati untuk memperhatikan dalil, sedangkan tadabbur yang mengimbas pada perilakunya sehari-hari. Dalam hal ini menurut penulis bertadabbur berarti bertafakkur, karena bertadabbur dan bertafakkur berarti menghadirkan jiwa dan mempergunakan akalnya dalam memikirkan, menghayati dirinya, makhluk dan keagungan Allah. Jika kita bertadabbur dan bertafakkur tentang diri kita sendiri, maka berarti tadabbur dan tafakkur disini merupakan proses pengenal dan penerimaan diri. Jika proses tadabbur dan tafakkur ini ditujukan untuk mengubah perilaku seseorang, maka ini dapat dilakukan dengan mengulang-ulang perilakunya yang baru.
Perawatan kejiwaan menghendaki penderita berkemampuan dalam mengadakan pengamatan terhadap dirinya, karena besar arti dan manfaatnya dalam pengobatan. Dengan pengamatan orang dapat mengenal dan mencapai pengertian yang baik tentang keadaan dirinya serta menerimanya dengan cara yang baru. Jika pembaca dapat mengenal dan memandang dirinya secara obyektif, bebas dari konflik, serta sikap dan perasaan yang menekan dalam menyesuaikan diri, maka ia akan memperoleh ketenangan batin Dan bila orang sering bertadabbur dan bertafakkur dengan Al-Qur'an (baik tentang perilakunya sendiri, mahluk dan kebesaran Allah), maka akan bebaslah ia dari pandangan yang picik baik dengan dirinya sendiri atau dengan orang dan perasaan yang menekan.
Dengan demikian, menurut penulis jika tadabbur dikomparasikan dengan konsep kesehatan mental, akan tampak bahwa tadabbur mempunyai relevansi dengan semua ciri-ciri kesehatan mental. Dengan tadabbur orang akan terhindar dari gangguan kejiwaan, mampu menyesuaikan diri, mampu mengembangkan bakat dan potensi karena ia telah mengenal dirinya sendiri, adanya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan, merasakan kebahagiaan, mampu menjawab tantangan hidupnya, dan tadabbur merupakan bentuk keimanan seseorang. Disamping itu, tadabbur juga mempunyai relevansi dengan tolak ukur kesehatan mental diantaranya: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, jauh dari sifat tercela, mampu menyesuaikan diri, mampu mengembangkan potensi dan kualitaskualitas insani yang terpuji.
Etika batiniyah keempat yakni, “Berdialoq dengan Al- Qur'an”. Berdialoq dengan Al-Qur'an merupakan tuntutan tadabbur yaitu agar kaum muslimin berdialoq dan berinteraksi dengan Al-Qur'an yang ia baca dengan akal dan hatinya, yakni dalam keadaan terjaga, sadar, dan relegius, bukan dalam keadaan melamun dan tidak konsentrasi. Dalam etika ini berarti ada proses komunikasi antara hamba (pentilawah ) dengan Allah, pentilawah memasrahkan dirinya melalui ayat-ayat yang dibaca, sehingga dalam hal ini pentilawah dapat mengungkapkan sikap dan perasaannya dengan Allah. Pentilawah merasakan kesenangan karena tahu bahwa yang dibacakanya bukan surat dari manusia, akan tetapi surat yang ditulis oleh Allah (Dzat Yang Maha Agung) untuk dirinya.
Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pengaruh membaca al-Qur’an terhadap kesehatan mental santri mempunyai dampak yang signifikan, dapat dilihat dari rutinitas membaca al-Qur’an yaitu mampu meningkatkan moral santri sehingga para santri di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, berakhaqul karimah yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an.

I. Hubungan Urgensi Kontinuitas Membaca Al Qur’ann Dengan Ahklak Dan Spiritual Santri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo.
Untuk mengetahui adanya hubungan spiritual antara kontinuitas membaca al-Qur’an dan akhlak spiritual santri dapat dilihat dari data-data yang ada di dalam Bab III yaitu :
Tabel I.I
No Nama Santri Kontinuitas hapalan / hari Jumlah Hapalan
Per minggu
< 1 Juz 1 Juz 1,5 Juz
1 Hamdi 1 √ - -
2 Munif Baehaqi 2 - √ -
3 Mansyur 1 √ - -
4 Muhaemin 2 √ - -
5 Ulil Abror 1 √ - -
6 Mudofar 1 √ - -
7 Muhalim 1 - - √
8 Dede Khoer A 2 - √ -
9 Nur Kholis 1 √ - -
10 Sofarul 1 √ - -
Jumlah 8 2 -

Dengan target hapalan 2 ( dua ) juz dalam satu minggu
Data tersebut dapat dihiting dengan menggunan rumus :
. f . x 100 %
n
dimana :
f = frekuensi jawaban
n = jumlah seluruh kategori jawaban
100 = bilangan tetap
a. Yang bisa menyelesaikan < 1 juz
. 8 . x 100 % = 80 %
10
b. Yang bisa menyelesaikan 1 juz
. 2 . x 100 % = 20 %
10

c. Yang bisa menyelesaikan 2 juz
. 0 . x 100 % = 0 %
10
Tabel I.II
DATA QUISIONER SANTRI YANG TIDAK KONTINU DALAM MENGHAPAL AL-QURAN

No Variabel Indikator Jml Ket
SL JR TP
1 Mengucapkan salam 10 % 70 % 20 % 100 % -
2 Menolong Teman 40 % 60 % 0 % 100 % -
3 Mendo’akan orang tua
Setelah salat fardu 30 % 70 % 0% 100 % -

Keterangan :
SL : Selalu
JR : Jarang
TP : Tidak pernah


C. Data santri yang kontinu (teratur ) dalam menghapal al-Qur’an .
Tabel I.III
No Nama Santri Kontinuitas hapalan / hari Jumlah Hapalan
Per minggu
< 1 Juz 1 Juz 1,5 Juz
1 Umi Saadah 2 - - √
2 Hani M 2 - √
3 Mansyur 2 - - √
4 M. Zairoh 2 - - √
5 S. Komariah 2 - - √
6 Evi K 2 - - √
7 Umniatul M 2 - √ -
8 Ivi Saniati 2 - √ -
9 Laelatul I 2 √ - -
10 Safitri I 2 √ - -
Jumlah 2 2 6


Dengan target hapalan 2 ( dua ) juz dalam satu minggu
a. Yang bisa menyelesaikan < 1 juz
2 x 100 % = 20 %
10
b. Yang bisa menyelesaikan 1 juz
2 x 100 % = 20 %
10
c. Yang bisa menyelesaikan 2 juz
6 x 100 % = 60 %
10
Tabel I.IV
DATA QUISIONER SANTRI YANG KONTINU DALAM
MENGHAPAL AL-QURAN
No Variabel Indikator Jml Ket
SL JR TP
1 Mengucapkan salam 60 % 20 % 20% 100 % -
2 Menolong Teman 50 % 50 % 0 % 100 % -
3 Mendo’akan orang tua
Setelah salat fardu 70 % 30 % 0 % 100 % -



Keterangan :
SL : Selalu
JR : Jarang
TP : Tidak pernah

Dari hasil perhitungan tersebut di atas penulis dapat mengetahui adanya hubungan yang signifikan antara kontinuitas membeca al-Qur’an dengan peningkatan kualitas akhlak spiritual santri, dengan perbedaan prosentase sebagai nerikut :
Tabel I.V
Tidak kontinu menghapal al-Quran Kontinu menghapal al-Quran
Kemampuan hapalan santri Kemampuan hapalan santri
< 1 Juz 1 Juz 2 Juz < 1 Juz 1 Juz 2 Juz
80 % 20 % 0% 20 % 20 % 60 %


Tabel I.VI
Kualitas akhlak santri Kualitas akhlak santri
Tidak kontinu menghapal al-Quran Kontinu menghapal al-Quran
SL JR TP SL JR TP
10 % 70 % 20 % 60 % 20 % 20 %
80 % 20 % 0% 50 % 50 % 0 %
80 % 20 % 0% 70 % 30 % 0 %



BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan dengan judul “Urgensi Kontinuitas Membaca Al-Qur'an Dengan Akhlak dan Mental Spiritual Santri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kujangsari Kota Banjar” akhirnya dapat penulis simpulkan sebagai berikut :
1. Urgensi Kontinuitas membaca al-Qur'an terhadap kesehatan mental adalah Meningkatnya aktifitas ubudiyah santri baik yang bersifat wajib maupun sunnah.
2. Terbentuknya santri yang berakhlaqul karimah dengan kadar keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.
3. Terdapat hubungan yang signifikan antara kotinuitas membaca al-Quran dengan kualitas akhlak spiritual santri dengan perbedaan prosentasi sebagai berikut :
Tidak kontinu menghapal al-Quran Kontinu menghapal al-Quran
Kemampuan hapalan santri Kemampuan hapalan santri
< 1 Juz 1 Juz 2 Juz < 1 Juz 1 Juz 2 Juz
80 % 20 % 0% 20 % 20 % 60 %

Kualitas akhlak santri Kualitas akhlak santri
Tidak kontinu menghapal al-Quran Kontinu menghapal al-Quran
SL JR TP SL JR TP
10 % 70 % 20 % 60 % 20 % 20 %
80 % 20 % 0% 50 % 50 % 0 %
80 % 20 % 0% 70 % 30 % 0 %

B. Saran-Saran
1. Mengingat membaca Al-Qur'an mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesehatan mental, maka sudah selayaknya para santri untuk selalu membaca Al-Qur'an sekaligus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja, baik di rumah maupun di masjid. Dengan demikian diharapkan agar nantinya para santri memiliki bekal keagamaan yang cukup untuk mengarungi kehidupan di masa mendatang dan diterapkan kepada orang lain.
2. Bagi santri dan masyrakat pada umumnya apabila menghadapi masalah hendaklah segera memohon kepada Allah SWT, dan salah satu cara alternatif yang ditempuh untuk membantu penyelesaian masalah secara baik, efektif dan efisien adalah membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an.
3. Program menghapal atau membaca al-Quran sangat perlu untuk dipertahankan sebagai upaya untuk memelihara aturan-aturan syariat agama Islam teruma untuk membina akhlakul karimah para santri pada khususnya dan umat islam pada umumnya
C. Penutup
Dengan selesainya penelitian yang penulis lakukan segala puji senantiasa saya panjatkan kepada Allah SWT, serta shalawat serta salam yang senantiasa saya ucapkan ke baginda Rosulillah SAW. Ini adalah usaha maksimal yang penulis lakukan, kritik dan saran membangun merupakan harapan bagi penulis.
Harapan penulis, semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, di balik segala kekurangan dan kelebihan di dalamnya. Menyadari akan hal ini, maka penulis tidak menutup diri atas segala masukan dalam bentuk kritik dan saran. Kesemuanya itu akan penulis jadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perbaikan kelak dikemudian hari.

















DAFTAR PUSTAKA


A.F Jaelani, Penyucian Jiwa dan Kesehatan Mental Jakarta: Amzah, 2000
Abdalati, Hammudah Islam Dalam Sorotan Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1981, Cet. I.
Al Maududi, Sayyid Abul A’la Toward Understanding Islam Kuwait: Al Faisal Press, 1992
Al-Hasyimi, Sayyid Ahmad, Mahtarul Ahadits An-Nabawiyah Lebanon: Darul Fikr, tth
Al-hikami, Hafidh Interaksi dengan Al-Qur'an Jakarta: darul haq, 2001
Al-Qosyimiy, Syaikh Muhammad Djamaluddin (Terj). Abu Ridho, Mauidotul Mukminin min Ihya’ Ulumuddin Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993
Amin, Ahmad Ethika (Ilmu Akhlak) Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Amin, M.Rusli MA, Pencerahan Spiritual Sukses Membangun Hidup Damai dan Bahagia Jakarta: Al-mawardi Prima, 2002
An-Naisaburi, Imam Muslim Ibnu Hajjaj, Shahih Muslim, Lebanon, Beirut: Darul Fikr, tth Juz I.
An-Nawawi, Muhyidin Abi Zakariya Yahya, Al-Adzkar Lebanon, Beirut: Darul Fikr, 1994
---------------, Imam Abu Zakariya Yahya, Riyadush Shalihin Beirut: Darul Fikr, 1987
Arikunto, Suharsimi, Metode Penelitian Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997
Ash-Shidieqy, T.M. Hasbi, Pedoman Dzikir dan Do’a Jakarta: Bulan Bintang, 1990
Atjeh, Aboe Bakar, Pengantar Ilmu Tarekat Solo: CV. Ramadhani, 1985
Bastaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami Yogyakarta: Pusaka Pelajar, 2001
Daradjat, Zakiah Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Jakarta: PT. Toko Gunung Agung, 2001
------------------, Islam dan Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung Agung, 1982
------------------,Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental Jakarta: Bulan Bintang, 1982
--------------------, Kesehatan Mental dalam peranannya dalam Pendidikan Jakarta: Gunung Agung, 1983
Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi I Jakarta: Balai pustaka, 1994
El Qudsy, Abdul Aziz, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa atau Mental, Terj. Zakiah Darajah Jakarta: Bulan Bintang, 1989
Fachruddin HS, Membentuk Moral Bimbingan Al-Qur'an Jakarta: PT. Bina Aksara 1985
Fahmi, Mustafa Penyesuaian Diri Lapangan Implementasi dari Penyesuaian Diri (penerjemah Zakiyah Daradjat ) Jakarta: Bulan Bintang, 1982
Farid, Miftah, Masyarakat Ideal Bandung: Pustaka Pelajar, 1997
Fatah, Sholeh Abdul, Kunci Menguak Al-Qur’an Solo: Pustaka Mantiq, 1991
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research Yogyakarta: Andi Offset, 2001
Hasan, Maimunah Al-Qur’an dan Pengobatan Jiwa Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2001
Hawa, Said Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun-Nafs Terpadu Jakarta: Robbani Press, 2000
Hawari, Dadang Do’a Dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis Jakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1997
Izutsu, Tashihiko, Etika Beragama dalam Qur’an (Penerjemah Mansurudjin Djoely) Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993, Cet. I .
Kartono, Kartini dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan mental Bandung: CV. Mandar Maju, 1989
------------------, Patologi Sosial 3 : Gangguan-gangguan Kejiwaan Jakarta: Rajawali Press, 1986
------------------, Hygine Mental Bandung: Mandar Maju, 2000
Kelompok Studi Mahasiswa Psikologi Surakarta, Melihat S. Freud dari Jendela Lain Solo: Studi, 1991, Cet. III.
Mahmud abdullah, Doa Sebagai Penyembuh Untuk Mengatasi Stres, Frustasi, Krisis Dan Lain-Lain Bandung: Al-bayan, 2000
Mahmud, Ahmad Halim, Tadarus Kehidupan di Bulan Al-Qur’an Yogyakarta: Mandiri Pustaka Hikmah, 2000
Mahmud, M. Dimyati, Psikologi Suatu Pengantar Yogyakarta: BPI E, 1990
Maimunah, Hasan, Al Quran dan Pengobatan Jiwa Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2001
Malik Badri , Tafakkur Perspektif Psikologi Islam Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1996
Mursal dan H.M. Tahir, Ilmu Kalam Jakarta: Wijaya, tth
Najati, Dr. M. Ustman Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Terj. Ahmad Rofi’i Ustmani Bandung: Pustaka Pelajar, 1985
Najati, Usman, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa Bandung: Pustaka Bandung, 1985
Nawawi, Hadari, Metodologi Penelitian Bidang Sosial Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998
Nurudin, Muslim dkk, Moral dan Kognisi Islam Bandung: CV. Al-Fabeta, 1995
Sangarimbun, Masri dan sofyan efendi, Metode Penelitian Survey Jakarta: LP3S, 1987
Shidiqiey, T.M Hasbi Ash, Pedoman Dzikir Do’a Jakarta: Bulan Bintang. 1993
Soedarso, Sistem Membaca Cepat dan Efektif Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993
Sukamto MM, A, Dardiri Hasyim, Nafsiologi Refleksi Analisis tentang Diri dan Tingkah Laku Manusia, Surabaya: Risalah Gusti, 1995
-----------------, Paket Moral Islam Menahan Nafsu dari Hawa, Solo: Indika Press, 1994 RB. Burns, Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku (Penerjemah Eddy) Jakarta: Arcon, 1993
Supardi, Ahmad dan Wahyudin Syah, 1984
Suryabrata, Sumardi, Psikologi Pendidikan Jakarta: CV. Rajawali, 1984
Sya’ban, M.A. Fuadi Al-Qur’an Membina Jiwa dan Moral Manusia Seutuhnya Kudus: Menara Kudus, 1994
Syarif, Adnan Psikologi Qur’ani Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, Cet. I.
Tafsir Dkk, Moralitas Al-Qur'an dan Tantangan Modernitas Yogyakarta: Gema Media, 2002, Cet. I.
Tarigan, Henry Guntur, Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa Bandung: Angkasa, 1985
Thaib, Ismail Risalah Akhlak Yogyakarta: CV. Bina Usaha, 1984

Tidak ada komentar:

Posting Komentar